Seminar Perkembangan Sosial-Budaya dalam Pembangunan Nasional yang diselenggarakan oleh LIPI pada tahun 1970 menyimpulkan bahwa sikap mental orang Indonesia umumnya belum siap untuk pembangunan. Sejak saat itu mulai diperkenalkan kepada masyarakat ramai pendekatan sosio-kultural terhadap pembangunan. Koentjaraningrat, guru besar dalam antropologi budaya pada beberapa universitas terkemuka di Indonesia serta mempunyai reputasi internasional di bidang kebudayaan merupakan salah seorang tokoh budayawan terkemuka Indonesia yang pada waktu itu mulai memperkenalkan pendekatan kultural terhadap pembangunan. Buku Kebudayaan, Mentalitet dan Kebudayaan” ini sebagian besar merupakan rangkaian karangan ilmiah populer yang pernah ditulisnya pada harian Kompas dengan judul: Kini Sering Orang Bertanya, pada awal tahun 1974. Di samping itu masih ada karangan lain yang merupakan reportase perjalanannya ke Jepang[1].
Pada awal buku ini Koentjaraningrat melempar isu tentang apa sebenarnya isi dari kebudayaan. Banyak orang yang mengartikan konsep kebudayaan dalam arti yang terbatas/sempit, bahwa kebudayaan ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Sebaliknya, banyak juga orang terutama para ahli ilmu sosial, mengartikan konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas, yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Karena begitu luasnya analisa tentang konsep kebudayaan itulah, perlu ada unsur-unsur yang disepakati bersama, yang merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini. Itu semua dirangkum dalam unsur-unsur kebudayaan universal, antara lain:
- Sistem religi dan upacara keagamaan
- Sistem dan organisasi kemasyarakatan
- Sistem pengetahuan
- Bahasa
- Kesenian
- Sistem mata pencaharian hidup
- Sistem teknologi dan peralatan
Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan itu minimal mempunyai tiga wujud, yaitu:
- Wujud ide: wujud kebudayaan sebagai suatu komplek dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dsb.
- Wujud kelakuan: wujud kebudayaan sebagai suatu komplek aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
- Wujud fisik: wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Selanjutnya, Koentjaraningrat juga membahas tentang apa yang disebut dengan sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Menurut kerangka yang dikembangkan seorang ahli antropologi Clyde Kluckhohn, semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia itu, sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia, yaitu:
- Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (MH)
- Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (MK)
- Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (MW)
- Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (MA)
- Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)
Lalu, apa yang dimaksud dengan mentalitet? Mentalitet bukanlah suatu konsep ilmiah yang artinya sudah fix, istilah itu adalah suatu istilah sehari-hari dan biasanya diartikan sebagai keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menganggapi lingkungannya.
Selanjutnya dibahas tentang kelemahan sifat mentalitet bangsa Indonesia dalam pembangunan. Menurut Koentjaraningrat, kelemahan-kelemahan tersebut adalah:
- Sifat mentalitet yang meremehkan mutu
- Sifat mentalitet yang suka menerabas
- Sifat tidak percaya kepada diri sendiri
- Sifat tidak berdisiplin murni
- Sifat tidak bertanggung jawab
Koentjaraningrat memberikan tentang mentalitet nilai budaya yang harus dimiliki oleh suatu bangsa yang ingin mengintensifkan usaha pembangunan, antara lain:
- Nilai budaya yang berorientasi masa depan, ini akan mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan masa depannya dengan lebih teliti.
- Nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam, ini akan menambah kemungkinan inovasi, terutama inovasi dalam teknologi
- Nilai budaya yang menilai tinggi (achievement) hasil karya dari manusia, dan pada akhirnya dapat mewujudkan mentalitet berusaha atas kemampuan sendiri, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab.
[1] Diambil dari http://www.gramediashop.com. Kamis 17 November 2011, pukul 17.00 WIB
Buku ini sudah seharusnya dibaca oleh para pelaku di bidang kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, pertanahan dan terutama para wakil rakyat, pemerintah dan pengambil kebijakan. sebagai referensi bahwa hutan kita yang kaya ini bila dikelola dengan baik, akan dapat mewujudkan cita-cita bangsa yaitu tercapainya kesejahteraan rakyat yang berkeadilan. Buku ini menggugah kita bahwa sumber daya alam yang merupakan milik rakyat, yang dititipkan pengelolaannya kepada negara melalui perusahaan pemerintah. Namun yang terjadi adalah pengelolaannya telah menyimpang sehingga mengarah pada penguasaan sumber daya alam yang semena-mena, sehingga berdampak pada pemelaratan rakyat disekitarnya.
Peluso menguraikan sejarah kebijakan kehutanan negara yang dirancang untuk mengendalikan dan mengawasi penggunaan kawasan hutan, jenis pohon tertentu, tenaga kerja dan ideologi di Jawa, serta tanggapan penduduk desa hutan terhadap pengendalian yang diterapkan. Di tengah penerapan desentralisasi, Perhutani melanjutkan posisi sejarahnya sebagai “tuan tanah negara” yang kaya dengan hubungan yang rumit dengan masyarakat setempat. Dalam buku ini, Peluso juga menceritakan tentang bagaimana perlawanan rakyat petani di Jawa Tengah yang hidup di wilayah desa hutan, yakni desa-desa yang berada di dalam hutan produksi yang diklaim oleh negara ataupun yang berada di dekat hutan tersebut. Ketika membaca buku ini, ada dua kata yang segera muncul untuk menggambarkan pengelolaan hutan dan dampaknya. Pertama, ahistoris dan yang kedua ahumanis (tidak humanis).
Ahistoris karena dari kisah yang diangkat Peluso, sangat terlihat bahwa pemerintah ‘lupa’ bahwa jauh-jauh hari sebelum dinas didirikan, sudah ada masyarakat yang tinggal di wilayah hutan yang ia klaim sebagai miliknya. Dengan kata lain hutan sesungguhnya bukanlah ruang kosong yang bisa dialokasikan begitu saja untuk sebuah kepentingan.
Di banyak kasus, disebutkan oleh Peluso, negara seringkali mengingkari legitimasi sistem hak kepemilikan yang ada sebelumnya atas lahan dan sumberdaya alam lain berbasis tanah, sehingga negara dengan semena-mena menetapkan hubungan-hubungan baru dengan sarana-sarana produksi tersebut. Negara juga mengabaikan asal-mula penataan penduduk berdasarkan ruang dan konteksnya, misalnya dengan melihat bahwa peledakan menduduk sebagai penyebab rusaknya hutan tanpa mau mengerti apa yang mempengaruhi pengguna lahan untuk mempunyai banyak anak ataupun menebang pohon.
Menjadi ahistoris juga, karena perhutani sebagai organisasi yang dibentuk untuk menyejahterakan rakyat melalui pengelolaan sumber daya hutan tidak belajar dari masa lalu. Bentuk-bentuk pengelolaan hutannya tidak berbeda dengan masa penjajahan, yang melihat hutan sebagai sesuatu yang netral dari manusia. Lebih menarik lagi karena sekilas Peluso menceritakan bagaimana konsep hutan yang scientific, yang netral dari manusia itu muncul. Semuanya bermula dari kepentingan kaum feodal di Eropa untuk menjaga kepentingan wilayah buruannya.
Pengelolaan hutan scientific ini menihilkan manusia. Hutan ada untuk hutan saja. Cerita Peluso tentang Kasran seorang rimbawan yang pernah dikepung masyarakat di tahun 1984 dengan sangat baik menggambarkan keadaan tersebut. “Sikap mental masyarakat harus dibenahi supaya sesuai dengan kebutuhan hutan. Kami harus mendidik mereka. Masalahnya bukan hutan. Masalahnya ialah bahwa orang-orang lapar tanah…saya harus katakan bahwa kami ini (perhutani) bukan organisasi kesejahteraan sosial. Kami ini perusahaan dan bidang usaha kami adalah konservasi.
Di sisi lain, adalah tugas seluruh bangsa untuk merawat hutan.” Dikatakan pula bahwa Kasran terus menerus bercerita bahwa penduduk desa tidak mau mengerti ‘arti dan fungsi hutan’. Hutan harus bersih dari manusia. Ini berarti ahumanis. Untuk mengupayakan hutan yang bersih dari manusia ini, lalu beragam cara yang lebih tidak manusiawi dilakukan. Mulai dari penggunaan kata-kata yang berkonotoasi negatif sehingga memanipulasi opini publik seperti penduduk desa hutan ‘menduduki’ (tanah negara); ‘mencuri’ (kayu milik negara); ‘menyabotase’ reboisasi dan sebagainya.
Masyarakat diposisikan sebagai kriminal dan penjahat. Akibat dari tindakan ini, menurut Peluso, negara menjadi tidak mampu membedakan antara ‘pencolengan’ hutan atau ‘kejahatan’ hutan sebagai bentuk protes (bagian strategi petani untuk bertahan hidup) dengan pencurian hasil hutan yang semata demi kejahatan itu sendiri atau demi keuntungan pribadi.
Masyarakat yang berusaha bertahan hidup dengan melakukan ‘pencurian’ ini pun dimanfaatkan oleh pasar dan terjebak di dalam lingkaran pasar itu. Saya jadi ingat kisah seorang teman yang pernah beberapa waktu hidup dengan para ‘pembalak’ kayu di hutan Jambi. Para ‘pembalak’ ini awalnya adalah transmigran yang tertipu, mereka datang dari Jawa tetapi ketika sampai di Sumatera, tanah yang dijanjikan ternyata tidak ada. Karena butuh uang untuk melanjutkan hidup keluarganya, mereka menerima ajakan seorang cukong untuk menebang kayu di hutan. Kayu yang mereka dapat lalu dijual kepada si cukong.
Namun sialnya, si cukong rupanya berkawan dengan jagawana. Oleh si cukong, mereka dipaksa untuk tetap menebang pohon dan menjual hasilnya hanya kepada si cukong tersebut atau jika tidak, si cukong akan melaporkan mereka kepada jagawana karena telah menebang pohon di hutan. Maka terus-terusanlah orang-orang ini memotong kayu dan bersembunyi dari kejaran jagawana yang sesungguhnya tahu apa yang mereka lakukan.
Para ‘pembalak’ kayu ini beranak pinak di hutan, tidur di bawah pohon-pohon besar yang diceritakan sangat rimbun bahkan matahari pun tidak dapat masuk. Anak-anak mereka liar saja. Untuk menghindari jagawana, mereka hidup berpindah-pindah. Teman saya suatu saat ditegur agar tidak merokok di malam hari, karena jagawana akan melihat cahayanya bahkan dari jarak kiloan meter.
Cara lain yang ditempuh untuk membersihkan hutan dari manusia adalah dengan cara-cara kekerasan, paramiliter, jagawana yang bersenjata api. Peluso bercerita, sebenarnya ada kontradiksi di dalam diri penjaga-penjaga hutan ini. Mereka tidak ingin bertindak kejam seperti penjaga-pejaga hutan di masa penjajahan, namun apa daya, seringkali yang menjadi faktor keberhasilan mereka adalah, seberapa banyak pohon yang dapat berdiri di wilayahnya. Mereka terlatih untuk menjaga pohon dan bukan untuk mendistribusikan kesejahteraan dari hasil hutan kepada masyarakat di sekitar.
Begitu banyak kasus tentang kekerasan yang terjadi. Mmisalnya di wilayah taman nasional – meski ini bukan wilayah perhutani, namun merupakan salah satu wujud dari hutan scientific – terhadap masyarakat yang hidup di dalam atau di sekeliling taman tersebut. Misalnya, kasus dua petani di Taman Nasional Ujung Kulon yang ditembaklumpuhkan oleh jagawana lantaran membawa dahan kayu, yang menurut mereka sebenarnya sudah jatuh. Kedua orang ini lalu diadili dan dikenakan penjara selama satu bulan, padahal tidak ada satupun saksi yang bisa memberatkan mereka dengan melihat mereka menebang pohon itu. Tembak dan penjara selain merupakan bentuk pendekatan yang tidak manusiawi, juga tidak menyelesaikan masalah.
Peluso juga bercerita bahwa para mantri hutan juga ‘terjebak’ secara kultural, ketika masyarakat agraris melihat sebagai patron baru, akan tetapi mereka tidak punya kemampuan penuh untuk memenuhi harapan warga akibat pengelolaan yang birokratis. Persaingan sektoral juga mewarnai kerumitan pengelolaan hutan, pertanian atau kehutanan. Padahal rakyat di pinggiran hutan melihatnya sebagai satu kesatuan untuk keberlangsungan hidup.
Membaca buku dari Peluso, sebenarnya yang muncul adalah gugatan terhadap negara. Untuk siapa sebenarnya negara ini ada? Representasi siapakah dia? Pada awalnya saya ingat kepada hak asasi manusia, bahwa negara berkewajiban untuk menghormati dan melindungi serta memenuhi hak asasi manusia (termasuk didalamnya adalah petani). Namun jika negara berada pada posisi berhadap-hadapan dengan warga negaranya sendiri, tentu tidak tepat jika mengharapkan mereka mengakui kewajiban tersebut. Peluso sendiri menawarkan perubahan perimbangan kekuasaan di desa sebagai jawaban, tetapi tentunya menurut dia, ini mengharuskan pembalikan seluruh alur dan menentang tema serta struktur pembangunan di Indonesia. Buku yang ditulis pada tahun 1992 ini merupakan sebuah studi mengenai ekologi politik, mengambarkan fenomena ekonomi politik, kekuasaan, kewenangan dan institusi termasuk perilaku oportunistik berbagai pihak dalam pengelolaan hutan di Jawa sejak jaman kolonial hingga saat ini. Dimana masyarakat dan hutan menjadi korban. Walaupun penuh dengan politik yang rumit, argumen dan narasi sejarah dalam buku ini masih relevan hingga kini.
Dalam buku Geger Tengger karya Robert Hefner ini digambarkan sejarah tentang keadaan di Pegunungan Tengger, Kabupaten Pasuruan, sejak jaman kejayaan Hindu di Jawa sampai periode awal Orde Baru. Pada awal buku ini, Hefner menggambarkan eksistensi Hinduisme di Jawa sampai dengan saat keruntuhannya. Yang ternyata tidak berpengaruh pada eksistensi Hinduisme Tengger. Selanjutnya Hefner menyoroti pasang surut ekonomi di Tengger akibat dari pergantian penguasa maupun politik, yang pada akhirnya membawa perubahan sosial budaya di Tengger. Buku ini diakhiri dengan suatu konflik sosial politik walaupun unsur agama juga masuk dalam pertarungan ini. Bagi antropolog, buku ini memberikan suatu pandangan tentang agama dan politik di Indonesia sekaligus pencarian wacana civil society di bangsa yang beragam agamanya.
Petani gunung yang sederhana sulit dikatakan sebagai pewaris kejayaan Hindu Jawa, karena tidak mengenal kasta, tidak punya keraton, kesenian yang halus, dan kelas aristokrat. Pada akhir abad ke 19 setelah jalan-jalan mulai dibangun, interaksi antara masyarakat pegunungan dengan masyarakat di dataran rendah mulai intensif. Pedagang-pedagang (tani bakul) yang sering berinteraksi dengan masyarakat dataran rendah yang lebih Islami dan sedikit simpati terhadap adat istiadat masyarakat pegunungan mulai berdatangan seiring dengan jalur transportasi yang telah terbuka. Hal ini menjadi awal perubahan masyarakat pegunungan yang lebih Islam dan berjenjang.
Pegunungan Tengger yang berada di wilayah Pasuruan, pada masa Kerajaan Majapahit menjadi tempat penting dalam hal ritual agama Hindu. Ada beberapa analisis yang menyatakan kalau Tengger ini menjadi tempat pelarian orang-orang Hindu Majapahit ketika Islam mulai masuk ke Jawa. Perkembangan Islam yang terus intensif pada masa Mataram semakin menggeser kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, sehingga orang-orang yang anti Mataram melarikan diri ke Tengger ini dengan membawa ideologi termasuk agamanya.
Kontak awal masyarakat Tengger dengan Belanda terjadi ketika penumpasan Trunajaya yang memberontak kepada Mataram dan mundur kearah Tengger ini. Sebelum datangnya Islam, Kerajaan Singasari didirikan diujung paling barat pegunungan Tengger sampai akhirnya mampu direbut Kediri, dan kemudian direbut kembali serta memindahkan keratonnya lebih ke barat dan dinamakan Majapahit. Pada masa selanjutnya muncul pemberontak baru di Mataram yang dipimpin oleh Surapati. Dia sempat mendirikan pusat kekuasaannya di Pasuruan sebelum akhirnya dapat dikalahkan pasukan Mataram bersama VOC.
Kerajaan Balambangan merupakan kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Tengger dan Bali menjadi aliansinya yang anti Mataram Islam. Ketika Balambangan mampu diislamkan oleh Mataram, Hinduisme Jawa hanya terdapat pada masyarakat petani di Tengger. Selanjutnya penyerahan pantai utara Jawa ke VOC kompensasi atas penumpasan pemberontakan Mataram, membuat Pasuruan berada di bawah bayang-bayang kolonial. Pada awalnya Tengger menjadi lahan kolonial untuk menanam sayuran sebagai komoditas mereka dalam pemenuhan kebutuhan. Menjelang tanam paksa pada tahun 1828, kecamatan Tengger dihuni oleh duaribuan orang saja yang kebanyakan adalah orang Jawa Hindu.
Pembagunan jalur transportasi di Tengger telah membawa pengaruh besar begi perubahan masyarakatnya. Pembukaan lahan baru serta perdagangan telah menghubungkan antara wilayah atas dan wilayah bawah. Permintaan hasil pertanian di wilayah bawah dari wilayah atas menjadi salah satu penyebabnya. Penduduk Cina dan Eropa merupakan konsumen utama hasil sayur-sayuran dari wilayah atas. Pada tahun 1920an orang-orang Cina, Jawa, dan madura mulai membuka toko-toko di sekitar tengger. Masyarakat Tengger sedikit antipati terhadap mereka, dan hanya lebih toleran terhadap orang Cina daripada orang Jawa dan Madura.
Menurut Hefner, pegunungan Tengger telah berada di tengah-tengah revolusi perdagangan yang sesungguhnya, yang dibuka jalannya oleh kelas pedagang makmur baru. Ketika terjadi krisis ekonomi ditahun 1930an, pedagang di wilayah atas tidak begitu terpengaruh dan masih melanjutkan kegiatn ekonominya. Kepemilikan tanah dan ketenagakerjaan di Tengger sejak abad 19 dibentuk oleh sejumlah institusi. Pemerintah kolonial menguasainya dengan merubah ekonominya. Kebijakan Belanda dengan memindahkan banyak orang luar ke daerah Tengger dengan janji tanah pertanian, membentuk suatu wilayah pemerintahan. Penarikan paja tenaga kerja kepada pemilik tanah menjadi salah satu alasannya.
Pada masa pendudukan (penjajahan) Jepang, awalnya masyarakat pegunungan Tengger (khususnya) menerima kedatangan jepang dengan baik. Akan tetapi kemudian dengan kebijakan tentara Jepang yang semakin kejam membuat mereka menderita. Beban berat kerja paksa dan penanaman pohon Jarak yang ditanggung membuat banyak orang muda yang melarikan diri ke daerah bawah. Setelah merdeka terdapat sedikit kelegaan dan mulai bangkit kembali situasi ekonomi pegunungan.
Konflik politik yang terjadi di Jawa pasca jatuhnya orde lama dan PKI sarat akan kekerasan. Jawa Timur merupakan basis NU secara keseluruhan, dan Pasuruan menjadi basis paling kuat karena banyak pesantren yang didirikan di sana. PKI yang memang berhaluan kiri lebih dianggap sebagai ateis oleh kalangan NU maupun Masyumi. PNI yang lebih nasionalis ternyata juga penuh akan korupsi. NU yang sudah memisahkan diri dengan Masyumi sejak tahun 1950an menjadi kekuatan Islam yang besar di Jawa. Konflik ini diawali ketika berakhirnya orde lama dan diganti oleh orde baru dan hancurnya PKI di Indonesia. Orde baru melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa PKI yang masih ada. Hal ini diikuti oleh organisasi muslim yang ada di Jawa Tengah, kemudian diikuti pula oleh pemuda Muslim Jawa Timur, Ansor, yang merupakan organisasi NU. Walaupun begitu sebagian besar organisasi Islam mendukung atas penyerangan dan pembunuhan orang-orang PKI ini.
Gerakan pembersihan PKI ini juga terjadi di Pasuruan, dan tersiar rumor bahwa golongan kejawen yang didukung oleh PNI juga akan diserang. Kelompok kejawen yang berada di lereng tengah pegunungan Tengger panik dan menunda segala upacara ritual pemujaan dhanyang, bahkan peminat Jumatan bertambah banyak. Hal itu dilakukan untuk menghindari kecurigaan orang dataran rendah (NU) agar tidak menyerang mereka. Tersiar kabar pula bahwa konflik yang terjadi adalah konflik agama, tetapi ternyata bahwa organisasi Muslim lebih memilih PKI sebagai sasarannya. PKI di daerah lereng atas yang Hindu malah cenderung sedikit, tokoh-tokoh PKI didominasi oleh para pedagang-pedagang yang berasal dari dataran rendah. PNI yang mendukung kejawen dan dimusuhi oleh NU, dimanfaatkan oleh NU untuk mendata tokoh-tokoh PKI karena PNI banyak anggotanya yang menjadi pamong desa. Kekerasan berdarah ini berlangsung beberpa pekan, walaupun memang yang melakukan organisasi Muslim khususnya NU akan tetapi dibalik semua itu peran militer dan polisi sangat besar.
Hefner secara khusus menjelaskan bahwa konflik berdarah ini adalah buatan dari penguasa negara. Hal itu juga bisa terlihat dari uraian di atas bahwa hanya PKI yang menjadi sasarannya sehingga tidak bisa dikatakan sebagai konflik agama. Akibat dari pertentangan politik (kepentingan penguasa tadi) membawa perubahan besar dalam masyarakat pegunungan Tengger. Di lereng atas orang-orang Hindu tidak dipaksa masuk Islam. Akan tetapi terdapat pembaharuan ritual dan doktrinal dalam konteks nasional sesuai dengan peraturan negara atas agama. Begitu juga di daerah lereng tengah, semakin berkurangnya kejawen dan meningkatnya kegiatan-kegiatan masjid.
Dalam buku ini Hefner menjelaskan bagaimana terjadi proses terjadinya perubahan sosial di pegunungan Tengger, terutama stratifikasi yang semakin mencolok antara petani kaya dan petani miskin. Digambarkan pula pada tahun 1960-an, petani pegunungan mengalami kemandegan dan krisis, akibat dari kebijaksanaan yang datang dari luar serta merosotnya keadaan ekologis, bukan karena irasionalitas petani atau watak tradisional yang pekat. Pada tahun 1970-an revolusi hijau yang digalakan pemerintah dapat meningkatkan produktifitas, namun tidak dapat menghentikan erosi yang terjadi di pegunungan. Jadi, selain terdapat perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat Tengger, perubahan juga terjadi pada keadaan alam di pegunungan Tengger.
Orang asli Minangkabau dan Batak Toba sebagian besar sama-sama berprofesi sebagai petani sawah, namun mereka tidak hanya terlibat pertanian persawahan, tapi juga pertanian berpindah secara ekstensif. Suku Minangkabau dan Batak Toba, secara intern terbagi dalam kelompok kekerabatan menubuh, yang menjadi pemilik dan pengendali tanah dan merupakan struktur politik desa. Dalam masyarakat Minang dan Batak Toba, hamper tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi seperti di Jawa, Bali dan Kerajaan Pesisir lainnya.
Desa minang pada pokoknya merupakan suatu perserikatan dari kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen kecil, yang masing-masing punya suatu bagian tanah pertanian. Klen kecil ini mempunyai satu pimpinan (pangulu), yang mempunyai kekuasaan atas tanah dan tindak-tanduk kaum kerabatnya.
Pemilikan tanah menjadi fungsi inti dari klen kecil ini, dan amat sedikit yang dimiliki secara pribadi. Suku membagi-bagi tanahnya kepada keluarga dalam suku, bila satu keluarga punah, maka tanahnya akan kebali menjadi hak milik suku. Ada tiga jenis hak milik dalam masyarakat Minangkabau. Pertama, harto pusako, yaitu harta yang dimiliki berdasarkan garis keturunan. Kedua, harto pencarian, yaitu harta yang dimiliki karena usaha sendiri, dan hanya dimiliki oleh pemiliknya sampai meninggal. Ketiga, harta ulayat, yaitu harta yang dimiliki nagari, yang berupa hutan-hutan yang mengelilingi desa.
Pemerintahan desa Minangkabau dibagi menjadi dua jenis sistem. Pertama, demokratis, dimana keputusan dibuat oleh dewan, yang terdiri dari pangulu dari semua klen kecil yang ada. Kedua, otokratis, dalam system ini klen-klen kecil mempunyai ikatan, dan membentuk empat suku utama yang masing-masing dipimpin oleh pangulu andiko atau pangulu kepala. Salah satu dari pangulu andiko ini menjadi pangulu pacu’ yaitu pimpinan tertinggi di desa yang menentukan suatu keputusan. Namun kedua jenis system ini kurang tepat juga bila digolongkan menjadi demokratis dan otokratis, karena pada kedua system ini, keputusan diambil setelah diadakan pembicaraan terbuka dikalangan pangulu.
Pangulu dalam sebuah klen mempunyai pangkat yang amat dihormati, ia dipilih dari calon-calon yang dianggap paling mampu untuk memimpin, baik karena kemampuan pribadi, kekayaan, maupun kekuatan moral yang dimilikinya. Seorang pangulu melambangkan ambisi suku untuk membangun prestise dalam desa.
System hubungan keluarga dalam suku Minangkabau adalah matrilineal, dimana garis keturunan, maupun hak atas tanah diperhitungkan melalui garis ibu. Yang berkuasa atas seluruh keluarga bukanlah suami, tapi saudara laki-laki dari istri yang disebut dengan mama’. Ia bertanggung jawab atas saudara perempuan dan anak-anaknya.
Hampir semua masyarakat Minang beragama Islam. Ini justru menawarkan fleksibelitas pada struktur kemasyarakatan Minang, terutama pada titik lemahnya, yaitu pemuda. Pemuda dalam desa dalam posisi yang tidak enak, ia hanya pasif sampai diminta kawin oleh keluarga perempuan, dan agar tawaran itu datang, ia harus membuktikan kemampuan dan watak moralnya. Sedangkan dalam keluarganya sendiri ia hanya mempunyai status yang kurang penting, posisi-posisi penting sudah diisi oleh orang-orang yang lebih tua. Sehingga lebih baik baginya untuk belajar ke sekolah Islam dan kembali sebagai ahli ilmu pengetahuan yang dihormati. Pilihan lain adalah pergi keluar daerah untuk bekerja, dan kembali sebagai orang yang sukses. Itulah bukti dari kemampuannya, sehingga ia dapat berhasil dalam hal adat istiadat, mengharumkan nama anggota-anggota sukunya, yang pada akhirnya ia dapat memakai gelar kehormatan sukunya. Jadi dapat dikatakan bahwa merantau adalah suatu keharusan bagi pemuda Minang.
Perubahan lain adalah radikal dalam pertanian. Dari pertanian yang cukup hanya untuk makan, menjadi pertanian yang berorientasi komersil seperti kopi, karet, dan kelapa. Selain itu ada perubahan dalam memandang harto pusako dan harto pencarian. Harta pencarian artinya diperluas sedemikian rupa, sehingga walaupun pemilik pertama telah meninggal, harta itu tetap dimiliki secara pribadi. Sedangkan harto pusako, jumlahnya semakin berkurang, karena setelah dibagi-bagi kepada keluarga-keluarga yang berhak, banyak yang dijual.
Sama dengan suku Minang, orang Batak Toba juga mengalami kebangkitan masyarakat tanpa mengorbankan susunan kecil tradisionalnya. Hanya saja, model pertanian tradisional dan hak kepemilikan atas tanah tidak mengalami perubahan. Orang Batak Toba lebih mengintensifkan hasil sawah mereka (padi) untuk dijual ke pasar Sumatera Timur yang semakin berkembang.
Orang Batak Toba, awalnya mendiami lembah-lembah pegunungan dekat Danau Toba, dan semakin menyebat ke dataran rendah di Sumatera Timur. Disana mereka berdampingan dengan kelompok Batak lainnya, seperti Batak Karo, Batak Angkola, Batak Mandailing. Mereka berbicara dengan berbagai dialek Batak yang berbeda. Beberapa diantara mereka saling tidak mengerti satu sama lain. Kelompok-kelompok Batak ini mempunyai sistem kekerabatan yang sama, yang berbeda adalah adaptasi ekologisnya. Batak Toba adalah kelompok yang paling dekat hubungannya dengan persawahan.
Pemukiman Orang Batak Toba biasa disebut dengan nama huta, merupakan sekelompok rumah ditengah sawah. Dulu huta merupakan desa tersendiri yang lengkap. Tapi sekarang masyarakat pokok adalah rangkaian yang lebih besar dari pemukiman yang tersebar dan dihubungkan dengan rapat oleh hubungan kekerabatan. Anggota desa merupakan sejumlah klen patrilineal, yang terdiri dari klen-klen kecil setempat yang merupakan keluarga pemilik tanah. Apabila suatu daerah sudah terlalu banyak penduduknya, maka sekelompok orang yang ada hubungan kekerabatan pindah menuju daerah baru, dan mengklain tanah peetanian sekitarnya sebagai hak milik mereka. Keluarga yang pertama membuka tanah disebut sebagai marga raja dan dianggap punya hak asli atas seluruh daerah desa. Mereka tetap mempertahankan nama marga, namun tidak berhak lagi atas tanah di desa asal.
Seperti pada orang Minang, hubungan tanah dan kelompok keturunan pada Orang Batak Toba bukanlah hubungan hak milik seperti dalam hukum Barat, tapi merupakan hubungan pengawasan moral. Kelompok keturunan menggunakan bidang-bidang tanah tertentu sebagai hak milik mereka dan bertanggung jawab agar masing-masing individu dalam klen mempunyai tanah untuk digarap.
Sistem hubungan keluarga orang Batak Toba adalah patrilineal. Jadi dalam huta ada sejumlah keluarga yang menganggap bahwa mereka memiliki hubungan patrilineal. Tempat tinggal setelah perkawinan adalah patrilokal atau desa suami. Orang Batak Toba mempunyai solidaritas yang kuat, baik antara teman-teman seketurunan maupun kaum kerabat yang dihubungkan oleh tali perkawinan.
Keterasingan orang Batak Toba, mulai hiloang pada pertengahan abad ke-19, bersama dengan masuknya penyiar agama Protestan dan pemerintahan Belanda, juga dengan dibukanya perkebunan di dataran rendah Sumatera Timur. Kurang lebih setengah dari orang Batak Toba beragama Kristen. Gereja memperkenalkan bentuk organisasi kemasyarakatan yang baru. Desa-desa yang berdekatan dikumpulkan dalam satu sekolah gereja, sehingga huta yang tadinya merupakan dunia kecil yang berdiri sendiri diganti menjadi masyarakat setempat yang lebih luas. Hal itu diperkuat oleh Belanda yang memperkenalkan pemerintahan dengan kesatuan wilayah yang lebih luas. Huta dan desa disatukan menjadi kampung atau negari administratif. Kepala dari kampung ini dipilih dari orang-orang yang memenuhi syarat-syarat jabatan, termasuk pengetahuannya tentang dunia luar. Dari sini muncul bentuk kepemimpinan yang baru. Para petani Batak Toba pada umumnya tidak lagi mengakui keabsahan hak istimewa kemasyarakatan turun menurun dari marga raja. Sehingga setiap orang punya kesempatan yang sama untuk naik.
Perubahan lain, adalah perpindahan besar-besaran orang Batak Toba dari dataran tinggi menuju dataran rendah untuk menjadi petani liar, dengan menduduki tanah-tanah bekas perkebunan perusahaan penjajah. Mereka kemudian mengklaim berhak untuk tetap tinggal disana berdasarkan hukum adat. Orang Batak Toba bukan satu-satunya yang menyerobot tanah perkebunan itu. Tapi ada juga orang Jawa yang sebelumnya banyak menjadi buruh di perusahaan perkebunan tersebut, Melayu Pantai, dan Minang. Di desa yang baru itu, ada orang Batak Toba yang membuat rumah secara terkumpul dan saling berhadapan seperti di desa asli mereka di daerah pegunungan. Tapi secara keseluruhan masyarakat desa merupakan kesatuan masyarakat yang terpecah-pecah oleh perbedaan etnis.
Referensi: Aneka Warna Masyarakat Indonesia, karya: Hildred Geertz
BAB 1 “JATUH DARI LANGIT, MENGANGKASA DARI BUMI: KELAHIRAN ILMU ALAM TENTANG MASYARAKAT”
Sejarah mencatat begitu banyak tentangan masyarakat, terutama pihak gereja, atas teori-teori sosial yang dikemukakan oleh para ilmuan sosial di masa lalu. Bab ini menjelaskan dua penyebab utama hal ini bisa terjadi. Pertama, adanya perbedaan kehidupan sosial antara masyarakat Eropa dengan masyarakat luar Eropa dalam hal perkawinan, rumah tangga, ritus-ritus upacara dan agama, peperangan, senjata, pengertian keadilan, maupun mas kawin. Kedua, tentangan yang lahir dari perhatian teoritis, terutama dari pihak gereja Kristiani di Eropa tentang teori sosial dan ekonomi yang disampaikan ilmuan sosial di masa itu.
Max Webber menyebut masalah dasar yang dihadapi masyarakat Eropa saat itu sebagai the problem of evil, yaitu bagaimana Tuhan Yang Maha Sempurna bisa menciptakan dunia yang tidak sempurna. Lovejoy berusaha menjawab pertanyaan itu dalam opusnya The Great Chain of Being, dengan mengambil gagasan Saint Augustine yang disebutnya sebagai principle of plentitude, yang berisi ide bahwa satu hal yang maha sempurna mempunyai keharusan memperluas dirinya sendiri ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang ada dengan cara menghasilkan dunia pengalaman dan inderawi yang beragam dan yang kelihatannya tidak begitu sempurna. Walaupun demikian, gagasan ini menimbulkan kebingungan bagi banyak pihak, termasuk saya, berulang-ulang saya membaca tapi gagasan plentitude memang cukup sulit untuk dimengerti.
Pada bab ini juga dibahas tentang berkembangnya ilmu tentang masyarakat yang dipelopori oleh dua tokoh besar dalam ilmu sosial, yaitu Thomas Hobbes dan John Locke.
Hobbes berpendapat bahwa manusia dalam hidupnya mengejar apa yang disebutnya sebagai felicity, yaitu maksimalisasi dari kenikmatan (pleasure) dan minimalisasi dari kesengsaran (pain). Untuk mendapatkan felicity tersebut, individu manusia memanfaatkan manusia lainnya. Dari hal itu Hobbes menyatakan bahwa masalah utama dari masyarakat adalah bagaimana menciptakan keteraturan dalam masyarakat itu sendiri yang terdiri dari berbagai individu yang egois. Lebih lanjut Hobbes menyatakan bahwa tidak ada konsepsi dalam pikiran manusia, baik secara keseluruhan maupun secara sebagian, yang awalnya tidak berasal dari organ panca indera. Pemikiran Hobbes tentang masyarakat dipengaruhi oleh metode kepastian geometri milik Euclid dan ilmu alam tentang gerak (motion) milik Galileo dalam kaidahnya tentang inertia.
Locke, tokoh besar yang pemikirannya secara garis besar sama dengan Hobbes, menentang adanya ide bawaan (innate ideas). Ia berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman dan nalar pikirannya karena manusia merupakan makhluk cerdas. Namun, Locke melalui prinsip probabilitasnya juga menyatakan bahwa mungkin saja ada makhluk yang lebih cerdas daripada manusia yang hidup di alam semesta ini. Perhatian lain Locke tertuju pada masalah bahasa. Ia juga menganggap bahwa bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan masyarakat sebagai satu pertalian sosial. Masalah tentang bahasa yang rumit dirumuskan Locke sebagai propriety, yaitu penggunaan bersama dari bahasa dapat memiliki manfaat untuk berkomunikasi secara lisan, namun tetap memiliki kekurangan. Masalahnya tidak ada satu standar yang pasti dan sama dari mana ide kata yang terucap itu, sehingga dapat menimbulkan salah pengertian saat bahasa tersebut digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
BAB 2 “TRANSFORMASI DARI AGAMA KE MORALITAS, POLITIK DAN EKONOMI”
Tulisan-tulisan para pengamat ekonomi politik pada abad ke-18 berisi tentang gagasan psikologi bahwa manusia dikendalikan oleh gairah nafsu (passion), dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap masyarakat adalah bagaimana kemungkinan untuk tetap dapat mempertahankan gairah nafsu dengan cara menekannya atas nama satu kebajikan yang lebih tinggi. Namun banyak orang meyakini bahwa, walaupun sulit untuk dikendalikan, gairah nafsu manusia itu justru harus digunakan satu sama lain agar dapat melahirkan hasil yang bermanfaat bagi masyarakat. Dapat dikatakan bahwa penggunaan dan pembenturan satu per satu berbagai gairah nafsu manusia dalam rangka melahirkan suatu hasil yang diinginkan merupakan dasar di balik berbagai teori rasionalitas yang berbeda-beda itu. Teori rasionalitas, dengan tokoh-tokohnya seperti Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, Adam Smith, dan Francois Quesnay, menciptakan satu cara baru dalam melihat gejala masyarakat dan kebudayaan, sekaligus menggoreskan satu bidang tersendiri yang sekarang ini disebut dengan istilah ekonomi.
Pemisahan disiplin “ekonomi” dengan disiplin lainnya bisa terwujud apabila pokok bahasan ekonomi sudah dapat dirasakan dan dipandang orang sebagai suatu sistem dengan suatu keutuhan tersendiri yang bersifat menyeluruh dan mempunyai konsistensi internal di dalam dirinya sendiri. Quesnay dan para pengikutnya, Physiocrat, merupakan para pemikir yang banyak meletakkan dasar penting bagi konsistensi internal bagi disiplin ekonomi.
Tableau economique yang dikembangkan Quesnay adalah suatu teori sosial-cum-politik yang berlaku umum dan berazaskan pada hukum alam yang lazim dianut di dalam sudut pandang suatu penekanan kuat pada dimensi ekonomisnya, yang pada keseluruhannya kemudian dirajut ke dalam suatu sistem yang logis. Quesnay merumuskan definisinya tentang hukum alam: “Hukum-hukum alam bersifat fisik maupun moral. Kita mengartikan hukum alam disini sebagai peredaran biasa dari berbagai peristiwa fisik tatanan alam yang memberikan begitu banyak keuntungan bagi makhluk manusia. Dan kita mengartikan hukum moral sebagai aturan bagi setiap tindakan manusia dari satu tatanan moral yang sesuai dengan tatanan fisik yang memberikan begitu banyak keuntungan bagi makhluk manusia itu. Kesemua hukum ini membentuk apa yang diistilahkan sebagai hukum alam”.
Bagi Quesnay, unsur utama dari kekayaan yang sesungguhnya (real wealth) adalah pertanian. Hal ini karena hanya dalam sektor pertanian nilai surplus nampak jelas terlihat manakala produksi hasil bumi kotor setiap tahunnya dapat dibedakan secara jelas dari hasil bumi bersih dan dikurangi semua biaya investasi untuk menggarap tanah tersebut. Pusat perhatian lain dari Quesnay adalah upaya mereformasi praktek-praktek negara yang tercela, sehingga reformasi baginya, berarti suatu situasi dimana negara tidak ikut andil di dalam perkara-perkara ekonomi.
Pandangan ukum tentang dunia yang dikemukakan Locke menggambarkan alam semesta dibagi ke dalam tiga tingkatan: Tuhan, makhluk manusia, dan makhluk rendah lainnya, dimana kesetaraan hanya ada di lapisan makhluk manusia, sedangkan pertalian antara lapis yang lebih tinggi dan yang lebih rendah ditanggapi berazaskan pada hubungan kepemilikan. Konsep kepemilikan (property) menempati posisi penting dalam pemikiran politik Locke. Secara lebih rinci, kepemilikan dalam pemikiran Locke meliputi pengertian yang sangat luas dan mencakup: kehidupan, kebebasan, dan estate (tingkatan hidup yang telah dimiliki) seseorang.
Dalam pemikiran Locke ada semacam sintesis antara moralitas dengan politik, dan juga antara politik dengan ekonomi. Locke mereduksi politik hanya menjadi elemen tambahan yang marjinal sifatnya dari moralitas dan ekonomi. Padahal, moralitas dan ekonomi menjadi penopang sekaligus basis yang kokoh dimana politik harus dikonstuksikan. Pemikiran Locke menggambarkan benturan antara ideologi lama (hierarki sosial) yang mulai runtuh dengan ideologi baru (individualism) yang belum sepenuhnya terbentuk. Jadi inti dari pemikiran politik Locke adalah bahwa dengan mengartikan semua kepemilikan dalam arti luas (termasuk kehidupan dan kebebasan) berasal dari dalam diri individu, ia tidak hanya mensejajarkan atau menyamakan ekonomi dengan politik, melainkan membuat ekonomi menduduki tingkatan yang lebih tinggi daripada politik.
Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral sentiments menegaskan bahwa ciri utama dari manusia adalah melekatnya sentiment dalam diri manusia. Berdasarkan sentiment itulah, bentuk simpati antara satu individu dengan individu lainnya dapat ditumbuh-kembangkan. Smith berpendapat bahwa manusia sebagai social individuality, harus mengembangkan simpati satu sama lain.
Sejak masa Descartes, permasalahan utama yang dihadapi filsafat modern iala permasalahan tentang constitution of self dan pertanyaan tentang impartiality (tanpa kepentingan atau nir pamrih). Dalam teori tentang konstitusi diri, Smith menggunakan suatu pendekatan inter-subjektif. Smith memulai eksplorasinya dengan pertanyaan berkenaan dengan konstitusi diri orang lain, yaitu, bagaimana kita mengenali dan memahami orang lain, yang mau tak mau mencakup juga pertanyaan apa yang kita pahami dari orang lain.
Menurut Jacques Lacan ada dua tradisi berkenaan dengan konstitusi diri. Pertama adalah tradisi Cogito yang dikembangkan oleh Rene Descartes, mengembangkan teorinya dengan menggunakan diri sendiri sebagai titik pijakannya. Kedua adalah tradisi Mirror yang dikembangkan oleh Gottfried Leibniz, mengembangkan teorinya dengan menggunakan diri orang lain sebagai titik pijakan utamanya. Perbedaan antara kedua tradisi ini merupakan persoalan epistemologis sekaligus ontologism tentang kondisi manusia itu coba diatasi oleh Smith.
Titik pijakan Descartes dalam teorinya tentang konstitusi adalah diri sendiri (self) berangkat dari dalil cogito ergo sum (saya berpikir, oleh karena itu saya ada). Oleh karena itu teori Descartes dapat dikatakan merupakan self-referential theory tentang konstitusi diri. Dalam mengkonstitusikan dirinya, seseorang tidak membutuhkan referensi apapun dari orang lain. Sedangkan Smith berpijak pada pada orang lain (other self). Prinsip utama teori Smith adalah melihat diri sendiri sebagaimana layaknya orang lain melihat diri kita. Pada dasarnya teori Smith adalah teori cermin tentang diri sendiri.
Teori Smith dipengaruhi oleh Teori Cermin Leibniz. Leibniz merumuskan Teori Cermin dalam tingkat yang sangat metafisik dan sangat mendasar. Kesamaan Teori Cermin Leibniz dan Smith terletak pada perhatian keduanya terhadap preposisi dialetik Stoik yang menegaskan bahwa semua substansi, termasuk monad, adalah bersifat partikular, namun berhubungan dan saling berhubungan satu sama lain. Namun, berbeda dengan Leibniz, Smith sangat menolak konsepsi Stoik tentang Pradestinasi (takdir) sifat buruk (vice) dan kebaikan (virtue), maupun tentang haromoni yang telah diberikan dan temantapkan sebelumnya. Sedangkan perbedaanya dengan Leibniz, Smith hanya menerapkan Teori Cerminnya bagi makhluk hidup, dan membatasi hanya kepada makhluk hidup yang telah mengembangkan sedikit banyaknya suatu kapasitas intelektual.
Smith berpendapat bahwa makhluk manusia mampu untuk berkomunikasi dengan bantuan kemampuan simpati yang dimilikinya, yang dalam kerangka teori Smith selalu dikaitkan dengan konsepsi tentang persepsi dan imajinasi. Smith mendifinisikan dunia internal manusia sebagai cermin dunia sosia maupun dunia alami yang bersifat histories dan eksternal. Menurutnya, karakter individual setiap makhluk manusia mencerminkan baik situasi material, situasi relasi social, maupun situasi alami yang terdapat dalam suatu masyarakat pada masa tertentu. Dalam teori Smith, untuk memahami orang lain dan mengkonstitusikan orang lain, kita harus menempatkan diri kita ke dalam situasi orang lain melalui kemampuan imajinasi yang kita miliki.
Smith membuat dua penegasan penting dalam pendekatan teoritisnya tentang cermin. Pertama, ia mendefinisikan orang lain sebagai sumber dari berbagai nilai yang kita anut. Kedua, proses yang sama terjadi juga dalam kaitannya dengan diri kita sendiri. Orang lain mengembangkan nilai mereka dengan cara mengamati bentuk, perilaku dan penampilan kita. Melalui perspektif yang bersifat dialektikal dan dialogikal inilah memungkinkan prosies social dari objektifikasi pengetahuan dapat secara terbuka sungguh-sungguh terjadi dalam realitas kehidupan kita sehari-hari. Hal ini penting bagi ahli antropologi yang ingin mengehui bagaimana satu kebudayaan dianut bersama (a shared culture) mungkin terwujud dan terobjetifikasikan de dalam berbagai tindakan dan interaksi para pelaku yang menjadi pendukung kebudayaan tersebut.
Pemikiran Smith dalam Wealth of Nation jelas menampakan perubahan drastis dibandingkan dalam The Theory of Moral Sentiment, saat ia membeberkan bahwa aktifitas ekonomi merupakan suatu aktifitas manusia yang tidak membutuhkan apapun selain kecintaan terhadap diri sendiri (self-love): hanya dengan mengejar kepentingian diri sendiri itulah, manusia sesungguhnya tanpa sengaja telah bekerja demi kebaikan bersama. Dalam The Wealth of Nations Smith menyatakan gbahwa “universal opulence” (kekayaan universal) merupakan ciri utama dari bangsa-bangsa beradab (civilized). Kekayaan atau kemakmuran menembus hingga lapisan terendah dalam masyarakat, yang merupakan konsekuensi dari produktivitas tenaga kerja manusia (labour). Lebih lanjut Smith menyatakan, bahwa kerja manusia merupakan satu-satunya alat ukur yang universal dan akurat dari nilai, atau satu-satunya standar melalui mana kita dapat membandingkan berbagai komoditas yang berbeda di semua tempat dan waktu. Lapisan masyarakat yang termiskin dalam masyarakat “beradab” melalui penbagian kerjanya akan jadi berkecukupan bila dibandingkan dengan para bangsawan di masyarakat yang belum “beradab”.
Dari hal inilah muncul konsep Invisible Hand yang kemudian lebih dikenal dengan istilah natural harmony of interest, yakni penilaian moralitas mulai dimungkinkan untuk diabaikan dan digantikan oleh self-love. Menurut Smith, manusia dalam berinteraksi dengan manusia lain, menggunakan dua modus dalam mengkonstitusikan diri oran lain. Yang pertama impartial spectator without, pelaku menggunakan penilaiannya berdasarkan pada prinsip what is, atau apa yang secara kenyataannya terjadi, ialah yang orang-orang yang terpaku pada kecenderungan untuk mendapatkan pujian semata. Kedua, impartial spectator within berdasarkan pada prinsip what ought to be, atau apa yang seharusnya, ialah orang yang memiliki kecenderungan tidak hanya untuk mendapatkan pujian, melainkan ingin mewujudkan dirinya sebagai suatu objek yang tepat dari pujian tersebut.
Smith merujuk pada konsep authenticity, bahwa kita semua tidak hanya berkeinginan dicintai orang lain, melainkan berkeinginan juga memang patut dicintai karena memang memiliki kualitas cinta itu sendiri. Atas dasar ini maka Smith beranggapan bahwa penilaia hati nurani (impartial spectator within) harus ditempatkan lebih tinggi daripada impartial spectator without. Dengan impartial spectator within, manusia dapat menemukan criteria normatif lain dalam menilai intensionalitas situasi yang sedang dihadapi, sehingga peningkatan diri (self-betterment) untuk perbaikan (improvement) dapat terjadi dan terealisasi.
Smith menyatakan sumber motivasi dari perilaku manusia bersifat heterogen, yang berarti tidak mudah direduksi pada beberapa prinsip tertentu saja. Tidak mungkin terwujudnya tindakan kebajikan tanpa kegairahan; tanpa rasa takut, tidak mungkin dapat dijelaskan dorongan untuk pertahanan diri (self-defense) dan kehati-hatian; tanpa rasa marah, tidak mungkin dapat dijelaskan dorongan untuk menghukum (to punish); tanpa kehormatan (pride), tidak dapat dijelaskan harga diri (self-esteem); tanpa kekaguman (wonder), tidak akan timbul pengetahuan. Tidak masuk akal menyatakan berbagai kegairahan jiwa tersebut dapat ditata secara hierarkis tanpa mengaburkan dan mereduksi kompleksitas warna-warni kehidupan manusia yang unik itu. Tujuan Smith adalah untuk mendemonstrasikan bahwa hakekat alam dunia mendorong kita untuk menemukan berbagai kebaikan di dalam semua kegairahan jiwa manusia dan tidak ada satu pencermatan terhadap kebaikan tatanan hidup masyarakat yang dapat mengabaikan pertimbangan tersebut. Dalam kerangka berpikir Smith, kegairahan jiwa manusia disebut sebagai gairah mementingkan diri sendiri yang harus dicermati dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan situasi spesifik tertentu.
Dalam Wealth of Nations, Smith menyatakan dalam komersial ada semacam dorongan lain terhadap self-betterment yang memiliki fungsi memberikan suatu dasar yang baik bagi perluasan sistem perdagangan dan manufaktur. Prinsip tersebut mengayomi lahirnya pembagian kerja yang kemudian memberikan dinamika bagi kehidupan sosial dengan cara menyediakan energi yang dapat menimbulkan sumber daya demi keberlangsungan kesejahteraan sosial semua orang. Wealth of Nations berupaya mendemonstrrrasikan bahwa usaha menghilangkan berbagai hambatan terhadap tenaga kerja, harga, dan persediaan barang akan melahirkan kebebasan serta keluasan kepentingan diri (self-interest) yang akhirnya melahirkan kesejahteraan bagi semua orang.
BAB 3 “KARL MARX: KETEGANGAN ANTARA KEBEBASAN DAN KENISCAYAAN MANUSIA”
Pada awal bab ini dijelaskan tentang pemikiran dari Immanuel Kant. Kant menegaskan bahwa tidak mungkin ada satu ilmu pengetahuan tentang moral, ataupun pengetahuan tentang masyarakat sebagai sesuatu yang juga bersifat moral, karena moralitas berada dan berlangsung dalam kebebasan, sehingga prinsip atau kaidah pengetahuan ilmiah tidak mungkin dapat diaplikasikan dalam bidang itu. Kant membuat pemisahan radikal antara teori dengan praktek. Teori disebut sebagai theoretical reason, merupakan cara untuk memahami realitas fenomenal melalui ilmu pengetahuan, sedangkan praktek yang disebutnya sebagai practical reason, merupakan ranah dari filsafat moral, dan tidak mungkin dapat berlandaskan pada teori. Hal inilah yang kemudian coba disingkirkan oleh Hegel. Ia berpendapat bahwa penalaran tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dihasilkan analisis sebagai pemahaman teoritis, tapi lebih sebagai sebuah proses melalui cara mana subjek manusia dapat masuk merasuki alam dan sejarah.
Dalam pemikiran Hegel, penalaran adalah proses realisasi atau manifestasi bertahap di dalam realitas. Lebih lanjut, ia menegaska bahwa penalaran mencakup kebebasan, kebebasan yang dimaksud adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk bertindak dan membentuk realitas, membentuk alam berdasarkan potensi yang dimilikinya. Ada dua hal utama tentang sejarah dunia dari pemikiran Hegel. Pertama, Hegel mengembangkan sejarah dunia yang didalamnya kebudayaan manusia bermunculan, berkonflik satu sama lain, dan digantikan oleh kebudayaan yang telah mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi dengan cara menyatukan berbagai tingkat perkembangan kebudayaan yang ada sebelumnya. Kedua, Hegel banyak memberikan pendapat tentang Negara, ia menganggap negara birokratik modern sebagai perwujudan tertinggi dari penalaran.
Teori pertama Marx yang pertama kali dilontarkan merupakan sebuah kritik terhadap karya Hegel Philosophy of Right. Pemikiran tersebut terinspirasi oleh tulisan-tulisan Feuerbach, ia mengungkapkan bahwa filsafat Hegel hanya satu bentuk lain dari religi, hanya satu proyeksi fantastic tentang Tuhan ke dalam ranah pemikiran tentang kekuasaan dan realitas. Dalam kerangka filsafat antropologis Feurbach, proyeksi fantastik itu pada dasarnya hanyalah proyeksi esensi manusia sendiri. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citra ideal mereka sendiri, dan lalu memperlakukan ciptaan mereka sendiri sebagai Tuhan mereka dan berlutut dihadapannya.
Menurut Marx, konsepsi Hegel adalah sebuah konsepsi yang berasal dari religi tradisional. Negara modern, yang dianggap Hegel sebagai bentuk representative dari pemerintahan, serta konstitusi dan demokrasi dengan berbagai fungsi apparatus birokratik dan instrument yang sempurna untuk mencapai finalisasi orang banyak sebagai citizen sebagai satu kesatuan yang menyeluruh (masyarakat sipil), menurut Marx, tidak lebih dari satu bentuk lain dari alienasi yang menyebabkan atribut manusia sebagai satu keseluruhan ditransformasikan kepada hanya satu kelas khusus tertentu. Marx lebih lanjut, menganggap agama adalah keluh kesah dari makhluk yang tertindas, sentiman dari dunia tanpa hati, jiwa dari kondisi yang tidak berjiwa, itu adalah candu dunia. Kritik terhadap agama ini merupakan kritik awal terhadap kondisi masyarakat yang tidak menawarkan kebahagiaan sejati, melainkan hanya ilusi dari kehidupan manusia, dimana agama merupakan lingkaran keramatnya.
Pemikiran Marx terhadap proses perubahan melalui proses revolusi kelas melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) sebuah kelas revoluioner bangkit; (2) bergabung dengan keseluruhan masyarakatnya; (3) merepresentasikan dirinya sebagai pemenang atas nama masyarakat secara keseluruhan untuk melawan kelas lain yang menindas; (4) saat mereka berhasil menghancurkan kelas yang menindas, maka kesetaraan akan terwujud.
Marx mengolah pengertian bahwa alienasi bukan dalam ari sebagai sesuatu yang berasal dari keberadaan private property, tapi berasal persepsi para pekerja, yang kemudian menghasilkan kapitalis. Terendahkan secara psikologis dan moral, si pekerja menciptakan para kapitalis sebagai sebuah proyeksi akan kebutuhan batinnya sendiri atas dominasi.
Mark dan Engels menolak gagasan filsafat spekulatif ala Hegel yang mengabaikan situasi materiil yang merupakan tempat dimana pikiran filsafat dilahirkan dan dikembangkan. Mereka menjelaskan bahwa manusia menghasilkan peralatan untuk hidup. Produksi peralatan untuk hidup ini hanya dapat muncul dengan bertambahnya jumlah penduduk, yang kemudian juga sangat tergantung pada interaksi antara satu individu yang satu dengan individu lainnya. Bentuk dari interaksi ini juga pada akhirnya ditentukan oleh produksi. Jadi kehidupan manusia sangat terkait dengan proses sirkulasi dari produksi, social intercourse, dan relasi sosial yang mendasarinya. Dalam karyanya Capital, Marx membahas bagaimana keseluruhan sistem dari pengupahan (wages) dan relasi pasar diinstitusionalisasikan sedemikian rupa, sehingga semua orang berperilaku berdasarkan pada sistem itu, dan anehnya kemudian mereka menanggapi semua itu sebagai bagian dari alam itu sendiri.
Dari keseluruhan pemikiran Marx, teori utuh darinya adalah:
ü Sejarah dari masyarakat manusia dimanapun merupakan sejarah dari pertarungan kelas (antara kelas proletar melawan kelas borjuis).
ü Kelas sosial yang terdiri dari himpunan berbagai individu yang memiliki fungsi yang sama dalam organisasi produksi.
ü Hakekat relasi produksi dari satu masyarakat dijelaskan berdasarkan tingkat perkembangan dari daya produksinya (productive forces) yang biasanya diartikan sebagai peralatan teknologi.
ü Konflik antar kelas sosial melekat secara inheren dalam masyarakatnya, karena masing-masing kelas sosial memiliki tingkat control yang berbeda atas berbagai alat produksi.
ü Setiap pola tertentu dari relasi produksi dan kekuatan produksi menghasilkan pola kelas dan relasi sosial tertentuyang keseluruhannya membentuk satu formasi sosial tertentu.
ü Perubahan terjadi dalam tingkat relasi produksi dan manakala ini terjadi maka relasi sosial dan kelas menjadi kadaluarsa, sehingga kelas revolusioner (kaum proletar) akan tampil ke muka untuk melaksanakan sebuah tindakan politik untuk mengenyahkan si penindas yang berasal dari kelas yang dominan (kaum borjuis).
ü Kelas revolusioner itu akhirnya menjadi kelas yang menindas sampai revolusi final dari kelas pekerja industrial tersebut menjelma menjadi sebuah instrument yang berhasil menyingkirkan kelas itu sendiri untuk selama-lamanya. Jadi, pada akhirnya kelas revolusioner ini akhirnya dapat menciptakan masyarakat tanpa kelas.
Irian Barat merupakan daerah yang sangat menarik untuk dikaji ilmu antropologi. Dalam buku Koentjaraningrat “Penduduk Irian Barat”, daerah pedalaman Irian Barat digambarkan masih sangat tertinggal, bahkan belum mengenal teknologi logam. Pengetahuan teknologi masyarakat Irian Barat tidak berkembang sebelum pertemuannya dengan orang Eropa karena lebih dikarenakan letak geografis dari Irian Barat itu sendiri. Masyarakat Irian Barat memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, meliputi cara hidup, agama-kepercayaan, sistem kekerabatan, bahasa, dan lain sebagainya. Di ranah kebudayaan inilah perkembangan masyarakat Irian Barat terjadi.
Pertemuan pertama penduduk pribumi Irian Barat dengan orang luar daerah mungkin terjadi saat sultan Tidore berusaha memperluas daerah kekuasaannya ke daerah tersebut. Kemudian bangsa Eropa yakni Spanyol dan Portugis pertama kali mulai menapaki Irian Barat pada abad ke-XV. Baru kemudian pada abad ke XVI Belanda melalui organisasi dagangnya Vereenigde Oost-Indische Compagnie sampai di Irian Barat, yang kemudian menganggapnya sebagai daerah jajahan.
Belanda mengadakan penelitian dan ekspedisi yang dilakukan oleh perwira dan anak buahnya untuk melihat kemungkinan perkembangan ekonomi di Irian Barat yang dapat menguntungkan negerinya. Mereka mengumpulkan keterangan-keterangan mengenai topografi daerah, keadaan tumbuh-tumbuhan dan penduduk pribumi Irian Barat. Selain penelitian oleh ekspedisi militer, sejak awal abad ke-XX ada pula penelitian oleh ekspedisi ilmiah yang dilakukan oleh berbagai badan ilmu pengetahuan untuk mempelajari ciri-ciri jasmaniah dan cara hidup penduduk pribumi. Anggota ekspedisi inilah yang merupakan orang-orang asing pertama yang berhubungan dengan penduduk pribumi di daerah pedalaman. Sejak pertengahan abad ke-XIX, para penyiar agama Nasrani juga mulai menyebarkan agamanya di Irian Barat. Pejabat-pejabat pemerintah jajahan Belanda baru ditempatkan di Irian Barat pada akhir abad ke-XIX. Para pejabat ini berkewajiban mengusahakan ketentraman dan perdamaian di kalangan penduduk sebagai syarat dalam melaksanakan pemerintahan yang wajar. Jadi, penyiar agama, peneliti, dan pejabat pemerintah inilah yang mempunyai peran besar dalam mempertemukan kebudayaan pribumi dengan kebudayaan dari luar Irian Barat. Merekalah sesungguhnya yang berusaha mempercepat proses akulturasi di Irian Barat.
Dalam buku ini disebutkan bahwa kita, sebagai orang Indonesia sebaiknya melihat proses-proses perubahan dalam masyarakat Irian Barat sebagai proses pertumbuhan kumpulan manusia-manusia yang akan mewujudkan negara Indonesia. Meskipun banyak terdapat perbedaan sosial dan kepentingan dalam masyarakat Irian Barat, namun dijumpai faktor-faktor yang semula tidak ada kemudian tumbuh sebagai akibat perpaduan kebudayaan masyarakat pribumi dengan kebudayaan yang berasal dari luar daerah Irian Barat. Kesadaran akan adanya faktor pemisah memungkinkan kita untuk berusaha menghindari timbulnya pertentangan dan konflik di kalangan penduduk. Sedangkan kesadaran akan adanya faktor penyatu memungkinkan kita memperkuat faktor tersebut dalam rangka usah mempercepat perkembangan negara Indonesia sebagai satu kesatuan yang kokoh. Contoh faktor penyatu tersebut adalah bahasa Indonesia, nama “Indonesia” dan bendera “Merah Putih” dan simbol-simbol persatuan lainnya yang juga akan menjadi bagian dari kebudayaan penduduk daerah Irian Barat. Kebudayaan masyarakat setempat tidak usah hilang. Kebudayaan tersebut hanya diperkaya dengan unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari luar Irian Barat, unsur-unsur kebudayaan yang mempersatukan penduduk Irian Barat dengan penduduk pulau lain di Indonesia menjadi satu kesatuan negara yang kokoh dan jaya.
Mayoritas masyarakat memandang bahwa antropologi hanya mempelajari bangsa-bangsa primitif. Tapi itu adalah pandangan lama yang keliru dari masyarakat dalam mengartikan ilmu antropologi. Mulai menjelang Perang Dunia II, antropologi berkembang pesat menjadi ilmu yang mempunyai tujuan untuk memehamai berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan manusia zaman sekarang.
Memang belum ada pandangan yang sama dari setiap negara dalam memahami tentang ilmu antropologi. Hal ini karena perbedaan kebutuhan setiap negara akan ilmu antropologi itu sindiri. Para ahli antropologi Indonesia harus dapat memberi warna dan ciri khas tersendiri pada ilmu antropologi di Indonesia tanpa meniru ilmu-ilmu antropologi di negara lain. Namun, himpunan konsep, metode dan teori dari negara-negara lain juga penting sebagai bahan komparasi untuk menganalisa aneka warna masyarakat dan kebudayaan manusia yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia masa kini, yaitu:
- Pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang demokratis
- Pembangunan ekonomi dan modernisasai
- Pembentukan persahabatan yang baik dengan negara-negara lain di dunia.
Dalam buku ini Koentjaraningrat juga menyebutkan kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang ahli antropologi dalam menjalankan tugasnya dalam memenuhi kebutuhan Indonesia masa kini, yaitu:
- Menguasai segala metode-metode penelitian dan analisa dari sub-ilmu entologi dan antropologi sosial
- Menguasai pengetahuan mengenai aneka warna masyarakat dan kebudayaan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke
- Menguasai dasar-dasar dari berbagai macam sub-ilmu antropologi, seperti paleo-antropologi, antropologi fisik, prehistori dan entolinguistik
- Mengetahui bahan etnografi mengenai masyarakat dan kebudayaan rakyat dari negara-negara lain
- Memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang ilmu-ilmu lain yang dekat dengan ilmu antropologi, seperti sosiologi, geografi, linguistik, sejarah, ekonomi dan lain-lain.
Tugas lain dari ahli antropologi Indonesia adalah membina pengetahuan dan pengertian rakyat tentang aneka ragam bentuk masyarakat dan kebudayaan penduduk di tanah air melalui pendidikan di sekolah-sekolah, maupun dalam kepustakaan dan bacaan-bacaan untuk masyarakat umum. Dalam hal ini, ilmu antropologi sudah sejak lama diajarkan pada sekolah-sekolah menengah di Indonesia. Tujuan utama dari pelajaran ilmu antropologi yang diajarkan di sekolah adalah memberi pengertia kepada pelajar dan masyarakat mengenai: (a) keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan dan di Indonesia, serta dasar persamaan yang ada di belakang keanekaragaman itu (bhineka tunggal ika), (b) masyarakat dan kebudayaan rakyat Indonesia di lapisan rakyat pedesaan, (c) masyarakat dan kebudayaan rakyat lain di daerah-daerah lain di dunia. Namun, kualitas dari pelajaran ilmu antropologi itu belum begitu baik, sehingga tujuan tersebut belum dapat tercapai. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pelajaran ilmu antropologi kepada pelajar kita di institusi pendidikan resmi pemerintah, dalam hal ini sekolah menengah, antara lain:
- Bahan-bahan pelajaran sebaiknya disesuaikan dengan sifat perhatian dan kemampuan menangkap dari para pelajar di tingkat sekolah menengah
- Bahan pelajaran sebaiknya disertai oleh sebanyak mungkin bahan visual dengan menyusun buku-buku pelajaran yang memuat sebanyak mungkin gambar, peta, bagan, dan sebagainya
- Para pelajar sebaiknya diberi tugas-tugas untuk mengupas gambar-gambar yang ada di dalam buku pelajaran tersebut, misalnya dengan mencari ornamen-ornamen tertentu, mengupas bentuk-bentuk pakaian adat, dan sebagainya
- Bahan pelajaran sebaiknya mula-mula dipusatkan pada bahan dari suku-suku di Indonesia, kemudian secara konsentris perhatian dikembangkan ke luar Indonesia, mulai dari negara-negara tetangga, dan seterusnya.
Oleh karena itu, diperlukan rencana pelajaran baru yang lebih baik untuk mencapai tujuan dari pelajaran ilmu antropologi. Rencana pelajaran yang lama tentu tidak dapat dirubah dalam waktu yang singkat. Hal itu karena keterbatasan sumber daya manusia dan sarana yang ada. Rencana pelajaran tentang ilmu antropologi yang baru juga tidak dapat tercapai sekaligus, tetapi secara berangsur-angsur dan konkrit, seperti:
- Dengan pertemuan-pertemuan para guru yang bertugas memberi pelajaran ilmu antropologi di sekolah menengah dengan para ahli dalam ilmu tersebut dan pimpinan inspeksi dari P.D.K. Dalam pertemuan ini, para guru yang secara konkrit berpengalaman dalam menghadapi pelajar di sekolah dapat mengajukan saran-saran mereka.
- Dengan menulis sebuah buku pelajaran baru dalam waktu secepat mungkin yang secara konkrit mengandung bahan menurut rencana pelajaran yang baru. Hendaknya buku itu tidak ditulis oleh satu orang, tetapi pembuatannya merupakan suati joit project, yang dikerjakan oleh suatu panitian yang terdiri dari guru, para ahli dan seniman-seniman.
- Dengan memberi anjuran kepada para ahli yang mengajar di perguruan pendidikan guru, untuk membekali calon-calon guru agar siap dengan rencana yang baru itu.
Ada dua perspektif yang berkembang tentang asal usul munculnya manusia modern. Pertama, Out of Africa (OA) dan Multiregional Evolution Model (MRE). OA berbasis pada data paleontologi dan bukti-bukti genetika. Data paleontologi terutama dikembangkan oleh Stringer dan Bräuer dengan teori Recent African Origin; dan African Hybridization and Replacement . Di sisi lain, MRE yang dipelopori oleh Wolpoff, Thorne dan Wu, berpendapat berlawanan dengan OA. MRE menyatakan bahwa manusia modern tidak hanya berasal dari Afrika, melainkan juga dari Eropa dan Asia. Artinya bahwa manusia modern m uncul di berbagai wilayah sebagai hasil evolusi dari populasi yang sudah ada sebelumnya (archaic population). Pada paper ini penulis akan fokus menguraikan teori para ilmuan yang menyatakan bahwa manusia pada awalnya berasal dari Benua Afrika yang kemudian menyebar ke seluruh dunia yang populer dengan istilah Out of Africa (OA).
Berdasarkan analisis morfologi pada fosil dari Afrika dan Eropa, Bräuer (1982) mengajukan teori Afro-European-sapiens hypothesis atau yang disebut juga African hybridization and replacement model. Dalam teorinya Bräuer menyatakan bahwa sedikitnya ada proses evolusi secara gradual dari awal sampai pada akhir archaic Homo sapiens yang pada akhirnya mengarah pada kemunculan awal dari anatomically modern Homo sapiens di Afrika pada akhir masa Pleistosin tengah dan Pleistosin atas. Studi tentang kemunculan populasi modern Eropa, Bräuer mengatakan bahwa anatomically modern Homo sapiens dari Afrika bermigrasi ke Eropa melalui Timur Tengah. Populasi pendatang dari Afrika ini kemudian semakin berkembang dan bertambah banyak serta menggantikan/menghapuskan populasi Neandertal yang telah hidup terlebih dulu di Eropa. Lebih jauh Bräuer menduga bahwa periode penggantian ini berlangsung ribuan tahun. Dalam masa ini diduga telah terjadi hibridisasi dalam derajat yang berbeda -beda (Bräuer, 1984). Dengan kata lain Bräuer menerima adanya hibridisasi antara populasi pend atang dan populasi asli. Pendapat Bräuer ini didukung oleh data genetik dari Krings et al. (1997). Hasil sekuensi mtDNA dari Neandertal yang ditemukan pada tahun 1856 di Jerman, menunjukkan bahwa hasil sekuensi Neandertal berada di luar variasi mtDNA manus ia modern. Dengan kata lain, Neandertal punah tanpa memberikan kontribusi mtDNA terhadap gene pool manusia modern (di Eropa). Artinya, kontinuitas genetik tidak terjadi di Eropa seperti yang dinyatakan oleh MRE.
Bräuer (1992) juga membandingkan karakteris tik morfologi antara archaic Homo sapiens dan anatomically modern Homo sapiens di Cina. Dia menemukan adanya beda morfologi antara Dali dan Maba dengan anatomically modern Homo sapiens . Bräuer tidak menemukan adanya fosil yang bisa menjembatani perbedaan (gap) morfologi ini. Temuan fosil di Asia Tenggara juga menunjukkan gap morfologi antara Ngandong dan spesimen dari Niah. Hasil pengamatan Santa Luca (1980, dalam Bräuer, 1992) pada spesimen Tabon dan Wajak juga menunjukkan perbedaan morfologi dengan Ngandong. Artinya bahwa di Australasia pun tidak ditemukan bukti kontinuitas genetik. Sebagai tanggapan terhadap studi tentang mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987), Stringer dan Andrew (1988) mengajukan hipotesis Recent African Origin yang intinya adalah sebuah test model mengenai Total replacement. Recent African Origin berbasis pada awal munculnya manusia modern di Afrika dan pada bukti genetik populasi hidup. Dalam test model ini Stringer dan Andrew menyatakan bahwa Afrika diduga adalah tempat yang tep at sebagai sumber berkembangnya manusia modern sekitar 100.000 tahun yang lalu yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah di luar Afrika. Berkenaan dengan transisi dari Neandertal dan manusia modern, Stringer (1992) berpendapat bahwa hibridisasi dan gene flow bisa jadi muncul, terutama di Eropa tengah. Sekalipun demikian Stringer menekankan bahwa adanya gene flow dan hibridisasi ini bukan berarti memberi pengaruh yang berarti terhadap gene pool manusia modern saat itu.
Berkaitan dengan perbandingan variasi morfologi di Asia, Stringer dan Andrew menyatakan bahwa fosil di Cina dari masa Pleistosin tengah (Yinkou dan Dali) menunjukkan perubahan menyerupai hominid dari Eropa dan Afrika, sehingga menunjukkan kontras dengan morfologi dari nenek moyangnya. Dengan demikian Stringer dan Andrew mempunyai pendapat sama dengan Bräuer bahwa tidak ada fosil yang diketahui yang bisa menjembatani gap morfologi pada periode ini (50.000 – 100.000 tahun lalu) yang mengindikasikan munculnya manusia modern dari Asia. Lebih jauh Stringer dan Andrew juga menekankan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti fosil hominid di kawasan Australasia dari masa Pleistosin akhir. Willandra Lakes yang selama ini dianggap sebagai bentuk transisi antara Homo erectus dari Indonesia dan populasi Australia modern juga bersifat patologis (Brown, 1999).
Model OA banyak didukung oleh bukti genetik. Studi mengenai mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987) berkesimpulan bahwa Afrika adalah sumber gene pool mtDNA manusia modern. Tidak ditemukan bukti percampuran mtDNA antara populasi pra m odern dengan manusia modern. Dengan kata lain bahwa Homo sapiens dari Afrika yang menggantikan atau menghapuskan populasi pra modern ini. Lebih lanjut Stoneking dan Cann (1989) menunjukkan berdasarkan penelitiannya bahwa di Afrika lah ada bentuk transforma si menuju manusia modern sekaligus sebagai pusat percabangan pertama menuju manusia modern. Sebagian populasi ini menyebar ke seluruh dunia sedangkan yang lain tinggal tetap dan menyebar ke seluruh Afrika. Tidak hanya data mtDNA yang menunjukkan bukti -bukti tentang OA melainkan juga Ychromosome dan DNA inti yang memperkuat hipotesis bahwa manusia modern mempunyai kesamaan genetik dengan populasi Afrika di masa lalu (Cann, 1992; 1994). Studi ini diperkuat oleh Horai et al. (1995) yang meneliti daerah D-Loop; Nei (1995) yang mengkonstruksi filogenetik manusia modern dari lima data frekuensi gen yang berbeda (microsatelite DNA set I, microsatelite DNA set II, RFLP data, protein polymorphism dan Alu insertion polymorphism data) dan Krings et al. (1999) yang meneliti HVR II pada Neandertal kaitannya dengan kontribusi gene pool manusia modern. Hasil dari berbagai studi ini menunjukkan recent common ancestor manusia modern berasal dari populasi di Afrika.
DAFTAR PUSTAKA
Bräuer, G., The Afro-Europeans Sapiens-Hypothesis and Hominid Evolution in Asian During the Late Middle and Upper Pleistocene, dalam (P. Andrews & J. Franzen, eds.) Cour. Forsch. Inst. Senckenberg. Vol 69: The early Evolution of Man with Spezial Emphasis on Southeast Asia and Africa. Frankfurt am Main, 1984.
Koerbardiati, Toetik. Teori-Teori Munculnya Manusia Modern. (Jurnal)
Stringer, C., Replacement, Continuity and the Origin of Homo Sapiens, dalam (G. Bräuer & Smith, F.H., Eds.) Continuity or Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution (Rotterdam: A.A. Balkema, 1992).
LATAR BELAKANG MASALAH
Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik. Secara umum adaptasi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
- Adaptasi Morfolog Adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup.
- Adaptasi Fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik.
- Adaptasi Tingkah Laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya.
Penelitian tentang bentuk-bentuk adaptasi ini telah banyak dilakukan, khususnya oleh peneliti-peneliti ilmu alam (biologi), terutama yang berobjek hewan dan tumbuhan. Penelitian-penelitian yang ada sebelumnya tersebut membuktikan bahwa hewan, tumbuhan, dan manusia purba Neanderthal, mampu beradaptasi terhadap berbagai lingkungan hidup maupun cuaca yang ekstrem. Penulis berpikir, bila makhluk hidup tersebut dapat beradaptasi dengan baik, apalagi manusia modern saat ini yang merupakan makhluk hidup dengan tingkat evolusi dan kesempurnaan yang paling tinggi secara fisik dan akal. Namun, penulis pada mata kuliah Antropologi Biologi akan mengkaji bentuk adaptasi-adaptasi tersebut pada manusia dalam perspeketif sosiologis antropologis, dengan menghubungkan proses-proses adaptasi tersebut dengan budaya hidup dan faktor-faktor penopangnya. Penulis akan membandingkan contoh kasus yang terjadi pada masyarakat miskin di daerah kumuh dan masyarakat menengah atas.
Pemenuhan kebutuhan makanan yang layak dan memenuhi persyaratan gizi masih menjadi masalah bagi masyarakat miskin yang merupakan mayoritas penghuni lingkungan kumuh. Terbatasnya kecukupan dan kelayakan mutu pangan berkaitan dengan rendahnya daya beli. Masyarakat di pemukiman kumuh mempunyai penghasilan yang pas-pasan, mungkin dengan penghasilannya tersebut mereka hanya dapat memenuhi kebutuhan makan mereka hanya satu kali sehari, atau mungkin mereka tidak dapat makan setiap hari, sekalipun mereka makan tetapi kualitas makanan yang mereka konsumsi belum tentu dapat dikatakan layak bagi manusia pada umumnya. Masyarakat di pemukiman kumuh banyak mengkonsumsi makanan bekas, mengais di tempat-tempat sampah untuk mencari makanan yang menurut mereka masih layak untuk dimakan. Sedangkan di tempat sampah itu seperti diketahui pastilah mengandung bakteri penyakit yang sangat banyak.
Kondisi kesehatan masyarakat di daerah kumuh juga menurut ilmu kesehatan menduduki derajat yang sangat rendah. Penyebab utama dari rendahnya derajat kesehatan masyarakat daerah kumuh selain ketidakcukupan pangan adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi.
Tempat tinggal yang sehat dan layak merupakan kebutuhan yang masih sulit dijangkau oleh masyarakat kumuh. Secara umum, masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat kumuh adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat dan layak huni, namun karena ketidak mampuannya tersebut mereka harus hidup di lingkungan dengan mutu lingkungan pemukiman yang rendah.
Khususnya di daerah perkotaan, keluarga miskin sebagian besar tinggal di perkampungan yang tidak layak dan sering satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu keluarga. Data yang penulis ambil dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2010 rata-rata 30% rumah tangga di perkotaan tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak. Data BPS lain menunjukkan pada tahun 2003 ada 17 Kabupaten/Kota termasuk daerah dengan jumlah keluarga lebih dari 19.000 yang bertempat tinggal di bantaran sungai dan permukiman kumuh[1]. Kondisi permukiman mereka juga sering tidak dilengkapi dengan lingkungan permukiman yang memadai. Untuk mendapatkan tempat bermukim yang sehat dan layak, mereka tidak mampu membayar uang muka untuk mendapatkan kredit pemilikan perumahan sangat sederhana dengan harga murah mereka juga tidak mampu.
Masyarakat miskin sering menghadapi kesulitan untuk mendapatkan air bersih. pada tahun 2010 BPS mencatat hampir 60% daerah perkotaan tidak mempunyai sumber air bersih yang layak[2]. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air, belum terjangkau oleh jaringan distribusi, menurunnya mutu sumber air, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya air bersih dan sanitasi untuk kesehatan.
Masyarakat miskin perkotaan yang tinggal di permukiman kumuh dan pinggiran sungai menghadapi kesulitan untuk dapat menjangkau layanan PDAM sehingga masih banyak masyarakat yang memanfaatkan air sungai dan sumur galian yang sudah tercemar untuk keperluan rumah tangga. Masyarakat miskin juga menghadapi masalah buruknya sanitasi dan lingkungan permukiman terutama yang tinggal di kawasan kumuh. Kondisi sanitasi dan lingkungan yang buruk berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan mereka terutama anak-anak dan ibu. Selain itu, masyarakat miskin juga kurang memahami pengelolaan sanitasi dan lingkungan hidup sebagai bagian dari perilaku hidup sehat.
Dari berbagai masalah-masalah di atas, menyebabkan kondisi kesehatan masyarakat kumuh sangatlah buruk. Namun, di balik semua itu, terdapat suatu bentuk respon dari tubuh masyarakat di daerah kumuh untuk dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi-kondisi di atas. Selain itu mereka juga mensiasati keadaan tersebut dengan segala pola tingkah laku agar tetap dapat eksis di tengah berbagai kekurangan tersebut.
Seperti diketahui bahwa, sampai saat ini masyarakat di daerah kumuh terus berkembang pesat, dalam hal populasi, di luar faktor urbanisasi. Mereka dapat dengan cepat berkembang biak, walaupun kondisi lingkungan yang boleh dikatakan tidak memungkinkan untuk tetap menjaga keberlangsungan hidupnya. Bahkan, bila menurut teori-teori dari ilmu tentang kesehatan itu berlaku, seharusnya masyarakat yang hidup di lingkugan kumuh sudah seharusnya dengan mudah punah, karena kondisi kesehatan yang rentan dengan penyakit, namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.
Berbeda dengan kondisi masyarakat golongan menengah ke atas. Makanan yang mereka konsumsi biasanya sudah terjamin kebersihannya, kandungan gizi dalam makanan juga biasanya menjadi perhatian mereka. Mereka menjadi sangat ketat dalam menentukan kriteria makanan yang akan mereka konsumsi. Dalam hal akses pelayanan kesehatan, mereka akan mendapat pelayanan yang memadai bila sedikit saja mengalami sakit. Mereka dapat langsung menuju rumah sakit, yang biaya ongkos pengobatannya jelas tidak akan mudah dijangkau oleh masyarakat miskin.
Bila dibandingkan dengan kondisi perumahan masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, jelas kondisi perumahan di lingkungan kumuh tidak ada apa-apanya bila dinilai tentang kelayakannya dalam hal kesehatan. Akses terhadap ketersediaan air bersih dan sarana sanitasi yang sehat, jelas bukanlah masalah yang sulit dalam perumahan masyarakat menengah ke atas.
Namun kondisi fisik dan daya tahan tubuh dari kedua golongan masyarakat ini sepertinya akan berbeda jika dihadapkan pada suatu kondisi lingkungan yang sama di luar lingkungan hidup mereka. Dengan pola-pola adaptasi yang dikembangkan oleh tubuh dan adaptasi tingkah laku sebagai makhluk hidup tersebut, maka penulis mempunyai hipotesis bahwa walaupun hidup di lingkungan yang kulitasnya lebih rendah, daya tahan tubuh masyarakat miskin di daerah kumuh justru lebih kuat dan tangguh daripada masyarakat golongan menengah ke atas yang terbiasa hidup sehat dan tinggal di lingkungan yang sehat pula.
POKOK PERMASALAHAN PENELITIAN
Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintahan kita, hampir sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Belum lagi masalah tata kota yang semrawut, menyebabkan lingkungan kumuh tersebar di berbagai sudut kota. Kebijakan pemerintah mengenai tata kelola lingkungan yang tidak berjalan semakin memperburuk keadaan lingkungan perkotaan. Masih banyak industri yang membuang limbah sembarangan tanpa melihat akibat yang akan ditimbulkannya. Demikian pula kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan juga masih sangat rendah akibat pendidikan mengenai kesehatan lingkugan yang rendah.
Di tengah kesemrawutan tersebut ternyata masyarakat miskin di daerah kumuh masih dapat eksis mempertahankan hidupnya. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, permasalahan pokok yang akan diteliti oleh penulis adalah:
- Bagaimana budaya hidup masyarakat yang dikembangkan masyarakat miskin untuk tetap eksis di tengah lingkungan kumuh yang tidak sehat?
- Bagaimana adaptasi tubuh secara fisiologi maupun morfologi masyarakat miskin di daerah kumuh merespon keadaan lingkungan dan asupan makanan yang tidak higienis dalam rangka mempertahankan keberlangsungan hidupnya?
- Bagaimana perbedaan dan perbandingan daya tahan tubuh antara masyarakat miskin yang tinggal di daerah kumuh dengan masyarakat menengah atas yang tinggal di perumahan yang layak secara kesehatan apabila dihadapkan dengan suatu keadaan lingkungan yang sama?
TUJUAN PENULISAN
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat atas pertanyaan-pertanyaan yang telah di ungkapkan dalam pokok permasalahan di atas, yaitu:
- Menganalis budaya hidup masyarakat yang dikembangkan masyarakat miskin untuk tetap eksis di tengah lingkungan kumuh yang tidak sehat
- Menganalis adaptasi tubuh secara fisiologi maupun morfologi masyarakat miskin di daerah kumuh merespon keadaan lingkungan dan asupan makanan yang tidak higienis dalam rangka mempertahankan keberlangsungan hidupnya
- Mengidentifikasi perbedaan dan perbandingan daya tahan tubuh antara masyarakat miskin yang tinggal di daerah kumuh dengan masyarakat menengah atas yang tinggal di perumahan yang layak secara kesehatan apabila dihadapkan dengan suatu keadaan lingkungan yang sama.
TINJAUAN PUSTAKA
C. Michael Barton, Julien Riel-Salvatore, John M. Anderies, Gabriel Popescu. Modeling Human Ecodynamics and Biocultural Interactions in the Late Pleistocene of Western Eurasia. Human Ecology. 2011
Pemodelan komputasi yang digunakan adalah untuk meneliti bukti pada bagaimana kelompok-kelompok hominin berevolusi secara kultur dan biologis dalam menanggapi perubahan iklim selama Zaman Es terakhir, juga memberi wawasan baru tentang kepunahan Neanderthal. Rincian percobaan pemodelan kompleks yang dilakukan di Arizona State University dan University of Colorado Denver ini akan dipublikasikan dalam edisi Desember 2011 jurnal Human Ecology.
Untuk lebih memahami ekologi manusia, dan terutama bagaimana kebudayaan dan biologi manusia berevolusi secara berdampingan di antara pemburu-pengumpul di zaman Pleistocene Akhir di Barat Eurasia (kurang lebih 128.000-11.500 tahun yang lalu), tim peneliti merancang kerangka teoretis dan metodologis yang memasukkan umpan balik pada tiga sistem evolusioner: biologis, budaya dan lingkungan. Salah satu hasil ilmiah yang menarik dari penelitian ini, yang mempelajari budaya dan lingkungan yang mendorong perubahan-perubahan perilaku penggunaan lahan, adalah bahwa hal ini menunjukkan bagaimana Neanderthal bisa menghilang bukan karena mereka kurang bisa bertahan dibandingkan semua hominin lain yang ada selama glasial terakhir, namun karena perilaku mereka yang sama canggihnya dengan manusia modern.
Tim peneliti interdisipliner menggunakan data arkeologis untuk melacak perubahan perilaku di Barat Eurasia selama 100.000 tahun dan menunjukkan bahwa mobilitas manusia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, mungkin dalam menanggapi perubahan lingkungan. Menurut Barton, Zaman Es terakhir menyaksikan para pemburu-pengumpul, termasuk Neanderthal dan nenek moyang manusia modern, dalam rentang yang lebih luas di seluruh Eurasia mencari makanan selama perubahan besar iklim bumi.
Para ilmuwan menggunakan pemodelan komputer untuk menjelajahi konsekuensi evolusi dari perubahan-perubahan tersebut, termasuk bagaimana perubahan dalam pergerakan Neanderthal dan manusia modern menyebabkan mereka untuk berinteraksi dan kawin silang menjadi lebih sering.
Studi ini menawarkan bukti lebih lanjut bahwa Neanderthal lebih fleksibel dan berakal dari asumsi sebelumnya. Neanderthal telah membuktikan bahwa mereka mampu menyesuaikan diri dalam berbagai kesulitan dan ketika bertemu dengan lebih banyak manusia modern, mereka beradaptasi lagi. Tapi manusia modern mungkin melihat Neanderthal sebagai pasangan. Akibatnya, dari waktu ke waktu, Neanderthal terhapus sebagai populasi yang dikenali secara fisik.
Untuk mencapai kesimpulan mereka, para peneliti menjalankan program komputer untuk setara dengan 1.500 generasi, menunjukkan bahwa Neanderthal dan manusia modern memperluas rentang tahunan mereka, Neanderthal secara perlahan diserap oleh manusia modern yang lebih banyak hingga mereka menghilang sebagai populasi yang dikenali.
Peneliti menguji hasil pemodelan ini terhadap catatan arkeologi empiris dan menemukan adanya bukti bahwa Neanderthal, dan manusia modern, mengadaptasikan perilaku mereka dalam cara di mana kami memodelkannya. Pemodelan ini memprediksi jenis tingkat rendah campuran genetik gen Neanderthal yang ditemukan dalam penelitian genetik terbaru yang saat sekarang sudah dipublikasikan. Dengan kata lain, adaptasi perilaku yang sukses untuk kondisi lingkungan yang parah membuat Neanderthal, dan non-modern lain yang sedikit kita ketahui, rentan terhadap kepunahan biologis, namun pada saat yang sama, memastikan mereka membuat kontribusi genetik untuk populasi modern.
Jenis pemodelan yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah sangat baru dalam paleoantropologi, sebagaimana ruang lingkup benua pada analisis arkeologi kita digunakan untuk menguji hasil model. Bagaimanapun juga, pemodelan komputasi dapat memperbaiki pemahaman kita tentang dampak jangka panjang manusia terhadap lingkungan, yang dapat membantu menginformasikan keputusan penggunaan lahan untuk masa depan kita.
Barnes, I., Duda, A., Pybus, O., Thomas, M.G. Ancient Urbanisation Predicts Genetic Resistance to Tuberculosis. Evolution. 2010
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Evolution ini menunjukkan kalau di daerah dengan sejarah perkotaan yang tua, penduduk masa kini lebih mungkin memiliki varian genetik yang memberi kekebalan tubuh terhadap infeksi.
Di kota kuno, sanitasi yang buruk dan kepadatan populasi yang tinggi menjadi tempat ideal untuk berkembang biaknya penyakit. Seleksi alam berarti manusia harus mengembangkan pertahanan terhadap penyakit dalam populasi berusia panjang seiring waktu. Namun, asosiasi ini sangat sulit dipelajari, khususnya di masa pra sejarah.
Sekarang, para ilmuan dari UCL (University College London) dan Royal Holloway berhasil menguji teori ini dengan menganalisa sampel DNA dari 17 populasi manusia yang hidup di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, mereka mencari literatur arkeologis dan historis untuk menemukan kota-kota tertua yang ada di daerah-daerah ini.
Dengan membandingkan laju resistensi penyakit genetik dengan sejarah perkotaan, mereka menunjukkan kalau paparan masa lalu pada patogen membawa pada resistensi penyakit menular yang menyebar dalam populasi, dimana leluhur kita menurunkan kekebalannya pada keturunannya. Hasilnya menunjukkan kalau varian pelindung ini ditemukan pada hampir semua orang dari Timur tengah hingga India dan sebagian Eropa dimana kota-kota telah ada selama ribuan tahun.
Metode yang peneliti pakai menggunakan data arkeologis dan historis sebagai alat untuk menjelaskan persebaran dan frekuensi varian genetik, dan menemukan sumber seleksi alam. Hal ini tampaknya contoh elegan evolusi yang sedang bekerja. Ia menandai pentingnya aspek terbaru evolusi kita sebagai spesies, perkembangan kota sebagai sebuah gaya seleksi. Ia juga dapat menjelaskan beberapa perbedaan yang kita amati pada pola kekebalan penyakit di dunia.
Kepadatan populasi tampaknya berperan penting dalam membentuk begitu banyak aspek spesies kita. Ia adalah faktor vital dalam evolusi kemampuan kompleks dan budaya dari spesies kita dan membedakan kita dengan primata lainnya. Ia mengendalikan banyak perbedaan genetik yang kita lihat sekarang antara berbagai populasi di dunia. Dan sekarang tampak kalau ia juga mempengaruhi bagaimana penyakit menular tersebar di masa lalu dan bagaimana kita ber evolusi untuk menghambat penyakit tersebut.
William F. Morris, Jeanne Altmann, Diane K. Brockman, Marina Cords, Linda M. Fedigan, Anne E. Pusey, Tara S. Stoinski, Anne M. Bronikowski, Susan C. Alberts, Karen B. Strier. Low Demographic Variability in Wild Primate Populations: Fitness Impacts of Variation, Covariation, and Serial Correlation in Vital Rates. The American Naturalist. 2010
Apa kerabat terdekat dari spesies manusia? Jelas itu adalah monyet, kera dan primate lainnya, lalu apa yang membuat kerabat terdekat manusia itu lainnya berbeda dengan hewan lain? Menurut sebuah studi terbaru, satu jawabannya adalah primata kurang rentan terhadap pasang surutnya musim, khususnya curah hujan yang secara signifikan berpengaruh pada hewan lain. Temuan ini juga bisa membantu menjelaskan keberhasilan evolusi manusia purba, ungkap para ilmuwan.
Satwa liar menghadapi dunia yang tak terduga dari tahun ke tahun. Cuaca bisa sering berubah-ubah, bisa bertahun-tahun berlimpah makanan dan bertahun-tahun kelaparan. Untuk mengetahui seberapa baik primata mengatasi ketidakpastian ini dibandingkan dengan hewan lainnya, para peneliti yang bekerja pada National Evolutionary Synthesis Center (NESCent) di Durham, NC, menganalisis beberapa dekade data kelahiran dan kelangsungan hidup pada tujuh spesies primata liar: monyet muriqui dan monyet capuchin di Amerika Tengah dan Selatan, babon kuning, monyet biru, simpanse dan gorila di Afrika, serta sifakas (lemur) di Madagaskar.
Pengumpulan data ini bukanlah usaha kecil-kecilan. Hampir setiap hari selama lebih dari 25 tahun, tujuh tim peneliti bekerja di seluruh dunia dengan terus memantau kelahiran, kehidupan, dan kematian ribuan primata individu. Berkat basis data baru yang dikembangkan di NESCent, para ilmuwan mampu mengelompokkan data yang sudah susah payah mereka kumpulkan dan mencari kesamaan pada seluruh spesies.
Saat mereka membandingkan fluktuasi tahun ke tahun dalam kelangsungan hidup primata terhadap data yang sama pada hewan lain yaitu, dua lusin spesies burung, reptil, dan mamalia, mereka menemukan bahwa kelangsungan hidup primata tetap lebih stabil meskipun musiman pada curah hujan sangat bervariasi. Primata tampaknya bertahan dengan baik terhadap fluktuasi cuaca dan ketersediaan makanan yang relatif pada banyak hewan lainnya.
Sejumlah sifat-sifat ini dapat membantu melindungi primata dari pasang surutnya musim. Untuk satu hal, mereka bersifat sosial. Primata hidup dalam kelompok dan berbagi informasi dengan satu sama lain, jadi mereka lebih mampu untuk menemukan makanan dan air di saat terjadi kelangkaan. Primata juga mampu mengadaptasi pola makan secara luas dan fleksibel, yang memungkinkan mereka menyesuaikan diri pada musim kekurangan makanan favorit mereka. Primata akan makan daun, rumput, buah-buahan, bunga, kulit kayu, dan biji-bijian. Mereka adalah generalis.
Di masa lalu, sifat serupa mungkin juga dimiliki primata lain yaitu, manusia terhadap surut dan arus lingkungan, kata para ilmuwan. Manusia modern memiliki semua sifat yang sama dengan yang dimiliki spesies primata: kita pintar, kita memiliki jaringan sosial, dan kita memiliki pola makan yang luas. Manusia modern juga eksis selama periode ketika iklim Afrika berubah. Jadi, sifat-sifat sama yang memungkinkan primata non-manusia menangani lingkungan tak terduga saat ini mungkin juga telah memberi kontribusi pada keberhasilan manusia purba.
Jika primata unggul dalam mengatasi turun naiknya lingkungan, lalu mengapa begitu banyak dari mereka yang kini terancam punah? Meskipun terlindungi dari perubahan cuaca, kegiatan manusia tetap membuat mereka menjadi korban, kata para ilmuwan. Dengan hampir setengah dari primata di dunia saat ini dalam bahaya ke arah kepunahan karena perburuan dan kehilangan habitat.
Julien Riel-Salvatore. A Niche Construction Perspective on the Middle–Upper Paleolithic Transition in Italy. Journal of Archaeological Method and Theory. 2010
Penemuan antropolog Julien Riel-Salvatore menantang keyakinan ilmiah berusia setengah abad yang percaya bahwa Neandertal adalah manusia gua primitif bertengkorak tebal yang dikalahkan dan diusir oleh manusia yang lebih modern, yaitu kita, yang datang dari Afrika ke Eropa.
Penelitiannya ini diterbitkan bulan Desember 2010 dalam Journal of Archaeological Method and Theory. Penelitian ini dilakukan selama tujuh tahun di situs-situs Neandertal di Italia, dengan fokus utama pada kebudayaan Uluzzian yang telah punah.
Sekitar 42 ribu tahun lalu, kebudayaan Aurignacian, yang dibangun oleh Homo sapiens, muncul di Italia utara sementara Italia tengah terus dihuni oleh Neandertal dari kebudayaan Mousterian yang telah ada di sana selama setidaknya 100 ribu tahun. Pada masa ini, sebuah kebudayaan baru muncul pula di selatan, yang tampaknya dibuat oleh Neandertal. Mereka adalah Uluzzian dan mereka sangat berbeda.
Riel-Salvatore menemukan bintik proyektil, ochre, alat tulang, ornamen dan kemungkinan bukti adanya perburuan hewan kecil dan penangkapan ikan di situs arkeologis Uluzzian di Italia Selatan. Inovasi-inovasi demikian biasanya tidak diasosiasikan dengan Neandertal, sehingga hal ini menunjukkan kalau mereka ber evolusi secara independen, mungkin karena perubahan iklim yang dramatis. Lebih penting lagi, mereka muncul di daerah yang secara geografis terpisah dari manusia modern.
Jika Uluzzian adalah kebudayaan Neandertal, ini berarti kalau kontak dengan manusia modern tidak diperlukan untuk menjelaskan asal usul perilaku baru ini. Hal ini bertentangan dengan gagasan 50 tahun terakhir kalau Neandertal harus mengalami akulturasi dengan manusia sebelum mempelajari teknologi ini. Saat kami menunjukkan Neandertal dapat menemukan teknologinya sendiri, hal ini memberikan cahaya baru buat mereka. Istilahnya memanusiakan mereka.
Ribuan tahun lalu, Italia selatan mengalami pergeseran iklim dramatis, menjadi terbuka dan kering, kata Riel-Salvatore. Hidup Neandertal berhadapan dengan pilihan keras: beradaptasi atau mati. Bukti menunjukkan kalau mereka mulai menggunakan panah lempar atau panah busur untuk memburu hewan kecil untuk mencukupi langkanya mamalia besar yang sebelumnya mereka buru.
Fakta kalau Neandertal dapat beradaptasi pada kondisi baru dan berinovasi menunjukkan kalau mereka secara budaya sama dengan kita. Secara biologis mereka juga sama. Saya yakin mereka hanyalah subspesies manusia, bukannya spesies yang berbeda. Neandertal yang kekar pertama kali ditemukan di Lembah Neander, Jerman, tahun 1856. Tentang siapa mereka, bagaimana mereka hidup dan kenapa mereka punah masih belum jelas hingga sekarang. Penelitian menunjukkan kalau mereka menyumbangkan antara 1 hingga 4 persen bahan genetik mereka pada masyarakat Asia dan Eropa. Riel-Salvatore menolak teori kalau mereka dimusnahkan oleh manusia modern. Homo sapiens semata hanya lebih banyak dan memiliki laju reproduksi lebih tinggi, kata beliau. Penelitian ini menunjukkan kalau mereka manusia yang berbeda, tapi mereka tetap manusia. Kita dan mereka lebih mirip saudara daripada sepupu jauh.
S. P. Mahal, S. Browning, J. Li, I. Suponitsky-Kroyter, C. Weissmann. Transfer of A Prion Strain to Different Hosts Leads to Emergence of Strain Variants. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2010
Para ilmuwan dari kampus Florida The Scripps Research Institute telah menunjukkan bahwa prion, protein menular yang dapat menyebabkan penyakit neuro-degeneratif fatal seperti bovine spongiform encephalopathy (BSE) atau “penyakit sapi gila,” memiliki kemampuan beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan inang yang baru. Dalam hal ini, meskipun tidak memiliki DNA dan RNA, mereka berperilaku sama seperti virus, memproduksi mutasi struktural mengabadikan diri yang berbeda yang memberikan keuntungan evolusioner.
Charles Weissmann, mengungkapkan bahwa ketika strain prion tertentu dipindahkan dari sel-sel otak ke saluran sel yang berbeda, sifatnya secara bertahap berubah, sehingga menimbulkan strain varian yang memungkinkannya mampu beradaptasi lebih baik dengan lingkungan selular baru. Jika prion-prion yang sama kemudian dipindahkan ke barisan sel lain, mereka berubah lagi, beradaptasi dengan sel-sel inang baru. Dan jika kembali ke otak, prion secara bertahap kembali ke sifat aslinya. Telah ditemukan bukti fisik bahwa, setidaknya dalam satu kasus, lipatan prion berubah ketika sifat-sifatnya berubah.
Karena prion bisa beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sekarang menjadi jelas bahwa ini akan lebih sulit dari yang diperkirakan untuk bisa menemukan obat yang bekerja terhadap mereka. Tapi jika Anda bisa mengembangkan obat yang menghambat pembentukan protein prion normal, Anda bisa, pada dasarnya, membuat prion menular ini kelaparan dan mencegah mereka berkembang biak. Pendekatan ini untuk perawatan, meskipun secara teknis, bisa dipertimbangkan karena, seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, perampasan PrP ini tidak merusak kesehatan, setidaknya pada kesehatan tikus.
Prion, yang terdiri hanya dari protein, diklasifikasikan berdasarkan strain yang berbeda, dicirikan berdasarkan waktu inkubasi mereka dan penyakit yang disebabkannya. Selain BSE/penyakit sapi gila, penyakit yang disebabkan oleh prion termasuk scrapie pada domba, penyakit wasting kronis pada rusa, dan varian penyakit Creutzfeldt-Jakob pada manusia. Prion memiliki kemampuan mereproduksi, meskipun faktanya mereka tidak mengandung genom asam nukleat.
Sel normal mamalia menghasilkan protein prion seluler atau PrPC. Selama infeksi, protein abnormal atau gagal melipat, yang dikenal sebagai PrPSc – mengubah protein prion inang normal menjadi bentuk yang beracun dengan mengubah konformasi atau bentuknya. Tahap akhirnya terdiri dari lembaran besar (polimer) dari protein yang gagal melipat, yang menyebabkan kerusakan pada jaringan dan sel besar.
Protein prion menular dapat melipat dengan cara yang berbeda, dan tergantung pada lipatannya, suatu hasil strain prion yang berbeda. Selama prion ditempatkan di dalam inang yang sama, mereka mempertahankan lipatan karakteristik mereka, sehingga strainnya berkembang biak secara benar. Bagaimanapun juga, saat prion berkembang biak, lipatannya tidak selalu direproduksi dengan benar, sehingga populasi prion mengandung banyak varian, meskipun pada tingkat yang rendah.
Studi baru menemukan bahwa ketika populasi prion ditransfer ke inang yang berbeda, salah satu variannya dapat mereplikasi dengan lebih cepat – sebuah keuntungan evolusi – dan menjadi strain yang dominan. Populasi baru ini juga mengandung varian, salah satunya dapat dipilih di atas yang lain saat ditransfer ke inang yang berbeda. Hasilnya, meskipun tanpa bahan genetik, prion berperilaku mirip dengan virus dan patogen lainnya, mereka dapat bermutasi dan mengalami seleksi evolusioner. Mereka melakukannya dengan mengubah lipatan mereka, sedangkan virus memunculkan perubahan dalam urutan asam nukleat mereka.
National Research Council. Understanding Climate’s Influence on Human Evolution. Washington: National Academic Press. 2010
Laporan penelitian NRC (National Research Council) terbaru dari AS memeriksa bukti fauna dan iklim purba yang berada di balik hipotesis bahwa perubahan iklim bumi di masa lalu telah mempengaruhi evolusi kita. Hal ini karena sejumlah penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa pergeseran iklim besar di masa lalu bumi seringkali disertai dengan pertukaran fauna yang sangat tinggi, kepunahan massal mendadak, munculnya spesies-spesies baru dan inovasi-inovasi baru pada fisik dan fisiologi mahluk hidup. Ambil contoh peristiwa perubahan iklim besar 34 juta tahun lalu. Saat itu Bumi mendingin dengan cepat dan benua Antartika terbentuk. Banyak taksa mahluk hidup yang muncul saat ini juga teradaptasi untuk hidup dalam lingkungan baru yang lebih dingin, lebih cepat berubah dan padang rumput yang kering.
1.9 juta tahun lalu, Homo erectus pertama kali muncul. Ia adalah spesies manusia purba pertama yang mirip dengan manusia modern. Otaknya besar, pola gigi yang sama dan bentuk tubuh yang relatif sama. 1.6 juta tahun yang lalu, atau 300 ribu tahun kemudian, peradaban batu Acheulean muncul termasuk ditemukannya kapak genggam dua sisi. Periode ini juga disertai dengan migrasi besar-besaran keluar dari Afrika menuju Eropa dan Asia Selatan.
Di masa ini pula, iklim di Afrika berubah. Antara 1.8 hingga 1.6 juta tahun lalu, iklim Afrika berubah menjadi tak teramalkan, dingin dan panas bergantian secara mendadak. Menurut para ilmuan, perubahan ini terjadi tiap 20 ribu tahun di masa tersebut. Ini berarti 20 ribu tahun panas sekali, kemudian 20 ribu tahun dingin sekali, begitu seterusnya. Periode 20 ribu tahun sendiri merupakan periode presesi orbit bumi.
Sekarang pola iklim di Afrika memang masih berubah. Ia telah berganti-ganti panas dingin sejak 5 juta tahun terakhir. Walau begitu, perubahan iklim yang terjadi tidak seekstrim 1.8 hingga 1.6 juta tahun lalu. Sungguhpun demikian, pola yang terjadi sekarang sudah cukup seram bagi kita. 15 ribu hingga 5 ribu tahun lalu, gurun Sahara adalah hutan belantara dengan danau besar dan fauna melimpah ruah. Sekarang lihatlah. Jangan terlalu menyalahkan manusia. Sebagian hal ini disebabkan oleh pola perubahan iklim dengan periode 20 ribu tahun.
Pada masa panasnya, angin debu menyapu Afrika. Angin debu besar ini mulai muncul 2,8 juta tahun lalu, tapi seperti yang telah kita duga, ia paling besar antara 1.8 dan 1.6 juta tahun lalu. Daerah yang paling parah mengalami kekeringan adalah Afrika Timur.
Sebagaimana kita tahu, leluhur manusia modern berasal dari Afrika Timur. Bukan hanya leluhur manusia modern, namun sejumlah manusia purba lainnya. Sekarang kita bisa menduga, seperti para ilmuan, bahwa leluhur kita bisa sampai ke Indonesia dan bagian lain dunia ini gara-gara takut dengan angin debu. Berjalan kaki sambil menetap sementara waktu dalam perjalanan darat dari Afrika Timur ke Indonesia memakan waktu jutaan tahun. Hal ini cukup membuat sejumlah tampilan morfologis dan fisiologis leluhur manusia modern berubah menjadi sekarang.
Hasil penelitian NRC membuktikan kebenaran hipotesis ini. Perubahan iklim besar di Afrika Timur membawa pada spesiasi, kepunahan, perubahan morfologi dan perilaku leluhur kita. Iklim ganas ini membentuk kita sebagai manusia seperti sekarang. Kita adalah anak-anak badai.
Anne Minard. Hudson River Fish Evolve Toxic PCB Immunity. Februari 2011
Sejak tahun 1947 hingga 1976, Sungai Hudson adalah hulu bisnis dari beberapa perusahaan pencemar air terbesar di AS. Sebagai contoh, lebih dari setengah juta kilogram PCB dari General Electric sendiri membuat sungai tersebut menjadi salah satu perairan terburuk di AS.
Ikan tomcod Atlantik yang hidup di sungai tersebut telah mengevolusikan sesuatu yang unik. Sementara ikan-ikan lainnya mati, selama 20 hingga 50 generasi, ikan-ikan tomcod justru membangun kekebalan tubuh terhadap racun di air. Tentu saja sebagian disebabkan oleh rekan-rekannya yang lemah telah mati dan tidak menghasilkan keturunan yang kebal.
Sebagian besar ikan memiliki gen reseptor yang mengandung protein yang mengatur efek dari racun. Tomcod memiliki gen tersebut, namun dalam beberapa tahun terakhir, versi mereka telah menjatuhkan enam pasangan basa, bagian DNA tempat menempelnya molekul racun tersebut. Gen dengan enam pasangan basa ini adalah hasil mutasi dari racun yang datang dari sungai ke DNA sang ikan.
Alex Marquardt, Bill Blakemore, Ross Eichenholz. Stray Dogs Master Complex Moscow Subway System. Maret 2010
Saat ini, ada sekitar 35 ribu anjing jalanan di Moskow. Selama beberapa generasi pembiakan, para anjing menjadi kian pintar sesuai lingkungan perkotaan yang semakin kompleks. Karena hanya 3 persen anjing jalanan di Moskow yang mampu bertahan hidup hingga menghasilkan keturunan, keturunan anjing-anjing jalanan yang paling tangguh dan paling pintar lah yang memenuhi Moskow.
Anjing-anjing Moskow membentuk gang-gang yang telah belajar bagaimana mengirimkan anggotanya yang paling kecil dan imut untuk meminta makanan dari para manusia. Anjing yang besar telah belajar menggonggong dan menangkap : melompat dan menyalak pada orang yang sedang makan snack, membuatnya menjatuhkan makanan tersebut, dan mengambil makanan yang jatuh tersebut.
J. Ramsey. From the Cover: Polyploidy and Ecological Adaptation in Wild Yarrow. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2011
seorang biologiwan Universitas Rochester telah menemukan kalau setidaknya beberapa adaptasi tanaman dapat terjadi hampir seketika, bukan lewat perubahan barisan DNA, namun semata dengan duplikasi bahan genetik yang telah ada. Penemuan Justin Ramsey ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.
Sementara hampir semua hewan memiliki dua set kromosom, satu set diwariskan dari ibu dan satu dari ayah, banyak tanaman bersifat poliploid, yang artinya mereka punya empat atau lebih set kromosom. Sebagian ahli botani bertanya apakah poliploid memiliki sifat baru yang memungkinkan mereka bertahan terhadap perubahan lingkungan atau mengkoloni habitat baru. Namun gagasan ini belum pernah diuji sebelumnya.
Penanam tanaman sebelumnya telah menginduksi poliploidi pada tanaman pertanian, seperti jagung dan tomat, dan mengevaluasi konsekuensinya di rumah kaca atau kebun. Pendekatan eksperimental demikian tidak pernah dilakukan pada spesies tanaman liar, kata Ramsey, jadi tidak diketahui bagaimana poliploidi mempengaruhi kesintasan dan reproduksi tanaman di alam.
Ramsey memutuskan melakukan tesnya sendiri dengan mempelajari yarrow liar (Achillea borealis) yang umum ditemukan di pesisir Kalifornia. Yarrow dengan empat set kromosom (tetraploid) hidup di habitat lembab padang rumput di bagian utara daerah studi Ramsey; yarrow dengan enam set kromosom (heksaploid) tumbuh di habitat pasir di selatan.
Ramsey mentransplantasi yarrow tetraploid dari utara ke habitat selatan dan menemukan kalau yarrow heksaploid asli memiliki keunggulan kesintasan lima kali lipat dari yarrow tetraploid yang ditransplantasikan. Eksperimen ini membuktikan kalau tanaman selatan secara intrinsik teradaptasi dengan kondisi kering; walau begitu, tidak jelas apakah perubahan jumlah kromosom yang bertanggung jawab. Seiring waktu, populasi heksaploid alami dapat menumpuk perbedaan barisan DNA yang meningkatkan kinerja mereka di habitat kering dimana mereka sekarang tinggal.
Untuk menguji gagasan ini, Ramsey mengambil yarrow heksaploid mutan generasi pertama yang dipindai dari populasi tetraploid, dan mentransplantasikannya ke habitat berpasir di selatan. Ramsey membandingkan kinerja yarrow yang ditransplantasi dan menemukan kalau mutan heksaploid memiliki 70 persen keunggulan kesintasan daripada saudaranya yang tetraploid. Karena tanaman tetraploid dan heksaploid memiliki latar belakang genetik yang sama, perbedaan kesintasan mereka langsung dikarenakan jumlah set kromosom bukannya barisan DNA yang terkandung dalam kromosom.
Ramsey menawarkan dua teori untuk kesintasan tanaman heksaploid yang lebih tinggi. Mungkin isi DNA mengubah ukuran dan bentuk sel pengatur pembukaan dan penutupan pori kecil di permukaan daun. Hasilnya, laju lewatnya air di daun yarrow berkurang dengan peningkatan jumlah set kromosom (ploidi). Kemungkinan lain, menurut Ramsey, adalah penambahan set kromosom menghalangi pengaruh gen perusak tanaman, sama dengan yang menyebabkan cystic fibrosis dan penyakit genetik lain pada manusia.
Ramsey mengungkapkan bahwa kadang mekanisme adaptasi bukanlah perbedaan dalam gen, ia adalah perbedaan jumlah kromosom. Sementara para ilmuan sebelumnya percaya kalau poliploidi berperan dalam penciptaan famili gen – kelompok gen dengan fungsi-fungsi berhubungan, mereka tidak yakin apakah duplikasi kromosom itu sendiri punya manfaat adaptif. Sekarang, Ramsey mengatakan para ilmuan harus memperhatikan lebih baik pada jumlah kromosom, bukan hanya sebagai mekanisme evolusi, namun sebagai bentuk variasi genetik untuk melestarikan tanaman langka dan terancam punah.
Glenn R. Summerhayes, Matthew Leavesley, Andrew Fairbairn, Herman Mandui, Judith Field, Anne Ford, and Richard Fullagar. Human Adaptation and Plant Use in Highland New Guinea 49,000 to 44,000 Years Ago. Science. Oktober 2011
Para arkeolog telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa manusia purba telah menerjang suhu dingin untuk menduduki dataran tinggi di Papua New Guinea demi mencari makanan 50.000 tahun yang lalu. Bekerja di lima situs arkeologi sekitar 2.000 meter (6.500 kaki) di atas permukaan laut, para peneliti dari Papua New Guinea, Australia dan Selandia Baru menemukan kulit biji yang hangus dari pohon pandan, dan peralatan batu di mana melalui penanggalan radioisotop menunjukkan sudah ada pada 50.000 tahun yang lalu.
Glenn Summerhayes, mengungkapkan bahwa ini adalah bukti pertama orang berada di dataran tinggi pada awal masanya. Para ahli telah lama mengasumsikan bahwa manusia paling awal meninggalkan Afrika dan kemudian bergerak di sepanjang daerah pesisir hangat untuk menempati seluruh planet ini, tapi Summerhayes mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa itu belum tentu demikian. Ini kesaksian pada manusia yang mampu beradaptasi. Tim ini berasumsi (sebelumnya) bahwa manusia modern awal adalah konservatif, beradaptasi dengan iklim pantai yang lebih hangat dan ini memungkinkan mereka menyebar di seluruh planet ini dengan cukup cepat. Peneliti miliki bukti bahwa mereka benar-benar cukup beradaptasi, bergerak sampai ke lingkungan yang tinggi untuk mencari pandan, yang berarti mereka memiliki pengetahuan tentang penggunaan tanaman sebelumnya.
Pohon menghasilkan daun pandan yang berguna dan buah mirip-nanas. Para peneliti juga menemukan butir pati dari ubi, yang mereka percaya mungkin dikumpulkan dari situs alam saat mereka tumbuh di dataran rendah yang hangat.
Para pemukim awal membersihkan lahan di dataran tinggi untuk membudidayakan tanaman tersebut, kata Summerhayes. Kapak-kapak batu yang ditemukan kemungkinan besar digunakan untuk memotong vegetasi dan membuka lahan di hutan untuk membiarkan sinar matahari masuk dan untuk makanan dan tanaman berguna lainnya. Suhu pada ketinggian mencapai 68 derajat Fahrenheit (20 derajat Celcius) di bagian terpanas di siang hari dan turun ke titik beku pada malam hari. Mereka harus mengenakan semacam pakaian. Jika Anda tidak memiliki pakaian di atas sana, Anda akan mati karena hipotermia.
[1] Diambil dari www.bps.go.id, pada tanggal 5 Januari 2012, pukul 14.00 WIB
[2] Diambil dari www.bps.go.id, pada tanggal 5 Januari 2012, pukul 14.00 WIB
BAB I
Abstrak
Makalah yang ditulis oleh penulis ini berisi tentang sejarah tokoh-tokoh Islam sebagai penemu ilmu pengetahuan, hubungan umat Islam dengan IPTEK, bagaimana hasil temuan tokoh-tokoh Islam yang dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan oleh tokoh-tokoh barat, dan juga penjelasan tentang agama Islam yang tidak memiliki pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika dan ajaran agama.didalam makalah ini dikisahkan kejayaan ilmu pengetahuan yang mulai masuk ke daerah Eropa, di Eropa pada masa itu sangat terbantu dengan datang ilmu pengetahuan yang telah ditemukan oleh tokoh-tokoh Islam. Islam tidak hanya berkembang dengan ilmu pengetahuannya tetapi juga dalam dunia militer pada dinasti Usmaniyah. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. D idalam makalah ini ada tiga upaya konkret yang dapat dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti masa lampau. Pertama, merapatkan Islam, kedua kembali kepada tradisi ilmuan agama Islam, ketiga dengan mewujudkan system berdasarkan syariah agama.
BAB II
Pendahuluan
Sebagai umat Islam yang taat dalam memenuhi perintah-perintah agama Islam sesuai dengan Al-quran dan hadist-hadist, maka wajib hukumnya bagi umat Islam untuk mennutut ilmu setinggi-tingginya baik itu ilmu pengetahuan dalam teknologi, social, dan agama. Sekarang ini banyak masyarakat umum yang hanya mengerti bahwa selama ini yang menemukan pengetahuan-pengetahuan tinggi adalah bangsa Eropa, tetapi sebenarnya adalah tokoh-tokoh Islam pada masa itu.
Tokoh-tokoh Islam pada masa itu sangat membawa agama Islam pada masa kejayaan yang sangat tinggi. Latar belakang penulis dalam menulis makalah ini adalah untuk memberikan masyarakat informasi tentang agama Islam sebagai pelopor dalam ilmu pengetahuan pada masa itu. Pada peradaban kejayaannya Islam masuk ke Eropa, dan bangsa-bangsa Eropa sangat tertolong dengan kedatangan tokoh-tokoh Islam tersebut. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin. Pada masa Napoleon Bonaparte ke Mesir agama Islam mulai jatuh, dan ilmu pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya ditemukan oleh tokoh-tokoh Islam dilanjutkan oleh bangsa-bangsa Eropa, sehingga yang terkenal sebagai para penemu adalah bangsa Eropa. Didalam makalah ini dijelaskan bagaimana Islam dalam menyebarkan pengetahuan-pengetahuan yang telah ditemukan dan disebarkan. Tokoh yang sangat berjasa W. Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agam.
Tujuan penulis dari menulis makalah ini adalah supaya umat muslim pada masa ini dapat mengerti tokoh-tokoh Islam sebagai pelopor dalam Ilmu pengetahun dunia dan umat Islam saat kini dapat termotivasi kembali untuk menegembalikan kejayaan Islam seperti masa itu dengan jalan yang di ridhai oleh Allah SWT.
BAB III
ISI
Kaum muslimin, pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi trendsetter sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini. Masa kejayaan itu bermula saat Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di Madinah. Di masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah. Bangsa Arab melanglang mendatangi sumber-sumber filsafat Yunani yang abadi. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi pengkajian alam. Andalusia, yang menjadi pusat ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang dibangun kaum muslimin.
Jadi wajar jika Gustave Lebon mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella. Perpustakaan Al-Ahkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang sangat besar dan luas. Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Perpustakaan umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk 50.000 eksemplar Al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan lainnya. Namun sayangnya, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar ketika mereka menyerang Islam.
Fakta sejarah menjelaskan antara lain, bahwa Islam pada waktu pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah datang ke Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur, aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain lagi.
Masa Kejayaan Islam Pertama telah menjadi bukti sejarah bahwa dengan mengamalkan ajaran Al-Quran umat Islam sendiri akan menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan diatas bumi ini. Pimpinan Umat Islam sesudah wafatnya nabi Muhammad saw, Abubakar, Umar, Utsman dan Ali adalah merupakan pemimpin-pemimpin duniawi dengan jabatan Khalifah, yang menganggap kedudukan mereka itu sebagai pengabdian pada umat Islam, bukan sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan mutlak dan kemegahan.
Dinasti Abbasiyah adalah suatu dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik dan pertengahan Islam. Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab, ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga, ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat, thib, ahli bangunan dan sebagainya. Dalam zaman ini telah lahir berbagai ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia. Permulaan yang disebut serius dari penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu, “The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx Meyerhof yang dikutip oleh Oemar Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut: “Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme hingga pudar cahayanya.
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III (1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun, kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam. Di era ini, telah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037) yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya, mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris. Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada. Masa kejayaan Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi, terjadi pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dia adalah khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 786. Banyak lahir tokoh dunia yang kitabnya menjadi referensi ilmu pengetahuan modern. Salah satunya adalah bapak kedokteran Ibnu Sina atau yang dikenal saat ini di Barat dengan nama Avicenna.
Sebelum Islam datang, Eropa berada dalam Abad Kegelapan. Tak satu pun bidang ilmu yang maju, bahkan lebih percaya tahayul. Dalam bidang kedoteran, misalnya. Saat itu di Barat, jika ada orang gila, mereka akan menangkapnya kemudian menyayat kepalanya dengan salib. Di atas luka tersebut mereka akan menaburinya dengan garam. Jika orang tersebut berteriak kesakitan, orang Barat percaya bahwa itu adalah momen pertempuran orang gila itu dengan jin. Orang Barat percaya bahwa orang itu menjadi gila karena kerasukan setan. Pada saat itu tentara Islam juga berhasil membuat senjata bernama ‘manzanik’, sejenis ketepel besar pelontar batu atau api.
Lain halnya, pada masa pemerintahan dinasti Usmaniyah yang kekuatan militernya berhasil memperluas kekuasaan hingga ke Eropa, yaitu Wina hingga ke selatan Spanyol dan Perancis. Kekuatan militer laut Usmaniyah sangat ditakuti Barat saat itu, apalagi mereka menguasai Laut Tengah.
Kejatuhan Islam ke tangan Barat dimulai pada awal abad ke-18. Umat Islam mulai merasa tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah masuknya Napoleon Bonaparte ke Mesir. Saat itu Napoleon masuk dengan membawa mesin-mesin dan peralatan cetak, ditambah tenaga ahli.
Dinasti Abbasiyah jatuh setelah kota Baghdad yang menjadi pusat pemerintahannya diserang oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Di sisi lain, tradisi keilmuan itu kurang berkembang pada kekhalifahan Usmaniyah. Salah langkah diambil saat mereka mendukung Jerman dalam perang dunia pertama. Ketika Jerman kalah, secara otomatis Turki menjadi negara yang kalah perang sehingga akhirnya wilayah mereka dirampas Inggris dan Perancis. Tanggal 3 Maret 1924, khilafah Islamiyah resmi dihapus dari konstitusi Turki. Sejak saat itu tidak ada lagi negara yang secara konsisten menganut khilafah Islamiyah. Terjadi gerakan sekularisasi yang dipelopori oleh Kemal At-Taturk, seorang Zionis Turki.
Ada tiga upaya konkret yang bisa dilakukan umat untuk mengembalikan kejayaan Islam di masa lampau. Yang pertama adalah merapatkan barisan. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103 yang isinya “Dan berpeganglah kalian semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” Upaya lainnya adalah kembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, jelasnya, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya. Sementara upaya ketiga adalah dengan mewujudkan sistem yang berdasarkan syariah Islam. Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuhkan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemimpin) terakhir kaum muslimin ke Swiss. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui penghapusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita tidak mempunyai pemerintahan Islam.
Kemajuan Ilmu pengetahuan dan teknologi dunia, yang kini dipimpin oleh peradaban Barat satu abad terakhir ini, mencegangkan banyak orang di pelbagai penjuru dunia. Kesejahteraan dan kemakmuran material (fisikal) yang dihasilkan oleh perkembangan IPTEK modern tersebut membuat banyak orang lalu mengagumi dan meniru-niru gaya hidup peradaban Barat tanpa dibarengi sikap kritis terhadap segala dampak negatif dan krisis multidimensional yang diakibatkannya. Namun karena kemajuan tersebut tidak seimbang, pincang, lebih mementingkan kesejahteraan material bagi sebagian individu dan sekelompok tertentu negara-negara maju (kelompok G-8) saja dengan mengabaikan, bahkan menindas hak-hak dan merampas kekayaan alam negara lain dan orang lain yang lebih lemah kekuatan iptek, ekonomi dan militernya, maka kemajuan di Barat melahirkan penderitaan kolonialisme-imperialisme (penjajahan) di Dunia Timur & Selatan.
Krisis multidimensional terjadi akibat perkembangan IPTEK yang lepas dari kendali nilai-nilai moral Ketuhanan dan agama. Krisis ekologis, misalnya: berbagai bencana alam: tsunami, gempa dan kacaunya iklim dan cuaca dunia. Krisis Ekonomi dan politik yang terjadi di banyak negara berkembang dan negara miskin, terjadi akibat ketidakadilan dan ’penjajahan’ (neo-imperialisme) oleh negara-negara maju yang menguasai perekonomian dunia dan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk kepentingan duniawi yang ’matre’ dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah swt dan mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ’Alamin). Bagi umat Islam, baik Ayat tanziliyah/naqliyah (yang diturunkan atau transmited knowledge), seperti kitab-kitab suci dan ajaran para Rasul Allah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Quran), maupun ayat-ayat kauniyah (fenomena, prinsip-prinsip dan hukum alam), keduanya bila dibaca, dipelajari, diamati dan direnungkan, melalui mata, telinga dan hati (qalbu + akal) akan semakin mempertebal pengetahuan, pengenalan, keyakinan dan keimanan kita kepada Allah swt,
Jadi agama dan ilmu pengetahuan, dalam Islam tidak terlepas satu sama lain. Agama dan ilmu pengetahuan adalah dua sisi koin dari satu mata uang koin yang sama. Keduanya saling membutuhkan, saling menjelaskan dan saling memperkuat secara sinergis, holistik dan integratif.
Keutamaan orang-orang yang berilmu dan beriman sekaligus, diungkapkan Allah dalam ayat-ayat berikut:
“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar [39] : 9).
“Allah berikan al-Hikmah (Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat dan kearifan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al-Hikmah itu, benar-benar ia telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (berdzikir) dari firman-firman Allah.” (QS. Al-Baqoroh [2] : 269).
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Mujaadilah [58] :11)
Rasulullah saw pun memerintahkan para orang tua agar mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. “Didiklah anak-anakmu, karena mereka itu diciptakan buat menghadapi zaman yang sama sekali lain dari zamanmu kini.” (Al-Hadits Nabi saw). “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap Muslimin, Sesungguhnya Allah mencintai para penuntut ilmu.” (Hadis Nabi saw).
Mengapa kita harus menguasai IPTEK? Terdapat tiga alasan pokok, yakni:
1. Ilmu pengetahuan yg berasal dari dunia Islam sudah diboyong oleh negara-negara barat. Ini fakta, tdk bisa dipungkiri.
2. Negara-negara barat berupaya mencegah terjadinya pengembangan IPTEK di negara-negara Islam. Ini fakta yang tak dapat dipungkiri.
3. Adanya upaya-upaya untuk melemahkan umat Islam dari memikirkan kemajuan IPTEK-nya, misalnya umat Islam disodori persoalan-persoalan klasik agar umat Islam sibuk sendiri, ramai sendiri dan akhirnya bertengkar sendiri.
Untuk membangun sistem pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan imtak dan iptek dalam sistem pendidikan nasional kita, kita harus melihat kembali aspek-aspek pendidikan kita, terutama berkaitan dengan empat hal berikut ini, yaitu:
1) Filsafat dan orientasi pendidikan (termasuk di dalamnya filsafat manusia).
Berbicara filsafat pendidikan, mau tidak mau, kita harus membicarakan pula tentang filsafat manusia, karena pendidikan melibatkan manusia baik sebagai subjek maupun objek sekaligus.
2) Tujuan Pendidikan.
Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan tidak berbeda dengan tujuan hidup itu sendiri, yaitu beribadah kepada Allah swt (Q.S. Al-Dzariyat: 56). Dengan kata lain, pendidikan harus menciptakan pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt yang dapat mengantar manusia meraih kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Pendidikan Islam berorientasi pada penciptaan ilmuwan (ulama) yang takut bercampur kagum kepada kebesaran Allah swt (Q.S. Fathir : 28), dan berorientasi pada penciptaan intelektual dengan kualifikasi sebagai Ulul Albab yang dapat mengembangkan kualitas pikir dan kualitas dzikir (imtaq dan iptek) sekaligus (Q.S. Ali Imran: 191-193).
3) Filsafat ilmu pengetahuan (Epistemologi).
Proses integrasi imtak dan iptek, dilakukan dalam tataran atau ranah metafisika keilmuan, khususnya menyangkut ontologi dan epistemologi ilmu. Ontologi ilmu menjelaskan apa saja realitas yang dapat diketahui manusia, sedang epiremologi menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan itu dan dari mana sumbernya.
4) Pendekatan dan metode pembelajaran.
Pendidikan imtak pada akhirnya harus berbicara tentang pendidikan agama (Islam) di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi. Pendidikan agama Islam disemua jenjang pendidikan tersebut harus dilakukan dengan pendekatan yang bersifat holistik, integralistik dan fungsional. Dengan pendekatan holistik, Islam harus dipahami secara utuh, tidak parsial dan partikularistik. Dengan pendekatan integralistik, pendidikan agama tidak boleh terpisah dan dipisahkan dari pendidikan sains dan teknologi. Dan secara fungsional, pendidikan agama harus berguna bagi kemaslahatan umat dan mampu menjawab tantangan dan pekembangan zaman demi kemuliaan Islam dan kaum muslim. Sementara dari segi metodologi, pendidikan dan pengajaran agama disemua jenjang pendidikan tersebut, tidak cukup dengan metode rasional dengan mengisi otak dan kecerdasan peserta didik demata-mata, sementara jiwa dan spiritualitasnya dibiarkan kosong dan hampa. Pendidikan agama perlu dilakukan dengan memberikan penekanan pada aspek afektif melalui praktik dan pembiasaan, serta melalui pengalaman langsung dan keteladanan prilaku dan amal sholeh.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut.
IPTEK ilmuwan muslim dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok; (1) Kelompok yang menganggap IPTEK moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen dengan mencari ayat-ayat Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami, (3) Kelompok yang percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya.
BAB IV
PENUTUP
Pembahasan mengenai perkembangan Islam di bidang IPTEK yang telah dijelaskan di bab II merupakan cerminan bagaimana Islam dalam sejarahnya mampu unggul tidak hanya di bidang peradabannya saja namun juga teknologi yang memadai. Islam sebagai agama hati nurani yang mementingkan pemenuhan lahir dan batin manusia tidak pernah melarang umatnya dalam menekuni ilmu pengetahuan demi mencapai masyarakat yang lebih baik. Islam juga terus mendorong umatnya untuk senantiasa belajar dari apapun disekelilingnya untuk diambil ilmu serta diterapkan dikehidupan.
Masalah yang sekarang ini terjadi adalah ketika Islam mulai kehilangan pengaruhnya dibidang ilmu pengetahuan. Sebagai umat Islam dengan kemampuan yang sangat memadai seharusnya kita mampu menunjukkan sekali lagi bahwa Islam tidak hanya unggul di dalam agamanya saja, namun dibidang ilmu pengetahuan pun kita unggul dan mampu membuat sejarah dalam memperbaiki peradaban manusia. Diperlukan kekuatan yang besar dari umat Islam untuk membentuk pandangan ini dan saling bekerja sama dalam hal ilmu pengetahuan. Tantangan dari bangsa Barat tentu saja tidak mudah untuk di jawab, namun sebagai umat yang berilmu, kita harus senantiasa berjuang demi mengagungkan nama Islam itu sendiri.
Terlepas dari hal tersebut, dalam terus menggali ilmu pengetahuan, umat Islam juga tidak boleh melupakan dasar-dasar ajaran Islam yang utama. Sehingga dalam penerapannya, ilmu pengetahuan dan ajaran Islam dapat berjalan secara sejajar dan beriringan. Islam selalu mendorong umatnya untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya karena Allah SWT akan meninggikan derajad orang berilmu disisi-Nya. Oleh karena itu, dalam membentuk peradaban Islam yang maju dibidang IPTEK seperti dulu, umat muslim haruslah saling bekerja sama serta tidak melupakan dasar-dasar ajaran Islam dalam menuntut ilmu.
2DAFTAR PUSTAKA
Farhana.Peradaban Islam Masa Dinasti Abbasiyah;Kebangkitan dan Kemajuan. Media ilmu.
Uli dan Rio L.Dulu Islam Pernah Berjaya.www.swaramuslim.net
Solihin, O.Sejarah Kejayaan Islam.www.gaulislam.com
Sa’aduddin, Nadri.Proletar: Masa Kejayaan Islam Pertama. http://www.mail-archive.com
Taher, Tarmizi.Umatan Wasathan.www.republika.co.id
Yahya, Harun. Islam: Agama yang Berkembang Paling Pesat di Eropa. www.harunyahya.com