Skip to content

Review BUKU ILMU, ALAM DAN YANG ILAHI. Karya: Tony Rudyansjah

April 13, 2012

BAB 1 “JATUH DARI LANGIT,  MENGANGKASA DARI BUMI: KELAHIRAN ILMU ALAM  TENTANG  MASYARAKAT”

Sejarah mencatat begitu banyak tentangan masyarakat, terutama pihak gereja, atas teori-teori sosial yang dikemukakan oleh para ilmuan sosial di masa lalu. Bab ini menjelaskan dua penyebab utama hal ini bisa terjadi. Pertama, adanya perbedaan kehidupan sosial antara masyarakat Eropa dengan masyarakat luar Eropa dalam hal perkawinan, rumah tangga, ritus-ritus upacara dan agama, peperangan, senjata, pengertian keadilan, maupun mas kawin. Kedua, tentangan yang lahir dari perhatian teoritis, terutama dari pihak gereja Kristiani di Eropa tentang teori sosial dan ekonomi yang disampaikan ilmuan sosial di masa itu.

Max Webber menyebut masalah dasar yang dihadapi masyarakat Eropa saat itu sebagai the problem of evil, yaitu bagaimana Tuhan Yang Maha Sempurna bisa menciptakan dunia yang tidak sempurna. Lovejoy berusaha menjawab pertanyaan itu dalam opusnya The Great Chain of Being, dengan mengambil gagasan Saint Augustine yang disebutnya sebagai principle of  plentitude, yang berisi ide bahwa satu hal yang maha sempurna mempunyai keharusan memperluas dirinya sendiri ke dalam berbagai bentuk kehidupan yang ada dengan cara menghasilkan dunia pengalaman dan inderawi yang beragam dan yang  kelihatannya tidak  begitu sempurna. Walaupun demikian, gagasan ini  menimbulkan kebingungan bagi banyak pihak, termasuk saya, berulang-ulang saya membaca tapi gagasan plentitude memang cukup sulit untuk dimengerti.

Pada bab ini juga dibahas tentang berkembangnya ilmu tentang masyarakat yang dipelopori oleh dua tokoh besar dalam ilmu sosial, yaitu Thomas Hobbes dan John Locke.

Hobbes berpendapat bahwa manusia dalam hidupnya mengejar apa yang disebutnya sebagai felicity, yaitu maksimalisasi dari kenikmatan (pleasure) dan minimalisasi dari kesengsaran (pain). Untuk mendapatkan felicity tersebut, individu manusia memanfaatkan manusia lainnya.  Dari hal itu Hobbes menyatakan bahwa masalah utama dari masyarakat adalah bagaimana menciptakan keteraturan dalam masyarakat itu sendiri yang terdiri dari berbagai individu yang egois. Lebih lanjut Hobbes menyatakan bahwa tidak ada konsepsi dalam pikiran manusia, baik secara keseluruhan maupun secara sebagian, yang awalnya tidak  berasal dari organ panca indera. Pemikiran Hobbes tentang masyarakat dipengaruhi oleh metode kepastian geometri milik Euclid dan ilmu alam tentang gerak (motion) milik Galileo dalam kaidahnya tentang inertia.

Locke, tokoh besar yang pemikirannya secara garis besar sama dengan Hobbes, menentang adanya ide bawaan (innate ideas). Ia berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh manusia melalui pengalaman dan nalar pikirannya karena manusia merupakan makhluk cerdas. Namun, Locke melalui prinsip probabilitasnya juga menyatakan bahwa mungkin saja ada makhluk  yang lebih cerdas daripada manusia yang hidup di alam semesta ini. Perhatian lain Locke tertuju pada masalah bahasa. Ia juga menganggap bahwa bahasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan masyarakat sebagai satu pertalian sosial. Masalah tentang bahasa yang rumit dirumuskan Locke sebagai propriety, yaitu penggunaan bersama dari bahasa dapat memiliki manfaat untuk berkomunikasi secara lisan, namun tetap memiliki kekurangan. Masalahnya tidak ada satu standar yang pasti dan sama dari mana ide kata yang terucap itu, sehingga dapat menimbulkan salah pengertian saat bahasa tersebut digunakan  untuk  berkomunikasi dengan orang lain.

 

BAB 2 “TRANSFORMASI DARI AGAMA KE MORALITAS, POLITIK DAN EKONOMI”

Tulisan-tulisan para pengamat ekonomi politik  pada abad ke-18 berisi tentang gagasan psikologi bahwa manusia dikendalikan oleh gairah nafsu (passion), dan permasalahan yang dihadapi oleh setiap masyarakat adalah bagaimana kemungkinan untuk tetap dapat mempertahankan gairah nafsu dengan cara menekannya atas nama satu kebajikan yang lebih tinggi. Namun banyak orang meyakini bahwa, walaupun sulit untuk dikendalikan, gairah nafsu manusia itu justru harus digunakan satu sama lain agar dapat melahirkan hasil yang bermanfaat bagi masyarakat. Dapat dikatakan  bahwa penggunaan dan pembenturan satu per satu berbagai gairah nafsu manusia dalam rangka melahirkan suatu hasil yang diinginkan merupakan dasar di balik berbagai  teori rasionalitas yang  berbeda-beda itu. Teori rasionalitas, dengan tokoh-tokohnya seperti Thomas Hobbes, John Locke, David Hume,  Adam Smith, dan Francois Quesnay, menciptakan  satu cara baru dalam melihat gejala masyarakat dan kebudayaan, sekaligus menggoreskan satu bidang tersendiri yang sekarang ini disebut dengan istilah ekonomi.

Pemisahan  disiplin “ekonomi” dengan disiplin lainnya bisa terwujud apabila pokok bahasan ekonomi sudah dapat dirasakan dan dipandang orang sebagai suatu sistem dengan suatu keutuhan tersendiri yang bersifat menyeluruh dan mempunyai konsistensi internal di dalam dirinya sendiri. Quesnay dan para pengikutnya, Physiocrat, merupakan para pemikir yang banyak meletakkan dasar penting bagi konsistensi internal bagi disiplin ekonomi.

Tableau economique yang dikembangkan Quesnay adalah suatu teori sosial-cum-politik yang berlaku umum dan berazaskan pada hukum alam yang lazim dianut di dalam sudut pandang suatu penekanan kuat pada dimensi ekonomisnya, yang pada keseluruhannya kemudian dirajut ke dalam suatu sistem yang logis. Quesnay merumuskan definisinya tentang hukum alam: “Hukum-hukum alam bersifat fisik maupun moral. Kita mengartikan hukum alam disini sebagai peredaran biasa dari berbagai peristiwa fisik tatanan alam yang memberikan begitu banyak keuntungan bagi makhluk manusia. Dan kita mengartikan hukum moral sebagai aturan bagi setiap tindakan manusia dari satu tatanan moral yang sesuai dengan tatanan fisik yang memberikan begitu banyak keuntungan bagi makhluk manusia itu. Kesemua hukum ini membentuk apa yang diistilahkan sebagai hukum alam”.

Bagi Quesnay, unsur utama dari kekayaan yang sesungguhnya (real wealth) adalah  pertanian. Hal ini karena hanya dalam sektor pertanian nilai surplus nampak jelas terlihat manakala produksi hasil bumi kotor setiap tahunnya dapat dibedakan secara jelas dari hasil bumi bersih dan dikurangi semua biaya investasi untuk menggarap tanah tersebut. Pusat perhatian lain dari Quesnay adalah upaya mereformasi praktek-praktek negara yang tercela, sehingga reformasi baginya, berarti suatu situasi dimana negara tidak ikut andil di dalam perkara-perkara ekonomi.

Pandangan ukum tentang dunia yang dikemukakan Locke menggambarkan alam semesta dibagi ke dalam tiga tingkatan: Tuhan, makhluk manusia, dan makhluk rendah lainnya, dimana kesetaraan hanya ada di lapisan makhluk manusia, sedangkan pertalian antara lapis yang lebih tinggi dan yang lebih rendah ditanggapi berazaskan pada hubungan kepemilikan. Konsep kepemilikan (property) menempati posisi penting dalam pemikiran politik Locke. Secara lebih rinci,  kepemilikan dalam pemikiran Locke meliputi pengertian yang sangat luas dan mencakup: kehidupan, kebebasan, dan estate (tingkatan hidup yang telah dimiliki) seseorang.

Dalam pemikiran Locke ada semacam sintesis antara moralitas dengan politik, dan juga antara politik  dengan ekonomi. Locke mereduksi politik hanya menjadi elemen tambahan yang marjinal sifatnya dari moralitas dan ekonomi. Padahal, moralitas dan ekonomi menjadi penopang sekaligus basis yang kokoh dimana politik harus dikonstuksikan. Pemikiran Locke menggambarkan benturan antara ideologi lama (hierarki sosial) yang mulai runtuh dengan ideologi baru (individualism) yang belum sepenuhnya terbentuk.  Jadi inti  dari pemikiran politik Locke adalah  bahwa dengan mengartikan semua  kepemilikan dalam arti luas (termasuk kehidupan dan kebebasan) berasal dari dalam diri individu, ia tidak hanya mensejajarkan atau menyamakan ekonomi dengan politik,  melainkan membuat ekonomi menduduki tingkatan yang lebih tinggi daripada politik.

Adam Smith dalam bukunya The Theory of Moral sentiments menegaskan bahwa ciri utama dari manusia adalah melekatnya sentiment dalam diri manusia. Berdasarkan sentiment itulah, bentuk simpati antara satu individu dengan individu lainnya dapat ditumbuh-kembangkan. Smith berpendapat bahwa manusia sebagai social individuality, harus mengembangkan simpati satu sama lain.

Sejak masa Descartes, permasalahan utama yang dihadapi  filsafat modern iala permasalahan tentang constitution of self dan pertanyaan tentang impartiality (tanpa kepentingan atau nir pamrih). Dalam teori tentang konstitusi diri, Smith menggunakan suatu pendekatan inter-subjektif. Smith memulai eksplorasinya dengan pertanyaan  berkenaan dengan konstitusi diri orang  lain, yaitu, bagaimana kita mengenali dan memahami orang lain, yang mau tak mau mencakup juga pertanyaan apa yang kita pahami dari orang lain.

Menurut Jacques Lacan ada dua tradisi berkenaan dengan konstitusi diri. Pertama adalah tradisi Cogito yang dikembangkan oleh Rene Descartes, mengembangkan teorinya dengan menggunakan diri sendiri  sebagai titik pijakannya. Kedua adalah tradisi Mirror yang dikembangkan oleh Gottfried Leibniz, mengembangkan teorinya dengan menggunakan diri orang lain sebagai titik pijakan utamanya. Perbedaan antara kedua tradisi ini merupakan persoalan epistemologis sekaligus ontologism tentang kondisi manusia itu coba diatasi oleh Smith.

Titik pijakan Descartes dalam teorinya tentang konstitusi adalah diri sendiri (self) berangkat dari dalil cogito ergo sum (saya berpikir, oleh karena itu saya ada). Oleh karena itu teori Descartes dapat dikatakan merupakan self-referential theory tentang konstitusi diri.  Dalam mengkonstitusikan dirinya, seseorang tidak membutuhkan referensi apapun dari orang lain. Sedangkan Smith berpijak pada pada orang lain (other self). Prinsip utama teori Smith adalah melihat diri  sendiri sebagaimana layaknya orang lain melihat diri kita. Pada dasarnya teori Smith adalah teori cermin tentang diri sendiri.

Teori Smith dipengaruhi oleh Teori Cermin Leibniz. Leibniz merumuskan Teori Cermin dalam tingkat yang sangat  metafisik dan  sangat mendasar. Kesamaan Teori Cermin Leibniz dan Smith terletak pada perhatian keduanya terhadap preposisi dialetik Stoik yang menegaskan bahwa semua substansi, termasuk monad, adalah bersifat partikular, namun berhubungan dan saling berhubungan satu sama lain. Namun, berbeda dengan Leibniz, Smith sangat menolak konsepsi  Stoik tentang Pradestinasi (takdir) sifat buruk (vice) dan kebaikan (virtue), maupun tentang haromoni yang telah diberikan dan temantapkan sebelumnya. Sedangkan perbedaanya  dengan Leibniz, Smith hanya menerapkan Teori Cerminnya bagi makhluk hidup, dan membatasi hanya kepada makhluk hidup yang telah mengembangkan sedikit banyaknya suatu kapasitas intelektual.

Smith berpendapat bahwa makhluk manusia mampu untuk berkomunikasi dengan bantuan  kemampuan simpati yang dimilikinya, yang dalam kerangka teori Smith selalu dikaitkan dengan konsepsi tentang persepsi dan imajinasi. Smith mendifinisikan dunia internal manusia sebagai cermin dunia sosia maupun dunia alami yang bersifat histories dan eksternal. Menurutnya, karakter individual setiap makhluk manusia mencerminkan baik situasi material, situasi relasi social, maupun situasi alami yang terdapat dalam suatu masyarakat pada masa tertentu. Dalam teori Smith, untuk memahami orang lain dan mengkonstitusikan orang lain, kita harus menempatkan diri kita ke dalam situasi orang lain melalui kemampuan imajinasi yang kita miliki.

Smith membuat dua penegasan penting dalam pendekatan teoritisnya tentang cermin. Pertama, ia mendefinisikan orang lain sebagai sumber dari berbagai nilai yang kita anut. Kedua, proses yang sama terjadi juga dalam kaitannya dengan diri kita sendiri. Orang lain mengembangkan nilai mereka dengan cara mengamati bentuk, perilaku dan penampilan kita. Melalui perspektif yang bersifat dialektikal dan dialogikal inilah memungkinkan prosies social dari objektifikasi pengetahuan dapat secara terbuka sungguh-sungguh terjadi dalam realitas kehidupan kita  sehari-hari. Hal ini penting bagi ahli antropologi yang ingin mengehui bagaimana satu kebudayaan dianut bersama (a shared culture) mungkin terwujud dan terobjetifikasikan de dalam berbagai tindakan dan interaksi para pelaku yang menjadi pendukung kebudayaan tersebut.

Pemikiran Smith dalam Wealth of Nation jelas menampakan perubahan drastis dibandingkan dalam The Theory of Moral Sentiment, saat ia membeberkan bahwa aktifitas ekonomi merupakan suatu aktifitas manusia yang tidak membutuhkan apapun selain kecintaan terhadap diri sendiri (self-love): hanya dengan  mengejar kepentingian diri sendiri itulah, manusia sesungguhnya tanpa sengaja telah bekerja demi kebaikan bersama. Dalam The Wealth of Nations Smith menyatakan gbahwa “universal opulence” (kekayaan universal) merupakan ciri utama dari bangsa-bangsa beradab (civilized). Kekayaan atau kemakmuran menembus hingga lapisan terendah dalam masyarakat, yang merupakan konsekuensi dari produktivitas tenaga kerja manusia (labour). Lebih  lanjut Smith menyatakan, bahwa kerja manusia merupakan satu-satunya alat ukur yang universal dan akurat dari nilai, atau satu-satunya standar melalui mana kita dapat membandingkan berbagai komoditas yang berbeda di semua tempat dan waktu. Lapisan masyarakat yang  termiskin dalam  masyarakat “beradab” melalui penbagian kerjanya akan jadi berkecukupan bila dibandingkan dengan para bangsawan di masyarakat yang belum “beradab”.

Dari hal inilah  muncul konsep Invisible Hand yang kemudian lebih dikenal dengan istilah natural harmony of interest, yakni penilaian moralitas mulai dimungkinkan untuk diabaikan dan digantikan oleh self-love. Menurut Smith, manusia dalam berinteraksi dengan manusia lain, menggunakan dua modus dalam mengkonstitusikan diri oran lain. Yang pertama impartial spectator without, pelaku menggunakan penilaiannya berdasarkan pada prinsip what is, atau apa yang secara kenyataannya terjadi, ialah yang orang-orang yang terpaku pada kecenderungan untuk mendapatkan pujian semata. Kedua, impartial spectator within berdasarkan pada prinsip what ought to be, atau apa yang seharusnya, ialah orang yang memiliki kecenderungan tidak hanya untuk mendapatkan pujian, melainkan ingin mewujudkan dirinya sebagai suatu objek yang tepat dari pujian tersebut.

Smith merujuk pada konsep authenticity, bahwa kita semua tidak hanya berkeinginan dicintai orang lain, melainkan berkeinginan juga memang patut dicintai karena memang memiliki kualitas cinta itu sendiri. Atas dasar ini maka Smith beranggapan bahwa penilaia hati nurani (impartial spectator within) harus ditempatkan lebih tinggi daripada impartial spectator without. Dengan impartial spectator within, manusia dapat menemukan criteria normatif lain dalam menilai intensionalitas situasi yang sedang dihadapi, sehingga peningkatan diri (self-betterment) untuk perbaikan (improvement) dapat terjadi dan terealisasi.

Smith menyatakan sumber motivasi dari perilaku manusia bersifat heterogen, yang berarti tidak mudah direduksi pada beberapa prinsip tertentu saja. Tidak mungkin terwujudnya tindakan kebajikan tanpa kegairahan; tanpa rasa takut, tidak mungkin dapat dijelaskan dorongan untuk pertahanan diri (self-defense) dan kehati-hatian; tanpa rasa marah, tidak mungkin dapat dijelaskan dorongan untuk menghukum (to punish); tanpa kehormatan (pride), tidak dapat dijelaskan harga diri (self-esteem); tanpa kekaguman (wonder), tidak akan timbul pengetahuan.  Tidak masuk akal menyatakan berbagai kegairahan jiwa tersebut dapat ditata secara hierarkis tanpa mengaburkan dan mereduksi kompleksitas warna-warni kehidupan manusia yang unik itu. Tujuan Smith adalah untuk mendemonstrasikan bahwa hakekat alam dunia mendorong kita untuk menemukan berbagai kebaikan di dalam semua kegairahan jiwa manusia dan tidak ada satu pencermatan terhadap kebaikan tatanan hidup masyarakat yang dapat mengabaikan pertimbangan tersebut. Dalam kerangka berpikir Smith, kegairahan jiwa manusia disebut sebagai gairah mementingkan diri sendiri yang harus dicermati dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan  situasi spesifik tertentu.

Dalam Wealth of Nations, Smith  menyatakan dalam komersial ada semacam dorongan lain terhadap self-betterment yang memiliki fungsi memberikan suatu dasar yang  baik bagi perluasan sistem perdagangan dan manufaktur. Prinsip tersebut mengayomi lahirnya pembagian kerja yang kemudian memberikan dinamika bagi kehidupan sosial dengan cara menyediakan energi yang dapat menimbulkan sumber daya demi keberlangsungan kesejahteraan sosial semua orang. Wealth of Nations berupaya mendemonstrrrasikan  bahwa usaha menghilangkan berbagai hambatan terhadap tenaga kerja, harga, dan persediaan barang akan melahirkan kebebasan serta keluasan kepentingan diri (self-interest) yang akhirnya melahirkan kesejahteraan bagi semua orang.

 

BAB 3 “KARL MARX: KETEGANGAN ANTARA KEBEBASAN DAN KENISCAYAAN MANUSIA”

Pada awal bab ini dijelaskan tentang pemikiran dari Immanuel Kant. Kant menegaskan bahwa tidak mungkin ada satu ilmu pengetahuan tentang moral, ataupun pengetahuan tentang masyarakat sebagai sesuatu yang juga bersifat moral, karena moralitas berada dan berlangsung dalam kebebasan, sehingga prinsip atau kaidah pengetahuan ilmiah tidak mungkin dapat diaplikasikan dalam bidang itu. Kant membuat pemisahan radikal antara teori dengan praktek. Teori disebut sebagai theoretical reason, merupakan cara untuk memahami realitas fenomenal melalui ilmu pengetahuan, sedangkan praktek yang disebutnya sebagai practical reason, merupakan ranah dari filsafat moral, dan tidak mungkin dapat berlandaskan pada teori. Hal inilah yang kemudian coba disingkirkan oleh Hegel. Ia berpendapat bahwa penalaran tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang dihasilkan analisis sebagai pemahaman teoritis, tapi lebih sebagai sebuah proses melalui cara mana subjek manusia dapat masuk merasuki alam dan sejarah.

Dalam pemikiran Hegel, penalaran adalah proses realisasi atau manifestasi bertahap di dalam realitas. Lebih lanjut, ia menegaska bahwa penalaran mencakup kebebasan, kebebasan yang dimaksud adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk bertindak dan membentuk realitas, membentuk alam berdasarkan potensi yang dimilikinya. Ada dua hal utama tentang sejarah dunia dari pemikiran Hegel. Pertama, Hegel mengembangkan sejarah dunia yang didalamnya kebudayaan manusia bermunculan, berkonflik satu sama lain, dan digantikan oleh kebudayaan yang telah mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi dengan cara menyatukan berbagai tingkat perkembangan kebudayaan yang ada sebelumnya. Kedua, Hegel banyak memberikan pendapat tentang Negara, ia menganggap negara birokratik modern sebagai perwujudan tertinggi dari penalaran.

Teori pertama Marx yang pertama kali dilontarkan merupakan sebuah kritik terhadap  karya Hegel Philosophy of Right. Pemikiran tersebut terinspirasi oleh tulisan-tulisan Feuerbach, ia mengungkapkan bahwa filsafat Hegel hanya satu bentuk lain dari religi, hanya satu proyeksi fantastic tentang Tuhan ke dalam ranah pemikiran tentang kekuasaan  dan realitas. Dalam kerangka filsafat antropologis Feurbach, proyeksi fantastik itu pada dasarnya hanyalah proyeksi esensi manusia sendiri. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citra ideal mereka sendiri, dan lalu memperlakukan ciptaan mereka sendiri sebagai Tuhan mereka dan berlutut dihadapannya.

Menurut Marx, konsepsi Hegel adalah sebuah konsepsi yang berasal dari religi tradisional. Negara modern, yang dianggap Hegel sebagai bentuk representative dari pemerintahan, serta konstitusi dan demokrasi dengan berbagai fungsi apparatus birokratik dan instrument yang sempurna untuk mencapai finalisasi orang banyak sebagai citizen sebagai satu kesatuan yang menyeluruh (masyarakat sipil), menurut Marx, tidak lebih dari satu bentuk lain dari alienasi yang menyebabkan atribut manusia sebagai satu keseluruhan ditransformasikan kepada hanya satu kelas khusus tertentu. Marx lebih lanjut, menganggap agama adalah  keluh kesah dari makhluk yang tertindas, sentiman dari dunia tanpa hati, jiwa dari kondisi yang tidak berjiwa, itu adalah candu dunia. Kritik terhadap agama ini merupakan kritik awal terhadap kondisi masyarakat yang tidak menawarkan kebahagiaan sejati, melainkan hanya ilusi dari kehidupan manusia, dimana agama merupakan lingkaran keramatnya.

Pemikiran Marx terhadap proses perubahan melalui proses revolusi kelas melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) sebuah kelas revoluioner bangkit; (2) bergabung dengan keseluruhan masyarakatnya; (3) merepresentasikan dirinya sebagai pemenang atas  nama masyarakat secara keseluruhan untuk melawan kelas lain yang menindas; (4) saat mereka berhasil menghancurkan kelas yang menindas, maka kesetaraan akan terwujud.

Marx mengolah pengertian bahwa alienasi bukan dalam ari sebagai sesuatu yang berasal dari keberadaan private property, tapi  berasal persepsi para pekerja, yang kemudian menghasilkan kapitalis. Terendahkan secara psikologis dan moral, si pekerja menciptakan para kapitalis sebagai sebuah proyeksi akan kebutuhan batinnya sendiri atas dominasi.

Mark dan Engels  menolak gagasan filsafat  spekulatif ala Hegel yang mengabaikan situasi materiil yang merupakan tempat dimana pikiran filsafat dilahirkan dan dikembangkan. Mereka menjelaskan bahwa manusia menghasilkan peralatan untuk hidup. Produksi peralatan untuk hidup ini hanya dapat muncul dengan bertambahnya jumlah penduduk, yang kemudian juga sangat tergantung pada interaksi antara satu individu yang satu dengan individu lainnya. Bentuk dari interaksi ini juga pada akhirnya ditentukan oleh produksi. Jadi kehidupan manusia sangat terkait dengan proses sirkulasi dari produksi, social intercourse, dan relasi sosial yang mendasarinya. Dalam karyanya Capital, Marx membahas bagaimana keseluruhan sistem dari pengupahan (wages) dan relasi pasar diinstitusionalisasikan sedemikian rupa, sehingga semua orang berperilaku berdasarkan pada sistem itu, dan anehnya kemudian mereka menanggapi semua itu sebagai bagian dari alam itu sendiri.

Dari keseluruhan pemikiran Marx, teori utuh darinya adalah:

ü  Sejarah dari masyarakat manusia dimanapun merupakan sejarah dari pertarungan kelas (antara kelas proletar melawan kelas borjuis).

ü  Kelas sosial yang terdiri dari himpunan berbagai individu yang memiliki fungsi yang sama dalam organisasi produksi.

ü  Hakekat relasi produksi dari satu masyarakat dijelaskan berdasarkan tingkat perkembangan dari daya produksinya (productive forces) yang biasanya diartikan sebagai peralatan teknologi.

ü  Konflik antar kelas sosial melekat secara inheren dalam masyarakatnya, karena masing-masing kelas sosial memiliki tingkat control yang berbeda atas berbagai alat produksi.

ü  Setiap pola tertentu dari relasi  produksi dan kekuatan produksi menghasilkan pola kelas dan relasi sosial tertentuyang keseluruhannya membentuk satu formasi sosial tertentu.

ü  Perubahan terjadi dalam tingkat relasi produksi dan manakala ini terjadi maka relasi sosial dan kelas menjadi kadaluarsa, sehingga kelas revolusioner (kaum proletar) akan tampil ke muka untuk melaksanakan sebuah tindakan politik untuk mengenyahkan si penindas yang berasal dari kelas yang dominan (kaum borjuis).

ü  Kelas revolusioner itu akhirnya menjadi kelas yang menindas sampai revolusi final dari kelas pekerja industrial tersebut menjelma menjadi sebuah instrument yang berhasil menyingkirkan kelas itu sendiri untuk selama-lamanya. Jadi, pada akhirnya kelas revolusioner ini akhirnya dapat menciptakan masyarakat tanpa kelas.

From → Antropologi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: