Skip to content

TEORI ASAL-USUL MUNCULNYA MANUSIA MODERN BERASAL DARI AFRIKA (OUT OF AFRICA)

April 13, 2012

Ada dua perspektif yang berkembang tentang asal usul munculnya manusia modern. Pertama, Out of Africa (OA) dan Multiregional Evolution Model (MRE). OA berbasis pada data paleontologi dan bukti-bukti genetika. Data paleontologi terutama dikembangkan oleh Stringer dan Bräuer dengan teori Recent African Origin; dan African Hybridization and Replacement . Di sisi lain, MRE yang dipelopori oleh Wolpoff, Thorne dan Wu, berpendapat berlawanan dengan OA. MRE menyatakan bahwa manusia modern tidak hanya berasal dari Afrika, melainkan juga dari Eropa dan Asia. Artinya bahwa manusia modern m uncul di berbagai wilayah sebagai hasil evolusi dari populasi yang sudah ada sebelumnya (archaic population). Pada paper ini penulis akan fokus menguraikan teori para ilmuan yang menyatakan bahwa manusia pada awalnya berasal dari Benua Afrika yang kemudian menyebar ke seluruh dunia yang populer dengan istilah Out of Africa (OA).

Berdasarkan analisis morfologi pada fosil dari Afrika dan Eropa, Bräuer (1982) mengajukan  teori Afro-European-sapiens hypothesis atau yang disebut juga African hybridization and replacement model. Dalam teorinya Bräuer menyatakan bahwa sedikitnya ada proses evolusi secara gradual dari awal sampai pada akhir archaic Homo sapiens yang pada akhirnya mengarah pada kemunculan awal dari anatomically modern Homo sapiens di Afrika pada akhir masa Pleistosin tengah dan Pleistosin atas. Studi tentang kemunculan populasi modern Eropa, Bräuer mengatakan bahwa anatomically modern Homo sapiens dari Afrika bermigrasi ke Eropa melalui Timur Tengah. Populasi pendatang dari Afrika ini kemudian semakin berkembang dan bertambah banyak serta menggantikan/menghapuskan populasi Neandertal yang telah hidup terlebih dulu di Eropa. Lebih jauh Bräuer menduga bahwa periode penggantian ini berlangsung ribuan tahun. Dalam masa ini diduga telah terjadi hibridisasi dalam derajat yang berbeda -beda (Bräuer, 1984). Dengan kata lain Bräuer menerima adanya hibridisasi antara populasi pend atang dan populasi asli. Pendapat Bräuer ini didukung oleh data genetik dari Krings et al. (1997). Hasil sekuensi mtDNA dari Neandertal yang ditemukan pada tahun 1856 di Jerman, menunjukkan bahwa hasil sekuensi Neandertal berada di luar variasi mtDNA manus ia modern. Dengan kata lain, Neandertal punah tanpa memberikan kontribusi mtDNA terhadap gene pool manusia modern (di Eropa). Artinya, kontinuitas genetik tidak terjadi di Eropa seperti yang dinyatakan oleh MRE.

Bräuer (1992) juga membandingkan karakteris tik morfologi antara archaic Homo sapiens dan anatomically modern Homo sapiens di Cina. Dia menemukan adanya beda morfologi antara Dali dan Maba dengan anatomically modern Homo sapiens . Bräuer tidak menemukan adanya fosil yang bisa menjembatani perbedaan (gap) morfologi ini. Temuan fosil di Asia Tenggara juga menunjukkan gap morfologi antara Ngandong dan spesimen dari Niah. Hasil pengamatan Santa Luca (1980, dalam Bräuer, 1992) pada spesimen Tabon dan Wajak juga menunjukkan perbedaan morfologi dengan Ngandong. Artinya bahwa di Australasia pun tidak ditemukan bukti kontinuitas genetik. Sebagai tanggapan terhadap studi tentang mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987), Stringer dan Andrew (1988) mengajukan hipotesis Recent African Origin yang intinya adalah sebuah test model mengenai Total replacement. Recent African Origin berbasis pada awal munculnya manusia modern di Afrika dan pada bukti genetik populasi hidup. Dalam test model ini Stringer dan Andrew menyatakan bahwa Afrika diduga adalah tempat yang tep at sebagai sumber berkembangnya manusia modern sekitar 100.000 tahun yang lalu yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah di luar Afrika. Berkenaan dengan transisi dari Neandertal dan manusia modern, Stringer (1992) berpendapat bahwa hibridisasi dan gene flow bisa jadi muncul, terutama di Eropa tengah. Sekalipun demikian Stringer menekankan bahwa adanya gene flow dan hibridisasi ini bukan berarti memberi pengaruh yang berarti terhadap gene pool manusia modern saat itu.

Berkaitan dengan perbandingan variasi morfologi di Asia, Stringer dan Andrew menyatakan bahwa fosil di Cina dari masa Pleistosin tengah (Yinkou dan Dali) menunjukkan perubahan menyerupai hominid dari Eropa dan Afrika, sehingga menunjukkan kontras dengan morfologi dari nenek moyangnya. Dengan demikian Stringer dan Andrew mempunyai pendapat sama dengan Bräuer bahwa tidak ada fosil yang diketahui yang bisa menjembatani gap morfologi pada periode ini (50.000 – 100.000 tahun lalu) yang mengindikasikan munculnya manusia modern dari Asia. Lebih jauh Stringer dan Andrew juga menekankan bahwa tidak ditemukan bukti-bukti fosil hominid di kawasan Australasia dari masa Pleistosin akhir. Willandra Lakes yang selama ini dianggap sebagai bentuk transisi antara Homo erectus dari Indonesia dan populasi Australia modern juga bersifat patologis (Brown, 1999).

Model OA banyak didukung oleh bukti genetik. Studi mengenai mtDNA yang dilakukan oleh Cann et al. (1987) berkesimpulan bahwa Afrika adalah sumber gene pool mtDNA manusia modern. Tidak ditemukan bukti percampuran mtDNA antara populasi pra m odern dengan manusia modern. Dengan kata lain bahwa Homo sapiens dari Afrika yang menggantikan atau menghapuskan populasi pra modern ini. Lebih lanjut Stoneking dan Cann (1989) menunjukkan berdasarkan penelitiannya bahwa di Afrika lah ada bentuk transforma si menuju manusia modern sekaligus sebagai pusat percabangan pertama menuju manusia modern. Sebagian populasi ini menyebar ke seluruh dunia sedangkan yang lain tinggal tetap dan menyebar ke seluruh Afrika. Tidak hanya data mtDNA yang menunjukkan bukti -bukti tentang OA melainkan juga Ychromosome dan DNA inti yang memperkuat hipotesis bahwa manusia modern mempunyai kesamaan genetik dengan populasi Afrika di masa lalu (Cann, 1992; 1994). Studi ini diperkuat oleh Horai et al. (1995) yang meneliti daerah D-Loop; Nei (1995) yang mengkonstruksi filogenetik manusia modern dari lima data frekuensi gen yang berbeda (microsatelite DNA set I, microsatelite DNA set II, RFLP data, protein polymorphism dan Alu insertion polymorphism data) dan Krings et al. (1999) yang meneliti HVR II pada Neandertal kaitannya dengan kontribusi gene pool manusia modern. Hasil dari berbagai studi ini menunjukkan recent common ancestor manusia modern berasal dari populasi di Afrika.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bräuer, G., The Afro-Europeans Sapiens-Hypothesis and Hominid Evolution in Asian During the Late Middle and Upper Pleistocene, dalam (P. Andrews & J. Franzen, eds.) Cour. Forsch. Inst. Senckenberg. Vol 69: The early Evolution of Man with Spezial Emphasis on Southeast Asia and Africa. Frankfurt am Main, 1984.

Koerbardiati, Toetik. Teori-Teori Munculnya Manusia Modern. (Jurnal)

Stringer, C., Replacement, Continuity and the Origin of Homo Sapiens, dalam (G. Bräuer & Smith, F.H., Eds.) Continuity or Replacement: Controversies in Homo Sapiens Evolution (Rotterdam: A.A. Balkema, 1992).

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: