Skip to content

“Daya Tahan Tubuh Masyarakat Miskin Di Pemukiman Kumuh Dibandingkan Masyarakat Menengah Atas Di Perumahan”

April 13, 2012

LATAR BELAKANG MASALAH

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik. Secara umum adaptasi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Adaptasi Morfolog Adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup.
  2. Adaptasi Fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik.
  3. Adaptasi Tingkah Laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya.

Penelitian tentang bentuk-bentuk adaptasi ini telah banyak dilakukan, khususnya oleh peneliti-peneliti ilmu alam (biologi), terutama yang berobjek hewan dan tumbuhan. Penelitian-penelitian yang ada sebelumnya tersebut membuktikan  bahwa hewan, tumbuhan, dan manusia purba Neanderthal, mampu beradaptasi terhadap berbagai lingkungan hidup maupun cuaca yang ekstrem. Penulis berpikir, bila makhluk hidup tersebut dapat beradaptasi dengan baik, apalagi manusia modern saat ini yang merupakan makhluk hidup dengan tingkat evolusi dan kesempurnaan yang paling tinggi secara fisik dan akal. Namun, penulis pada mata kuliah Antropologi Biologi akan mengkaji bentuk adaptasi-adaptasi tersebut pada manusia dalam perspeketif sosiologis antropologis, dengan menghubungkan proses-proses adaptasi tersebut dengan budaya hidup dan faktor-faktor penopangnya. Penulis akan membandingkan contoh kasus yang terjadi pada masyarakat miskin di daerah kumuh dan masyarakat menengah atas.

Pemenuhan kebutuhan makanan yang layak dan memenuhi persyaratan gizi masih menjadi masalah bagi masyarakat miskin yang merupakan mayoritas penghuni lingkungan kumuh. Terbatasnya kecukupan dan kelayakan mutu pangan berkaitan dengan rendahnya daya beli. Masyarakat di pemukiman kumuh mempunyai penghasilan yang pas-pasan, mungkin dengan penghasilannya tersebut mereka hanya dapat memenuhi kebutuhan makan mereka hanya satu kali sehari, atau mungkin mereka tidak dapat makan setiap hari, sekalipun mereka makan tetapi kualitas makanan yang mereka konsumsi belum tentu dapat dikatakan layak bagi manusia pada umumnya. Masyarakat di pemukiman kumuh banyak mengkonsumsi makanan bekas, mengais di tempat-tempat sampah untuk mencari  makanan yang menurut mereka masih layak untuk dimakan. Sedangkan di tempat sampah itu seperti diketahui pastilah mengandung bakteri penyakit yang sangat banyak.

Kondisi kesehatan masyarakat di daerah kumuh juga menurut ilmu kesehatan menduduki derajat yang sangat rendah. Penyebab utama dari rendahnya derajat kesehatan masyarakat daerah kumuh selain ketidakcukupan pangan adalah keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dasar, rendahnya mutu layanan kesehatan dasar, kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat, dan kurangnya layanan kesehatan reproduksi.

Tempat tinggal yang sehat dan layak merupakan kebutuhan yang masih sulit dijangkau oleh masyarakat kumuh. Secara umum, masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat kumuh adalah terbatasnya akses terhadap perumahan yang sehat dan layak huni, namun karena ketidak mampuannya tersebut mereka harus hidup di lingkungan dengan mutu lingkungan pemukiman yang rendah.

Khususnya di daerah perkotaan, keluarga miskin sebagian besar tinggal di perkampungan yang tidak layak dan sering satu rumah ditinggali oleh lebih dari satu keluarga. Data yang penulis ambil dari BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2010 rata-rata 30% rumah tangga di perkotaan tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak.  Data BPS lain menunjukkan pada tahun 2003 ada 17 Kabupaten/Kota termasuk daerah dengan jumlah keluarga lebih dari 19.000 yang bertempat tinggal di bantaran sungai dan permukiman kumuh[1]. Kondisi permukiman mereka juga sering tidak dilengkapi dengan lingkungan permukiman yang memadai. Untuk mendapatkan tempat bermukim yang sehat dan layak, mereka tidak mampu membayar uang muka untuk mendapatkan kredit pemilikan perumahan sangat sederhana dengan harga murah mereka juga tidak mampu.

Masyarakat miskin sering menghadapi kesulitan untuk mendapatkan air bersih. pada tahun 2010 BPS mencatat hampir 60% daerah perkotaan tidak mempunyai sumber air bersih yang layak[2]. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air, belum terjangkau oleh jaringan distribusi, menurunnya mutu sumber air, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya air bersih dan sanitasi untuk kesehatan.

Masyarakat miskin perkotaan yang tinggal di permukiman kumuh dan pinggiran sungai menghadapi kesulitan untuk dapat menjangkau layanan PDAM sehingga masih banyak masyarakat yang memanfaatkan air sungai dan sumur galian yang sudah tercemar untuk keperluan rumah tangga. Masyarakat miskin juga menghadapi masalah buruknya sanitasi dan lingkungan permukiman terutama yang tinggal di kawasan kumuh. Kondisi sanitasi dan lingkungan yang buruk berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan mereka terutama anak-anak dan ibu. Selain itu, masyarakat miskin juga kurang memahami pengelolaan sanitasi dan lingkungan hidup sebagai bagian dari perilaku hidup sehat.

Dari berbagai masalah-masalah di atas, menyebabkan kondisi kesehatan masyarakat kumuh sangatlah buruk. Namun, di balik semua itu, terdapat suatu bentuk respon dari tubuh masyarakat di daerah kumuh untuk dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi-kondisi di atas.  Selain itu mereka juga mensiasati keadaan tersebut dengan segala pola tingkah laku agar tetap dapat eksis di tengah berbagai kekurangan tersebut.

Seperti diketahui bahwa, sampai saat ini masyarakat di daerah kumuh terus berkembang pesat, dalam hal populasi, di luar faktor urbanisasi. Mereka dapat dengan cepat berkembang biak, walaupun kondisi lingkungan yang boleh dikatakan tidak memungkinkan untuk tetap menjaga keberlangsungan hidupnya. Bahkan, bila menurut teori-teori dari ilmu tentang kesehatan itu berlaku, seharusnya masyarakat yang hidup di lingkugan kumuh sudah seharusnya dengan mudah punah, karena kondisi kesehatan yang rentan dengan penyakit, namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya.

Berbeda dengan kondisi masyarakat golongan menengah ke atas. Makanan yang mereka konsumsi biasanya sudah terjamin kebersihannya, kandungan gizi dalam makanan juga biasanya menjadi perhatian mereka. Mereka menjadi sangat ketat dalam menentukan kriteria makanan yang akan mereka konsumsi. Dalam hal akses pelayanan kesehatan, mereka akan mendapat pelayanan yang memadai bila sedikit saja mengalami sakit. Mereka dapat langsung menuju rumah sakit, yang biaya ongkos pengobatannya jelas tidak akan mudah dijangkau oleh masyarakat miskin.

Bila dibandingkan dengan kondisi  perumahan masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas, jelas kondisi perumahan di lingkungan kumuh tidak ada apa-apanya bila dinilai tentang kelayakannya dalam hal kesehatan. Akses terhadap ketersediaan air bersih dan sarana sanitasi yang sehat, jelas bukanlah masalah yang sulit dalam perumahan masyarakat menengah ke atas.

Namun kondisi fisik dan daya tahan tubuh dari kedua golongan masyarakat ini sepertinya akan berbeda jika dihadapkan pada suatu kondisi lingkungan yang sama di luar lingkungan hidup mereka. Dengan pola-pola  adaptasi yang dikembangkan oleh tubuh dan adaptasi tingkah laku sebagai makhluk hidup tersebut, maka penulis mempunyai hipotesis bahwa walaupun hidup di lingkungan yang kulitasnya lebih rendah, daya tahan tubuh masyarakat miskin di daerah kumuh justru lebih kuat dan tangguh daripada masyarakat golongan menengah ke atas yang terbiasa hidup sehat dan tinggal di lingkungan  yang sehat pula.

 

POKOK PERMASALAHAN PENELITIAN

Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar bagi pemerintahan kita, hampir sebagian besar penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Belum lagi masalah tata kota yang semrawut, menyebabkan lingkungan kumuh tersebar di berbagai sudut kota. Kebijakan pemerintah mengenai tata kelola lingkungan yang tidak berjalan semakin memperburuk keadaan lingkungan perkotaan. Masih banyak industri yang membuang limbah sembarangan tanpa melihat akibat yang akan ditimbulkannya. Demikian pula kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan juga masih sangat rendah akibat pendidikan mengenai kesehatan lingkugan yang rendah.

Di tengah kesemrawutan tersebut ternyata masyarakat miskin  di daerah kumuh masih dapat eksis mempertahankan hidupnya. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, permasalahan pokok yang akan diteliti oleh penulis adalah:

  1. Bagaimana budaya hidup masyarakat yang dikembangkan masyarakat miskin untuk tetap eksis di tengah lingkungan kumuh yang tidak sehat?
  2. Bagaimana adaptasi tubuh secara fisiologi maupun morfologi masyarakat miskin di daerah kumuh merespon keadaan lingkungan dan asupan makanan yang tidak higienis dalam rangka mempertahankan keberlangsungan hidupnya?
  3. Bagaimana perbedaan dan perbandingan daya tahan tubuh antara masyarakat miskin yang tinggal di daerah kumuh dengan masyarakat menengah atas yang tinggal di perumahan yang layak secara kesehatan apabila dihadapkan dengan suatu keadaan lingkungan yang sama?

 

TUJUAN PENULISAN

Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat atas pertanyaan-pertanyaan yang telah di ungkapkan dalam pokok permasalahan di atas, yaitu:

  1. Menganalis budaya hidup masyarakat yang dikembangkan masyarakat miskin untuk tetap eksis di tengah lingkungan kumuh yang tidak sehat
  2. Menganalis adaptasi tubuh secara fisiologi maupun morfologi masyarakat miskin di daerah kumuh merespon keadaan lingkungan dan asupan makanan yang tidak higienis dalam rangka mempertahankan keberlangsungan hidupnya
  3. Mengidentifikasi perbedaan dan perbandingan daya tahan tubuh antara masyarakat miskin yang tinggal di daerah kumuh dengan masyarakat menengah atas yang tinggal di perumahan yang layak secara kesehatan apabila dihadapkan dengan suatu keadaan lingkungan yang sama.

TINJAUAN PUSTAKA

C. Michael Barton, Julien Riel-Salvatore, John M. Anderies, Gabriel Popescu. Modeling Human Ecodynamics and Biocultural Interactions in the Late Pleistocene of Western Eurasia. Human Ecology. 2011

Pemodelan komputasi yang digunakan adalah untuk meneliti bukti pada bagaimana kelompok-kelompok hominin berevolusi secara kultur dan biologis dalam menanggapi perubahan iklim selama Zaman Es terakhir, juga memberi wawasan baru tentang kepunahan Neanderthal. Rincian percobaan pemodelan kompleks yang dilakukan di Arizona State University dan University of Colorado Denver ini akan dipublikasikan dalam edisi Desember 2011 jurnal Human Ecology.

Untuk lebih memahami ekologi manusia, dan terutama bagaimana kebudayaan dan biologi manusia berevolusi secara berdampingan di antara pemburu-pengumpul di zaman Pleistocene Akhir di Barat Eurasia (kurang lebih 128.000-11.500 tahun yang lalu), tim peneliti  merancang kerangka teoretis dan metodologis yang memasukkan umpan balik pada tiga sistem evolusioner: biologis, budaya dan lingkungan. Salah satu hasil ilmiah yang menarik dari penelitian ini, yang mempelajari budaya dan lingkungan yang mendorong perubahan-perubahan perilaku penggunaan lahan, adalah bahwa hal ini menunjukkan bagaimana Neanderthal bisa menghilang bukan karena mereka kurang bisa bertahan dibandingkan semua hominin lain yang ada selama glasial terakhir, namun karena perilaku mereka yang sama canggihnya dengan manusia modern.

Tim peneliti interdisipliner menggunakan data arkeologis untuk melacak perubahan perilaku di Barat Eurasia selama 100.000 tahun dan menunjukkan bahwa mobilitas manusia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, mungkin dalam menanggapi perubahan lingkungan. Menurut Barton, Zaman Es terakhir menyaksikan para pemburu-pengumpul, termasuk Neanderthal dan nenek moyang manusia modern, dalam rentang yang lebih luas di seluruh Eurasia mencari makanan selama perubahan besar iklim bumi.

Para ilmuwan menggunakan pemodelan komputer untuk menjelajahi konsekuensi evolusi dari perubahan-perubahan tersebut, termasuk bagaimana perubahan dalam pergerakan Neanderthal dan manusia modern menyebabkan mereka untuk berinteraksi dan kawin silang  menjadi lebih sering.

Studi ini menawarkan bukti lebih lanjut bahwa Neanderthal lebih fleksibel dan berakal dari asumsi sebelumnya. Neanderthal telah membuktikan bahwa mereka mampu menyesuaikan diri dalam berbagai kesulitan dan ketika bertemu dengan lebih banyak manusia modern, mereka beradaptasi lagi. Tapi manusia modern mungkin melihat Neanderthal sebagai pasangan. Akibatnya, dari waktu ke waktu, Neanderthal terhapus sebagai populasi yang dikenali secara fisik.

Untuk mencapai kesimpulan mereka, para peneliti menjalankan program komputer untuk setara dengan 1.500 generasi, menunjukkan bahwa Neanderthal dan manusia modern memperluas rentang tahunan mereka, Neanderthal secara perlahan diserap oleh manusia modern yang lebih banyak hingga mereka menghilang sebagai populasi yang dikenali.

Peneliti menguji hasil pemodelan ini terhadap catatan arkeologi empiris dan menemukan adanya bukti bahwa Neanderthal, dan manusia modern, mengadaptasikan perilaku mereka dalam cara di mana kami memodelkannya. Pemodelan ini memprediksi jenis tingkat rendah campuran genetik gen Neanderthal yang ditemukan dalam penelitian genetik terbaru yang saat sekarang sudah dipublikasikan. Dengan kata lain, adaptasi perilaku yang sukses untuk kondisi lingkungan yang parah membuat Neanderthal, dan non-modern lain yang sedikit kita ketahui, rentan terhadap kepunahan biologis, namun pada saat yang sama, memastikan mereka membuat kontribusi genetik untuk populasi modern.

Jenis pemodelan yang peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah sangat baru dalam paleoantropologi, sebagaimana ruang lingkup benua pada analisis arkeologi kita digunakan untuk menguji hasil model. Bagaimanapun juga, pemodelan komputasi dapat memperbaiki pemahaman kita tentang dampak jangka panjang manusia terhadap lingkungan, yang dapat membantu menginformasikan keputusan penggunaan lahan untuk masa depan kita.

 

Barnes, I., Duda, A., Pybus, O., Thomas, M.G. Ancient Urbanisation Predicts Genetic Resistance to Tuberculosis. Evolution. 2010

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Evolution ini menunjukkan kalau di daerah dengan sejarah perkotaan yang tua, penduduk masa kini lebih mungkin memiliki varian genetik yang memberi kekebalan tubuh terhadap infeksi.

Di kota kuno, sanitasi yang buruk dan kepadatan populasi yang tinggi menjadi tempat ideal untuk berkembang biaknya penyakit. Seleksi alam berarti manusia harus mengembangkan pertahanan terhadap penyakit dalam populasi berusia panjang seiring waktu. Namun, asosiasi ini sangat sulit dipelajari, khususnya di masa pra sejarah.

Sekarang, para ilmuan dari UCL (University College London) dan Royal Holloway berhasil menguji teori ini dengan menganalisa sampel DNA dari 17 populasi manusia yang hidup di Eropa, Asia dan Afrika. Selain itu, mereka mencari literatur arkeologis dan historis untuk menemukan kota-kota tertua yang ada di daerah-daerah ini.

Dengan membandingkan laju resistensi penyakit genetik dengan sejarah perkotaan, mereka menunjukkan kalau paparan masa lalu pada patogen membawa pada resistensi penyakit menular yang menyebar dalam populasi, dimana leluhur kita menurunkan kekebalannya pada keturunannya. Hasilnya menunjukkan kalau varian pelindung ini ditemukan pada hampir semua orang dari Timur tengah hingga India dan sebagian Eropa dimana kota-kota telah ada selama ribuan tahun.

Metode yang peneliti pakai menggunakan data arkeologis dan historis sebagai alat untuk menjelaskan persebaran dan frekuensi varian genetik, dan menemukan sumber seleksi alam. Hal ini tampaknya contoh elegan evolusi yang sedang bekerja. Ia menandai pentingnya aspek terbaru evolusi kita sebagai spesies, perkembangan kota sebagai sebuah gaya seleksi. Ia juga dapat menjelaskan beberapa perbedaan yang kita amati pada pola kekebalan penyakit di dunia.

Kepadatan populasi tampaknya berperan penting dalam membentuk begitu banyak aspek spesies kita. Ia adalah faktor vital dalam evolusi kemampuan kompleks dan budaya dari spesies kita dan membedakan kita dengan primata lainnya. Ia mengendalikan banyak perbedaan genetik yang kita lihat sekarang antara berbagai populasi di dunia. Dan sekarang tampak kalau ia juga mempengaruhi bagaimana penyakit menular tersebar di masa lalu dan bagaimana kita ber evolusi untuk menghambat penyakit tersebut.

 

William F. Morris, Jeanne Altmann, Diane K. Brockman, Marina Cords, Linda M. Fedigan, Anne E. Pusey, Tara S. Stoinski, Anne M. Bronikowski, Susan C. Alberts, Karen B. Strier. Low Demographic Variability in Wild Primate Populations: Fitness Impacts of Variation, Covariation, and Serial Correlation in Vital Rates. The American Naturalist. 2010

Apa  kerabat terdekat dari spesies manusia? Jelas itu adalah monyet, kera dan primate lainnya, lalu apa yang membuat kerabat terdekat manusia itu lainnya berbeda dengan hewan lain? Menurut sebuah studi terbaru, satu jawabannya adalah primata kurang rentan terhadap pasang surutnya musim, khususnya curah hujan yang secara signifikan berpengaruh pada hewan lain. Temuan ini juga bisa membantu menjelaskan keberhasilan evolusi manusia purba, ungkap para ilmuwan.

Satwa liar menghadapi dunia yang tak terduga dari tahun ke tahun. Cuaca bisa sering berubah-ubah, bisa bertahun-tahun berlimpah makanan dan bertahun-tahun kelaparan. Untuk mengetahui seberapa baik primata mengatasi ketidakpastian ini dibandingkan dengan hewan lainnya, para peneliti yang bekerja pada National Evolutionary Synthesis Center (NESCent) di Durham, NC, menganalisis beberapa dekade data kelahiran dan kelangsungan hidup pada tujuh spesies primata liar: monyet muriqui dan monyet capuchin di Amerika Tengah dan Selatan, babon kuning, monyet biru, simpanse dan gorila di Afrika, serta sifakas (lemur) di Madagaskar.

Pengumpulan data ini bukanlah usaha kecil-kecilan. Hampir setiap hari selama lebih dari 25 tahun, tujuh tim peneliti bekerja di seluruh dunia dengan terus memantau kelahiran, kehidupan, dan kematian ribuan primata individu. Berkat basis data baru yang dikembangkan di NESCent, para ilmuwan mampu mengelompokkan data yang sudah susah payah mereka kumpulkan dan mencari kesamaan pada seluruh spesies.

Saat mereka membandingkan fluktuasi tahun ke tahun dalam kelangsungan hidup primata terhadap data yang sama pada hewan lain yaitu, dua lusin spesies burung, reptil, dan mamalia, mereka menemukan bahwa kelangsungan hidup primata tetap lebih stabil meskipun musiman pada curah hujan sangat bervariasi. Primata tampaknya bertahan dengan baik terhadap fluktuasi cuaca dan ketersediaan makanan yang relatif pada banyak hewan lainnya.

Sejumlah sifat-sifat ini dapat membantu melindungi primata dari pasang surutnya musim. Untuk satu hal, mereka bersifat sosial. Primata hidup dalam kelompok dan berbagi informasi dengan satu sama lain, jadi mereka lebih mampu untuk menemukan makanan dan air di saat terjadi kelangkaan. Primata juga mampu mengadaptasi pola makan secara luas dan fleksibel, yang memungkinkan mereka menyesuaikan diri pada musim kekurangan makanan favorit mereka. Primata akan makan daun, rumput, buah-buahan, bunga, kulit kayu, dan biji-bijian. Mereka adalah generalis.

Di masa lalu, sifat serupa mungkin juga dimiliki primata lain yaitu, manusia terhadap surut dan arus lingkungan, kata para ilmuwan. Manusia modern memiliki semua sifat yang sama dengan yang dimiliki spesies primata: kita pintar, kita memiliki jaringan sosial, dan kita memiliki pola makan yang luas. Manusia modern juga eksis selama periode ketika iklim Afrika berubah. Jadi, sifat-sifat sama yang memungkinkan primata non-manusia menangani lingkungan tak terduga saat ini mungkin juga telah memberi kontribusi pada keberhasilan manusia purba.

Jika primata unggul dalam mengatasi turun naiknya lingkungan, lalu mengapa begitu banyak dari mereka yang kini terancam punah? Meskipun terlindungi dari perubahan cuaca, kegiatan manusia tetap membuat mereka menjadi korban, kata para ilmuwan. Dengan hampir setengah dari primata di dunia saat ini dalam bahaya ke arah kepunahan karena perburuan dan kehilangan habitat.

 

Julien Riel-Salvatore. A Niche Construction Perspective on the Middle–Upper Paleolithic Transition in Italy. Journal of Archaeological Method and Theory. 2010

Penemuan antropolog Julien Riel-Salvatore menantang keyakinan ilmiah berusia setengah abad yang percaya bahwa Neandertal adalah manusia gua primitif bertengkorak tebal yang dikalahkan dan diusir oleh manusia yang lebih modern, yaitu kita, yang datang dari Afrika ke Eropa.

Penelitiannya ini diterbitkan bulan Desember 2010 dalam Journal of Archaeological Method and Theory. Penelitian ini dilakukan selama tujuh tahun di situs-situs Neandertal di Italia, dengan fokus utama pada kebudayaan Uluzzian yang telah punah.

Sekitar 42 ribu tahun lalu, kebudayaan Aurignacian, yang dibangun oleh Homo sapiens, muncul di Italia utara sementara Italia tengah terus dihuni oleh Neandertal dari kebudayaan Mousterian yang telah ada di sana selama setidaknya 100 ribu tahun. Pada masa ini, sebuah kebudayaan baru muncul pula di selatan, yang tampaknya dibuat oleh Neandertal. Mereka adalah Uluzzian dan mereka sangat berbeda.

Riel-Salvatore menemukan bintik proyektil, ochre, alat tulang, ornamen dan kemungkinan bukti adanya perburuan hewan kecil dan penangkapan ikan di situs arkeologis Uluzzian di Italia Selatan. Inovasi-inovasi demikian biasanya tidak diasosiasikan dengan Neandertal, sehingga hal ini menunjukkan kalau mereka ber evolusi secara independen, mungkin karena perubahan iklim yang dramatis. Lebih penting lagi, mereka muncul di daerah yang secara geografis terpisah dari manusia modern.

Jika Uluzzian adalah kebudayaan Neandertal, ini berarti kalau kontak dengan manusia modern tidak diperlukan untuk menjelaskan asal usul perilaku baru ini. Hal ini bertentangan dengan gagasan 50 tahun terakhir kalau Neandertal harus mengalami akulturasi dengan manusia sebelum mempelajari teknologi ini. Saat kami menunjukkan Neandertal dapat menemukan teknologinya sendiri, hal ini memberikan cahaya baru buat mereka. Istilahnya memanusiakan mereka.

Ribuan tahun lalu, Italia selatan mengalami pergeseran iklim dramatis, menjadi terbuka dan kering, kata Riel-Salvatore. Hidup Neandertal berhadapan dengan pilihan keras: beradaptasi atau mati. Bukti menunjukkan kalau mereka mulai menggunakan panah lempar atau panah busur untuk memburu hewan kecil untuk mencukupi langkanya mamalia besar yang sebelumnya mereka buru.

Fakta kalau Neandertal dapat beradaptasi pada kondisi baru dan berinovasi menunjukkan kalau mereka secara budaya sama dengan kita. Secara biologis mereka juga sama. Saya yakin mereka hanyalah subspesies manusia, bukannya spesies yang berbeda. Neandertal yang kekar pertama kali ditemukan di Lembah Neander, Jerman, tahun 1856. Tentang siapa mereka, bagaimana mereka hidup dan kenapa mereka punah masih belum jelas hingga sekarang. Penelitian menunjukkan kalau mereka menyumbangkan antara 1 hingga 4 persen bahan genetik mereka pada masyarakat Asia dan Eropa. Riel-Salvatore menolak teori kalau mereka dimusnahkan oleh manusia modern. Homo sapiens semata hanya lebih banyak dan memiliki laju reproduksi lebih tinggi, kata beliau. Penelitian ini menunjukkan kalau mereka manusia yang berbeda, tapi mereka tetap manusia. Kita dan mereka lebih mirip saudara daripada sepupu jauh.

 

S. P. Mahal, S. Browning, J. Li, I. Suponitsky-Kroyter, C. Weissmann. Transfer of A Prion Strain to Different Hosts Leads to Emergence of Strain Variants. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2010

Para ilmuwan dari kampus Florida The Scripps Research Institute telah menunjukkan bahwa prion, protein menular yang dapat menyebabkan penyakit neuro-degeneratif fatal seperti bovine spongiform encephalopathy (BSE) atau “penyakit sapi gila,” memiliki kemampuan beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan inang yang baru. Dalam hal ini, meskipun tidak memiliki DNA dan RNA, mereka berperilaku sama seperti virus, memproduksi mutasi struktural mengabadikan diri yang berbeda yang memberikan keuntungan evolusioner.

Charles Weissmann, mengungkapkan bahwa ketika strain prion tertentu dipindahkan dari sel-sel otak ke saluran sel yang berbeda, sifatnya secara bertahap berubah, sehingga menimbulkan strain varian yang memungkinkannya mampu beradaptasi lebih baik dengan lingkungan selular baru. Jika prion-prion yang sama kemudian dipindahkan ke barisan sel lain, mereka berubah lagi, beradaptasi dengan sel-sel inang baru. Dan jika kembali ke otak, prion secara bertahap kembali ke sifat aslinya. Telah ditemukan bukti fisik bahwa, setidaknya dalam satu kasus, lipatan prion berubah ketika sifat-sifatnya berubah.

Karena prion bisa beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, sekarang menjadi jelas bahwa ini akan lebih sulit dari yang diperkirakan untuk bisa menemukan obat yang bekerja terhadap mereka. Tapi jika Anda bisa mengembangkan obat yang menghambat pembentukan protein prion normal, Anda bisa, pada dasarnya, membuat prion menular ini kelaparan dan mencegah mereka berkembang biak. Pendekatan ini untuk perawatan, meskipun secara teknis, bisa dipertimbangkan karena, seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, perampasan PrP ini tidak merusak kesehatan, setidaknya pada kesehatan tikus.

Prion, yang terdiri hanya dari protein, diklasifikasikan berdasarkan strain yang berbeda, dicirikan berdasarkan waktu inkubasi mereka dan penyakit yang disebabkannya. Selain BSE/penyakit sapi gila, penyakit yang disebabkan oleh prion termasuk scrapie pada domba, penyakit wasting kronis pada rusa, dan varian penyakit Creutzfeldt-Jakob pada manusia. Prion memiliki kemampuan mereproduksi, meskipun faktanya mereka tidak mengandung genom asam nukleat.

Sel normal mamalia menghasilkan protein prion seluler atau PrPC. Selama infeksi, protein abnormal atau gagal melipat, yang dikenal sebagai PrPSc – mengubah protein prion inang normal menjadi bentuk yang beracun dengan mengubah konformasi atau bentuknya. Tahap akhirnya terdiri dari lembaran besar (polimer) dari protein yang gagal melipat, yang menyebabkan kerusakan pada jaringan dan sel besar.

Protein prion menular dapat melipat dengan cara yang berbeda, dan tergantung pada lipatannya, suatu hasil strain prion yang berbeda. Selama prion ditempatkan di dalam inang yang sama, mereka mempertahankan lipatan karakteristik mereka, sehingga strainnya berkembang biak secara benar. Bagaimanapun juga, saat prion berkembang biak, lipatannya tidak selalu direproduksi dengan benar, sehingga populasi prion mengandung banyak varian, meskipun pada tingkat yang rendah.

Studi baru menemukan bahwa ketika populasi prion ditransfer ke inang yang berbeda, salah satu variannya dapat mereplikasi dengan lebih cepat – sebuah keuntungan evolusi – dan menjadi strain yang dominan. Populasi baru ini juga mengandung varian, salah satunya dapat dipilih di atas yang lain saat ditransfer ke inang yang berbeda. Hasilnya, meskipun tanpa bahan genetik, prion berperilaku mirip dengan virus dan patogen lainnya, mereka dapat bermutasi dan mengalami seleksi evolusioner. Mereka melakukannya dengan mengubah lipatan mereka, sedangkan virus memunculkan perubahan dalam urutan asam nukleat mereka.

 

National Research Council. Understanding Climate’s Influence on Human Evolution. Washington: National Academic Press. 2010

Laporan penelitian NRC (National Research Council) terbaru dari AS memeriksa bukti fauna dan iklim purba yang berada di balik hipotesis bahwa perubahan iklim bumi di masa lalu telah mempengaruhi evolusi kita. Hal ini karena sejumlah penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa pergeseran iklim besar di masa lalu bumi seringkali disertai dengan pertukaran fauna yang sangat tinggi, kepunahan massal mendadak, munculnya spesies-spesies baru dan inovasi-inovasi baru pada fisik dan fisiologi mahluk hidup. Ambil contoh peristiwa perubahan iklim besar 34 juta tahun lalu. Saat itu Bumi mendingin dengan cepat dan benua Antartika terbentuk. Banyak taksa mahluk hidup yang muncul saat ini juga teradaptasi untuk hidup dalam lingkungan baru yang lebih dingin, lebih cepat berubah dan padang rumput yang kering.

1.9 juta tahun lalu, Homo erectus pertama kali muncul. Ia adalah spesies manusia purba pertama yang mirip dengan manusia modern. Otaknya besar, pola gigi yang sama dan bentuk tubuh yang relatif sama. 1.6 juta tahun yang lalu, atau 300 ribu tahun kemudian, peradaban batu Acheulean muncul termasuk ditemukannya kapak genggam dua sisi. Periode ini juga disertai dengan migrasi besar-besaran keluar dari Afrika menuju Eropa dan Asia Selatan.

Di masa ini pula, iklim di Afrika berubah. Antara 1.8 hingga 1.6 juta tahun lalu, iklim Afrika berubah menjadi tak teramalkan, dingin dan panas bergantian secara mendadak. Menurut para ilmuan, perubahan ini terjadi tiap 20 ribu tahun di masa tersebut. Ini berarti 20 ribu tahun panas sekali, kemudian 20 ribu tahun dingin sekali, begitu seterusnya. Periode 20 ribu tahun sendiri merupakan periode presesi orbit bumi.

Sekarang pola iklim di Afrika memang masih berubah. Ia telah berganti-ganti panas dingin sejak 5 juta tahun terakhir. Walau begitu, perubahan iklim yang terjadi tidak seekstrim 1.8 hingga 1.6 juta tahun lalu. Sungguhpun demikian, pola yang terjadi sekarang sudah cukup seram bagi kita. 15 ribu hingga 5 ribu tahun lalu, gurun Sahara adalah hutan belantara dengan danau besar dan fauna melimpah ruah. Sekarang lihatlah. Jangan terlalu menyalahkan manusia. Sebagian hal ini disebabkan oleh pola perubahan iklim dengan periode 20 ribu tahun.

Pada masa panasnya, angin debu menyapu Afrika. Angin debu besar ini mulai muncul 2,8 juta tahun lalu, tapi seperti yang telah kita duga, ia paling besar antara 1.8 dan 1.6 juta tahun lalu. Daerah yang paling parah mengalami kekeringan adalah Afrika Timur.

Sebagaimana kita tahu, leluhur manusia modern berasal dari Afrika Timur. Bukan hanya leluhur manusia modern, namun sejumlah manusia purba lainnya. Sekarang kita bisa menduga, seperti para ilmuan, bahwa leluhur kita bisa sampai ke Indonesia dan bagian lain dunia ini gara-gara takut dengan angin debu. Berjalan kaki sambil menetap sementara waktu dalam perjalanan darat dari Afrika Timur ke Indonesia memakan waktu jutaan tahun. Hal ini cukup membuat sejumlah tampilan morfologis dan fisiologis leluhur manusia modern berubah menjadi sekarang.

Hasil penelitian NRC membuktikan kebenaran hipotesis ini. Perubahan iklim besar di Afrika Timur membawa pada spesiasi, kepunahan, perubahan morfologi dan perilaku leluhur kita. Iklim ganas ini membentuk kita sebagai manusia seperti sekarang. Kita adalah anak-anak badai.

 

Anne Minard. Hudson River Fish Evolve Toxic PCB Immunity. Februari 2011

Sejak tahun 1947 hingga 1976, Sungai Hudson adalah hulu bisnis dari beberapa perusahaan pencemar air terbesar di AS. Sebagai contoh, lebih dari setengah juta kilogram PCB dari General Electric sendiri membuat sungai tersebut menjadi salah satu perairan terburuk di AS.

Ikan tomcod Atlantik yang hidup di sungai tersebut telah mengevolusikan sesuatu yang unik. Sementara ikan-ikan lainnya mati, selama 20 hingga 50 generasi, ikan-ikan tomcod justru membangun kekebalan tubuh terhadap racun di air. Tentu saja sebagian disebabkan oleh rekan-rekannya yang lemah telah mati dan tidak menghasilkan keturunan yang kebal.

Sebagian besar ikan memiliki gen reseptor yang mengandung protein yang mengatur efek dari racun. Tomcod memiliki gen tersebut, namun dalam beberapa tahun terakhir, versi mereka telah menjatuhkan enam pasangan basa, bagian DNA tempat menempelnya molekul racun tersebut. Gen dengan enam pasangan basa ini adalah hasil mutasi dari racun yang datang dari sungai ke DNA sang ikan.

 

Alex Marquardt, Bill Blakemore, Ross Eichenholz. Stray Dogs Master Complex Moscow Subway System. Maret 2010

Saat ini, ada sekitar 35 ribu anjing jalanan di Moskow. Selama beberapa generasi pembiakan, para anjing menjadi kian pintar sesuai lingkungan perkotaan yang semakin kompleks. Karena hanya 3 persen anjing jalanan di Moskow yang mampu bertahan hidup hingga menghasilkan keturunan, keturunan anjing-anjing jalanan yang paling tangguh dan paling pintar lah yang memenuhi Moskow.

Anjing-anjing Moskow membentuk gang-gang yang telah belajar bagaimana mengirimkan anggotanya yang paling kecil dan imut untuk meminta makanan dari para manusia. Anjing yang besar telah belajar menggonggong dan menangkap : melompat dan menyalak pada orang yang sedang makan snack, membuatnya menjatuhkan makanan tersebut, dan mengambil makanan yang jatuh tersebut.

 

J. Ramsey. From the Cover: Polyploidy and Ecological Adaptation in Wild Yarrow. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2011

seorang biologiwan Universitas Rochester telah menemukan kalau setidaknya beberapa adaptasi tanaman dapat terjadi hampir seketika, bukan lewat perubahan barisan DNA, namun semata dengan duplikasi bahan genetik yang telah ada. Penemuan Justin Ramsey ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.

Sementara hampir semua hewan memiliki dua set kromosom, satu set diwariskan dari ibu dan satu dari ayah, banyak tanaman bersifat poliploid, yang artinya mereka punya empat atau lebih set kromosom. Sebagian ahli botani bertanya apakah poliploid memiliki sifat baru yang memungkinkan mereka bertahan terhadap perubahan lingkungan atau mengkoloni habitat baru. Namun gagasan ini belum pernah diuji sebelumnya.

Penanam tanaman sebelumnya telah menginduksi poliploidi pada tanaman pertanian, seperti jagung dan tomat, dan mengevaluasi konsekuensinya di rumah kaca atau kebun. Pendekatan eksperimental demikian tidak pernah dilakukan pada spesies tanaman liar, kata Ramsey, jadi tidak diketahui bagaimana poliploidi mempengaruhi kesintasan dan reproduksi tanaman di alam.

Ramsey memutuskan melakukan tesnya sendiri dengan mempelajari yarrow liar (Achillea borealis) yang umum ditemukan di pesisir Kalifornia. Yarrow dengan empat set kromosom (tetraploid) hidup di habitat lembab padang rumput di bagian utara daerah studi Ramsey; yarrow dengan enam set kromosom (heksaploid) tumbuh di habitat pasir di selatan.

Ramsey mentransplantasi yarrow tetraploid dari utara ke habitat selatan dan menemukan kalau yarrow heksaploid asli memiliki keunggulan kesintasan lima kali lipat dari yarrow tetraploid yang ditransplantasikan. Eksperimen ini membuktikan kalau tanaman selatan secara intrinsik teradaptasi dengan kondisi kering; walau begitu, tidak jelas apakah perubahan jumlah kromosom yang bertanggung jawab. Seiring waktu, populasi heksaploid alami dapat menumpuk perbedaan barisan DNA yang meningkatkan kinerja mereka di habitat kering dimana mereka sekarang tinggal.

Untuk menguji gagasan ini, Ramsey mengambil yarrow heksaploid mutan generasi pertama yang dipindai dari populasi tetraploid, dan mentransplantasikannya ke habitat berpasir di selatan. Ramsey membandingkan kinerja yarrow yang ditransplantasi dan menemukan kalau mutan heksaploid memiliki 70 persen keunggulan kesintasan daripada saudaranya yang tetraploid. Karena tanaman tetraploid dan heksaploid memiliki latar belakang genetik yang sama, perbedaan kesintasan mereka langsung dikarenakan jumlah set kromosom bukannya barisan DNA yang terkandung dalam kromosom.

Ramsey menawarkan dua teori untuk kesintasan tanaman heksaploid yang lebih tinggi. Mungkin isi DNA mengubah ukuran dan bentuk sel pengatur pembukaan dan penutupan pori kecil di permukaan daun. Hasilnya, laju lewatnya air di daun yarrow berkurang dengan peningkatan jumlah set kromosom (ploidi). Kemungkinan lain, menurut Ramsey, adalah penambahan set kromosom menghalangi pengaruh gen perusak tanaman, sama dengan yang menyebabkan cystic fibrosis dan penyakit genetik lain pada manusia.

Ramsey mengungkapkan bahwa kadang mekanisme adaptasi bukanlah perbedaan dalam gen, ia adalah perbedaan jumlah kromosom. Sementara para ilmuan sebelumnya percaya kalau poliploidi berperan dalam penciptaan famili gen – kelompok gen dengan fungsi-fungsi berhubungan, mereka tidak yakin apakah duplikasi kromosom itu sendiri punya manfaat adaptif. Sekarang, Ramsey mengatakan para ilmuan harus memperhatikan lebih baik pada jumlah kromosom, bukan hanya sebagai mekanisme evolusi, namun sebagai bentuk variasi genetik untuk melestarikan tanaman langka dan terancam punah.

 

Glenn R. Summerhayes, Matthew Leavesley, Andrew Fairbairn, Herman Mandui, Judith Field, Anne Ford, and Richard Fullagar. Human Adaptation and Plant Use in Highland New Guinea 49,000 to 44,000 Years Ago. Science. Oktober 2011

Para arkeolog telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa manusia purba telah menerjang suhu dingin untuk menduduki dataran tinggi di Papua New Guinea demi mencari makanan 50.000 tahun yang lalu. Bekerja di lima situs arkeologi sekitar 2.000 meter (6.500 kaki) di atas permukaan laut, para peneliti dari Papua New Guinea, Australia dan Selandia Baru menemukan kulit biji yang hangus dari pohon pandan, dan peralatan batu di mana melalui penanggalan radioisotop menunjukkan sudah ada pada 50.000 tahun yang lalu.

Glenn Summerhayes, mengungkapkan bahwa ini adalah bukti pertama orang berada di dataran tinggi pada awal masanya. Para ahli telah lama mengasumsikan bahwa manusia paling awal meninggalkan Afrika dan kemudian bergerak di sepanjang daerah pesisir hangat untuk menempati seluruh planet ini, tapi Summerhayes mengatakan temuan mereka menunjukkan bahwa itu belum tentu demikian. Ini kesaksian pada manusia yang mampu beradaptasi.  Tim ini berasumsi (sebelumnya) bahwa manusia modern awal adalah konservatif, beradaptasi dengan iklim pantai yang lebih hangat dan ini memungkinkan mereka menyebar di seluruh planet ini dengan cukup cepat. Peneliti miliki bukti bahwa mereka benar-benar cukup beradaptasi, bergerak sampai ke lingkungan yang tinggi untuk mencari pandan, yang berarti mereka memiliki pengetahuan tentang penggunaan tanaman sebelumnya.

Pohon menghasilkan daun pandan yang berguna dan buah mirip-nanas. Para peneliti juga menemukan butir pati dari ubi, yang mereka percaya mungkin dikumpulkan dari situs alam saat mereka tumbuh di dataran rendah yang hangat.

Para pemukim awal membersihkan lahan di dataran tinggi untuk membudidayakan tanaman tersebut, kata Summerhayes. Kapak-kapak batu yang ditemukan kemungkinan besar digunakan untuk memotong vegetasi dan membuka lahan di hutan untuk membiarkan sinar matahari masuk dan untuk makanan dan tanaman berguna lainnya. Suhu pada ketinggian mencapai 68 derajat Fahrenheit (20 derajat Celcius) di bagian terpanas di siang hari dan turun ke titik beku pada malam hari. Mereka harus mengenakan semacam pakaian. Jika Anda tidak memiliki pakaian di atas sana, Anda akan mati karena hipotermia.


[1] Diambil dari www.bps.go.id, pada tanggal 5 Januari 2012, pukul 14.00 WIB

[2] Diambil dari www.bps.go.id, pada tanggal 5 Januari 2012, pukul 14.00 WIB

 

2 Komentar
  1. octaviani ranakusuma permalink

    terima kasih u postingnya yang menarik. Kebetulan saya memiliki ketertarikan yang sama terhadap kesehatan pada dua kelompok sosial ekonomi ini pak (SES atas vs. SES rendah). Saya Octaviani, pak yang sedang melakukan penelitian untuk disertasi saya. Bolehkah saya memperoleh laporan penelitian bapak yang lengkap sebagai bahan rujukan? terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: