Skip to content

PETANI DATARAN TINGGI YANG SEDANG BERUBAH: MINANGKABAU DAN BATAK TOBA

April 13, 2012

Orang asli Minangkabau dan Batak Toba sebagian besar sama-sama berprofesi sebagai petani sawah, namun mereka tidak hanya terlibat pertanian persawahan, tapi juga pertanian berpindah secara ekstensif. Suku Minangkabau dan Batak Toba, secara intern terbagi dalam kelompok kekerabatan menubuh, yang menjadi pemilik dan pengendali tanah dan merupakan struktur politik desa. Dalam masyarakat Minang dan Batak Toba, hamper tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi seperti di Jawa, Bali dan Kerajaan Pesisir lainnya.

Desa minang pada pokoknya merupakan suatu perserikatan dari kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen kecil, yang masing-masing punya suatu bagian tanah pertanian. Klen kecil ini mempunyai satu pimpinan (pangulu), yang mempunyai kekuasaan atas tanah dan tindak-tanduk kaum kerabatnya.

Pemilikan tanah menjadi fungsi inti dari klen kecil ini, dan amat sedikit yang dimiliki secara pribadi. Suku membagi-bagi tanahnya kepada keluarga dalam suku, bila satu keluarga punah, maka tanahnya akan kebali menjadi hak milik suku. Ada tiga jenis hak milik dalam masyarakat Minangkabau. Pertama, harto pusako, yaitu harta yang dimiliki berdasarkan garis keturunan. Kedua, harto pencarian, yaitu harta yang dimiliki karena usaha sendiri, dan hanya dimiliki oleh pemiliknya sampai meninggal. Ketiga, harta ulayat, yaitu harta yang dimiliki nagari, yang berupa hutan-hutan yang mengelilingi desa.

Pemerintahan desa Minangkabau dibagi menjadi dua jenis sistem. Pertama, demokratis, dimana keputusan dibuat oleh dewan, yang terdiri dari pangulu dari semua klen kecil yang ada. Kedua, otokratis, dalam system ini klen-klen kecil mempunyai ikatan, dan membentuk empat suku utama yang masing-masing dipimpin oleh pangulu andiko atau pangulu kepala. Salah satu dari pangulu andiko ini menjadi pangulu pacu’ yaitu pimpinan tertinggi di desa yang menentukan suatu keputusan. Namun kedua jenis system ini kurang tepat juga bila digolongkan menjadi demokratis dan otokratis, karena pada kedua system ini, keputusan diambil setelah diadakan pembicaraan terbuka dikalangan pangulu.

Pangulu dalam sebuah klen mempunyai pangkat yang amat dihormati, ia dipilih dari calon-calon yang dianggap paling mampu untuk memimpin, baik karena kemampuan pribadi, kekayaan, maupun kekuatan moral yang dimilikinya. Seorang pangulu melambangkan ambisi suku untuk membangun prestise dalam desa.

System hubungan keluarga dalam suku Minangkabau adalah matrilineal, dimana garis keturunan, maupun hak atas tanah diperhitungkan melalui garis ibu. Yang berkuasa atas seluruh keluarga bukanlah suami, tapi saudara laki-laki dari istri yang disebut dengan mama’. Ia bertanggung jawab atas saudara perempuan dan anak-anaknya.

Hampir semua masyarakat Minang beragama Islam. Ini justru menawarkan fleksibelitas pada struktur kemasyarakatan Minang, terutama pada titik lemahnya, yaitu pemuda. Pemuda dalam desa dalam posisi yang tidak enak, ia hanya pasif sampai diminta kawin oleh keluarga perempuan, dan agar tawaran itu datang, ia harus membuktikan kemampuan dan watak moralnya. Sedangkan dalam keluarganya sendiri ia hanya mempunyai status yang kurang penting, posisi-posisi penting sudah diisi oleh orang-orang yang lebih tua. Sehingga lebih baik baginya untuk belajar ke sekolah Islam dan kembali sebagai ahli ilmu pengetahuan yang dihormati. Pilihan lain adalah pergi keluar daerah untuk bekerja, dan kembali sebagai orang yang sukses. Itulah bukti dari kemampuannya, sehingga ia dapat berhasil dalam hal adat istiadat, mengharumkan nama anggota-anggota sukunya, yang pada akhirnya ia dapat memakai gelar kehormatan sukunya. Jadi dapat dikatakan bahwa merantau adalah suatu keharusan bagi pemuda Minang.

Perubahan lain adalah radikal dalam pertanian. Dari pertanian yang cukup hanya untuk makan, menjadi pertanian yang berorientasi komersil seperti kopi, karet, dan kelapa. Selain itu ada perubahan dalam memandang harto pusako dan harto pencarian. Harta pencarian artinya diperluas sedemikian rupa, sehingga walaupun pemilik pertama telah meninggal, harta itu tetap dimiliki secara pribadi. Sedangkan harto pusako, jumlahnya semakin berkurang, karena setelah dibagi-bagi kepada keluarga-keluarga yang berhak, banyak yang dijual.

Sama dengan suku Minang, orang Batak Toba juga mengalami kebangkitan masyarakat tanpa mengorbankan susunan kecil tradisionalnya. Hanya saja, model pertanian tradisional dan hak kepemilikan atas tanah tidak mengalami perubahan. Orang Batak Toba lebih mengintensifkan hasil sawah mereka (padi) untuk dijual ke pasar Sumatera Timur yang semakin berkembang.

Orang Batak Toba, awalnya mendiami lembah-lembah pegunungan dekat Danau Toba, dan semakin menyebat ke dataran rendah di Sumatera Timur. Disana mereka berdampingan dengan kelompok Batak lainnya, seperti Batak Karo, Batak Angkola, Batak Mandailing. Mereka berbicara dengan berbagai dialek Batak yang berbeda. Beberapa diantara mereka saling tidak mengerti satu sama lain. Kelompok-kelompok Batak ini mempunyai sistem kekerabatan yang sama, yang berbeda adalah adaptasi ekologisnya. Batak Toba adalah kelompok yang paling dekat hubungannya dengan persawahan.

Pemukiman Orang Batak Toba biasa disebut dengan nama huta, merupakan sekelompok rumah ditengah sawah. Dulu huta merupakan desa tersendiri yang lengkap. Tapi sekarang masyarakat pokok adalah rangkaian yang lebih besar dari pemukiman yang tersebar dan dihubungkan dengan rapat oleh hubungan kekerabatan. Anggota desa merupakan sejumlah klen patrilineal, yang terdiri dari klen-klen kecil setempat yang merupakan keluarga pemilik tanah. Apabila suatu daerah sudah terlalu banyak penduduknya, maka sekelompok orang yang ada hubungan kekerabatan pindah menuju daerah baru, dan mengklain tanah peetanian sekitarnya sebagai hak milik mereka. Keluarga yang pertama membuka tanah disebut sebagai marga raja dan dianggap punya hak asli atas seluruh daerah desa. Mereka tetap mempertahankan nama marga, namun tidak berhak lagi atas tanah di desa asal.

Seperti pada orang Minang, hubungan tanah dan kelompok keturunan pada Orang Batak Toba bukanlah hubungan hak milik seperti dalam hukum Barat, tapi merupakan hubungan pengawasan moral. Kelompok keturunan menggunakan bidang-bidang tanah tertentu sebagai hak milik mereka dan bertanggung jawab agar masing-masing individu dalam klen mempunyai tanah untuk digarap.

Sistem hubungan keluarga orang Batak Toba adalah patrilineal. Jadi dalam huta ada sejumlah keluarga yang menganggap bahwa mereka memiliki hubungan patrilineal. Tempat tinggal setelah perkawinan adalah patrilokal atau desa suami. Orang Batak Toba mempunyai solidaritas yang kuat, baik antara teman-teman seketurunan maupun kaum kerabat yang dihubungkan oleh tali perkawinan.

Keterasingan orang Batak Toba, mulai hiloang pada pertengahan abad ke-19, bersama dengan masuknya penyiar agama Protestan dan pemerintahan Belanda, juga dengan dibukanya perkebunan di dataran rendah Sumatera Timur. Kurang lebih setengah dari orang Batak Toba beragama Kristen. Gereja memperkenalkan bentuk organisasi kemasyarakatan yang baru. Desa-desa yang berdekatan dikumpulkan dalam satu sekolah gereja, sehingga huta yang tadinya merupakan dunia kecil yang berdiri sendiri diganti menjadi masyarakat setempat yang lebih luas. Hal itu diperkuat oleh Belanda yang memperkenalkan pemerintahan dengan kesatuan wilayah yang lebih luas. Huta dan desa disatukan menjadi kampung atau negari administratif. Kepala dari kampung ini dipilih dari orang-orang yang memenuhi syarat-syarat jabatan, termasuk pengetahuannya tentang dunia luar. Dari sini muncul bentuk kepemimpinan yang baru. Para petani Batak Toba pada umumnya tidak lagi mengakui keabsahan hak istimewa kemasyarakatan turun menurun dari marga raja. Sehingga setiap orang punya kesempatan yang sama untuk naik.

Perubahan lain, adalah perpindahan besar-besaran orang Batak Toba dari dataran tinggi menuju dataran rendah untuk menjadi petani liar, dengan menduduki tanah-tanah bekas perkebunan perusahaan penjajah. Mereka kemudian mengklaim berhak untuk tetap tinggal disana berdasarkan hukum adat. Orang Batak Toba bukan satu-satunya yang menyerobot tanah perkebunan itu. Tapi ada juga orang Jawa yang sebelumnya banyak menjadi buruh di perusahaan perkebunan tersebut, Melayu Pantai, dan Minang. Di desa yang baru itu, ada orang Batak Toba yang membuat rumah secara terkumpul dan saling berhadapan seperti di desa asli mereka di daerah pegunungan. Tapi secara keseluruhan masyarakat desa merupakan kesatuan masyarakat yang terpecah-pecah  oleh perbedaan etnis.

 

Referensi: Aneka Warna Masyarakat Indonesia, karya: Hildred  Geertz

From → Antropologi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: