Skip to content

Review BUKU KEBUDAYAAN, MENTALITET DAN KEBUDAYAAN. Karya : Koentjaraningrat

April 18, 2012

Seminar Perkembangan Sosial-Budaya dalam Pembangunan Nasional yang diselenggarakan oleh LIPI pada tahun 1970 menyimpulkan bahwa sikap mental orang Indonesia umumnya belum siap untuk pembangunan. Sejak saat itu mulai diperkenalkan kepada masyarakat ramai pendekatan sosio-kultural terhadap pembangunan. Koentjaraningrat, guru besar dalam antropologi budaya pada beberapa universitas terkemuka di Indonesia serta mempunyai reputasi internasional di bidang kebudayaan merupakan salah seorang tokoh budayawan terkemuka Indonesia yang pada waktu itu mulai memperkenalkan pendekatan kultural terhadap pembangunan. Buku Kebudayaan, Mentalitet dan Kebudayaan” ini sebagian besar merupakan rangkaian karangan ilmiah populer yang pernah ditulisnya pada harian Kompas dengan judul: Kini Sering Orang Bertanya, pada awal tahun 1974. Di samping itu masih ada karangan lain yang merupakan reportase perjalanannya ke Jepang[1].

Pada awal buku ini Koentjaraningrat melempar isu tentang apa sebenarnya isi dari kebudayaan.  Banyak orang yang mengartikan konsep kebudayaan dalam arti yang terbatas/sempit, bahwa kebudayaan ialah pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang memenuhi hasratnya akan keindahan. Sebaliknya, banyak juga orang terutama para ahli ilmu sosial, mengartikan konsep kebudayaan itu dalam arti yang amat luas, yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak  berakar kepada nalurinya dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Karena begitu luasnya analisa tentang konsep kebudayaan itulah, perlu ada unsur-unsur yang disepakati bersama, yang merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia ini. Itu semua  dirangkum dalam unsur-unsur kebudayaan universal, antara lain:

  1. Sistem religi dan upacara keagamaan
  2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan
  3. Sistem pengetahuan
  4. Bahasa
  5. Kesenian
  6. Sistem mata pencaharian hidup
  7. Sistem teknologi dan peralatan

Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan itu minimal mempunyai tiga wujud, yaitu:

  1. Wujud ide: wujud kebudayaan sebagai suatu komplek dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dsb.
  2. Wujud kelakuan: wujud kebudayaan sebagai suatu komplek aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud fisik: wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil  karya  manusia.

Selanjutnya, Koentjaraningrat juga membahas  tentang apa yang disebut dengan sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Menurut kerangka yang dikembangkan seorang ahli antropologi Clyde Kluckhohn, semua sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia itu, sebenarnya mengenai lima masalah pokok dalam kehidupan manusia, yaitu:

  1. Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (MH)
  2. Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (MK)
  3. Masalah mengenai hakekat dari  kedudukan manusia dalam ruang waktu (MW)
  4. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya (MA)
  5. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (MM)

Lalu, apa yang dimaksud dengan mentalitet? Mentalitet bukanlah suatu konsep ilmiah yang artinya sudah fix, istilah itu adalah suatu istilah sehari-hari dan biasanya diartikan sebagai keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menganggapi lingkungannya.

Selanjutnya dibahas tentang kelemahan sifat mentalitet bangsa Indonesia dalam  pembangunan. Menurut Koentjaraningrat, kelemahan-kelemahan tersebut adalah:

  1. Sifat mentalitet yang meremehkan mutu
  2. Sifat mentalitet yang suka menerabas
  3. Sifat tidak percaya kepada diri sendiri
  4. Sifat tidak berdisiplin murni
  5. Sifat tidak bertanggung jawab

Koentjaraningrat memberikan tentang mentalitet nilai budaya yang harus dimiliki oleh suatu bangsa yang ingin mengintensifkan usaha pembangunan, antara lain:

  1. Nilai budaya yang berorientasi masa depan, ini akan mendorong manusia untuk melihat dan merencanakan masa depannya dengan  lebih teliti.
  2. Nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam, ini akan menambah kemungkinan inovasi, terutama inovasi dalam teknologi
  3. Nilai budaya yang menilai tinggi (achievement) hasil karya dari manusia, dan pada  akhirnya dapat mewujudkan mentalitet berusaha atas kemampuan sendiri, percaya kepada diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggung jawab.


[1] Diambil dari http://www.gramediashop.com. Kamis 17 November 2011, pukul 17.00 WIB

From → Antropologi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: