Skip to content

TUJUAN HIDUP MANUSIA

Maret 12, 2012

Data Publikasi:

  1. Judul  Buku                                   : Islam Agama Universal
  2. Pengarang                                     : Kaelany  HD
  3. Kota dan Nama Penerbit         : Jakarta, Midada Rahma Press
  4. Tebal  Buku                                   : 292 halaman

Manusia sebagai makhluk yang sempurna dan istimewa tidaklah seperti halnya hewan dan tumbuhan yang hidup tidak dibebani tanggungjawab, dan bukan pula seperti yang dipahami oleh kalangan materialisme yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dari benda akan kembali kepada benda yang pada hakekatnya menurut kepercayaan ini dapat langgeng adalah benda, dari tanah akan kembali kepada tanah dan tidak ada tanggung jawab atas segala perbuatan di dunia ini. Karena itu, menurut paham mereka, nikmatilah hidup yang sekali ini dengan sepuas-puasnya, tidak perlu memperhatikan apakah sesuatu itu halal atau haram. Paham ini yang dikenal dengan hedoinisme (Hedone (Yun) = kepuasan), menimbulkan kesan bahwa seolah-olah manusia makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan-hewan yang hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan kebendaan belaka: makan, minum, seks dsb. Tuhan melukiskan pandangan mereka dalam Al-Qur’an:

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia ini saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah, 45:24).

Manusia, kapan dan untuk apa diciptakan telah menjadi bahan pemikiran dan perbincangan yang menarik sepanjang masa. Kalangan materialisme dalam pemikirannya selalu bertolak pada benda, memandang segala sesuatu berasal dari materi dan akan kembali kepada materi. Di dunia ini mereka anggap sebagai satu-satunya tempak kehidupan (sekularis), dan tidak ada kehidupan lain selain setelah di dunia ini. Karena itu mereka menganjurkan agar menggunakan kehidupan yang sekali ini, di dunia ini, untuk meraih kenikmatan hidup sepuas-puasnya.

Menurut Islam, kehidupan manusia sesungguhnya berpindah-pindah dari suatu alam kea lam lain. Mulanya hidup di alam arwah, kemudian di alam arham, dalam kandungan ibu lalu hidup di kurun dunia. Pada suatu saat dia akan mati dan hidup di alam barzakh, suatu alam penantian yang merupakan dinding, antara dua kurun, sejak mati hingga dibangkitkan. Kehidupan yang abadi dan sejati adalah kehidupan di alam akhirat yang akan dimulai dengan hari kiamat.

Karena itu menurut konsep Islam kehidupan di dunia bukanlah tujuan, melainkan tempat bertanam, tempat mencari bekal bagi kehidupan abadi di akhirat nanti. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Namun kehidupan di akhirat sangat erat kaitannya dengan kehidupan singkat di dunia ini. Yang bakal dipetik di akhirat adalah hasil tanaman di sini, amal baik akan dibalas dengan pahala kebajikan dan amal buruk akan dibasas dengan ganjaran buruk pula:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS Al-Zalzalah, 99:7-8).

Segala kebaikan di dunia ini maupun di akhirat kelak dapat dicapai dengan senantiasa:

  1. Menjalin tali hubungan vertikal kepada Allah (hablun minallah) secara aktif, dengan meningkatkan iman dan ibadah, dan secara pasif dengan meninggalkan segala larangan-Nya.
  2. Menjalin hubungan horizontal antara sesama manusia dan makhluk lain (hablun minannas), secara aktif dengan melakukan berbagai aktifitas yang bermanfaat bagi sesama manusia, dan secara pasif tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna apalagi berakibat buruk bagi orang lain (QS Ali Imran, 3:112).

Gambaran dari hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah dan horizontal kepada sesamanya itu baik untuk kehidupan di dunia ini maupun di akhirat kelak adalah takwa (gabungan dari sikap batin iman dan sikap lahir amal sholeh). Allah memperingatkan:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS 2:197).

Sikap takwa yang senantiasa dianjurkan oleh Allah itu menampilkan manusia-manusia berakhlak karimah (mulia) yang selalu beramal sholeh. Kalau semua itu dijalankan dengan baik dan konsisten maka akan dapat diraih gool dari kehidupan muslim-mukmin yaitu “ridha Allah” sebagaimana senantiasa terungkap dalam pengakuan muslim-mukmin dalam shalatnya yang diabadikan Tuhan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al-An’am, 6:162)

“Tetapi (ia menafkahkan hartanya) karena mencari ridha Allah Yang Maha Tinggi.” (QS Al-Lail, 92:20).

Kalau Allah telah ridha maka akan tercapailah apa yang diidamkan setiap muslim-mukmin yang senantiasa berdoa.

 

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah, 2:201).

 

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS Al-Baiyinah, 98:8).

From → MPK Agama Islam

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: