Skip to content

Ringkasan Buku “EVOLUSI KEBUDAYAAN” Karya: Eko Wijayanto

Maret 12, 2012

Bagian 1

Skeptisme Darwin

Charles Darwin menulis teori-teorinya dalam buku The Origin of Species. Ia juga sudah tidak menulis buku lagi sejak tahun 1855. Hingga akhirnya Wallace menulis teori evolusi yang penerapannya sama seperti teori Darwin. Darwin merupakan orang yang pemalu dan suka merendahkan diri sendiri. Tahun 1840an, Darwin menderita sakit keras yang disebut dengan Chagas atau Bonafide. Sakit itu dimulai pada September 1837. Ia sakit karena teori-teorinya dan isolasi sosial. Namun, ia suka bekerja keras dengan jasa penulisannya di beberapa jurnal dan mengedit lima volume buku The Zoologi of the Voyage of H.M.S. Beagle, juga menulis tiga buku, yaitu The Structure and Distribution of Coral Reef, Geological Observations on the Volcanic Island, dan Geological Obsevation.

Ketakutan Darwin akan kecaman terhadap teori-teorinya terbukti dengan banyaknya orang yang menganggap teori Darwin merupakan penghinaan terhadap agama, walaupun begitu banyak pula yang menghormati dan memuji karya Darwin. Pada tanggal 1 Oktober 1846, Darwin membuat jurnal pertamanya. Lalu, tahun 1844 Darwin pergi dari London ke Desa Downe untuk mengasingkan diri. Ia juga meneliti  remis yang akhirnya masuk ke dalam subklas biologi Cirripeda. Karya-karyanya juga dianggap menentang terutama dalam hal teologi.

Ilmuwan pertama yang menciptakan teori evolusi bukanlah Dawrin melainkan kakeknya, yaitu Erasmus Darwin dalam bukunya yang berjudul Zoonomia (1794). Lalu, de Lamarck juga mengajukan teori evolusi pada tahun 1809. Lalu, buku Vestiges of The Natural History of Creation dari Chambers juga banyak ditentang. Kepercayaan-kepercayaan tersebut menghasilkan teori evolusi alam. Salah satu teka-teki dalam seleksi alam menurut Darwin adalah tidak mementingkan diri sendiri. Lalu, teka-teki lain adalah hereditas. Tidak seperti Lamarck, ia hanya berprinsip “it just does, trust me”. Teori-teori tersebut memang tidak memecahkan masalah sepenuhnya, namun setidaknya membantu kita dalam menyelesaikan misteri-misteri.


Masa Muda Darwin dan Era Victoria

Salah satu fenomena di Inggris pada abad sembilan belas adalah anak laki-laki yang tidak disarankan untuk mencari kesenangan seksual. Karena, hal itu akan merusak masa muda mereka dan menghancurkan pula orang lain. Gerakan Evangelis juga menandakan bahwa zaman itu sungguh ketat. Pada Era Victoria, ini disebut sebanagi hidup penuh perjuangan melawan nafsu dan untuk menguasai hasrat dari ego. Itulah keadaan yang harus ditempuh Darwin muda.

Awalnya Darwin direncanakan untuk menjadi dokter oleh ayahnya, Darwin lalu melanjutkan studinya di FK Universitas Edinburgh. Di sana, ia bertemu dengan pemercaya evolusi yang bernama Grant yang juga merupakan ahli spons. Lalu, ia mulai diserahkan oleh ayahnya yang seorang oritarian untuk merilis karier di bidang agama karena ketidakpuasannya dalam melanjutkan pendidikan di FK. Karena, pertanyaan praktis dari ayahnya juga belum terpecahkan, misal, siapakah pencipta alam semesta ini – apakah pengarang semua ini adalah tuhan atau ini smeua hanyalah proses yang tidak disadari? Lalu, Darwin melanjutkan pendidikannya ke Teologi Universitas Cambridge. Lulus dari sana, beliau lalu bekerja menjadi naturalis amatir di HMS Beagle yang akhirnya menjadi penemuan cara evolusi bekerja.

Pertama-tama, Darwin menyatakan seleksialam dalam sepuluh kata, yaitu multiply, vary, let the strongest and the weakest die yang artinya banyak, beragam, serta biarkan yang terkuat hidup dan yang terlemah mati.

 

Orang-orang Barbar dan Primitif

Kesadaran Darwin tentang kebiadaban jauh lebih meningkat dengan sebuah percobaan antarbudaya. Permasalahan pertama yang dihadapi adalah setiap orang mencari sisi evolusi sampai kepada perbedaan moralitas tersebut.Darwinmenulis dengan beberapa kebingungan dari “kemustahilan peraturan tingkah laku” yang tergambar.Darwinmemercayai bahwa ras mempunyai perbedaan-perbedaan mental sejak lahir, beberapa diantaranya bersangkut paut dengan moral. Walaupun kaum terpelajar pada abad 19 berpendapat tentang keberatan mereka bahwa ras-ras yang dimaksud bukanlah ras secara keseluruhan melainkan spesies (manusia).Darwintetap memercayai perubahan moral ditanamkan dalam sifat manusia yang sama.

Darwinpercaya bahwa orang yang berbeda mempunyai perbedaan peraturan dan perbedaan norma yang didasarkan kepada kepentingan komunitas tempat ia berada.Darwintetap meyakini bahwa tidak seorang pun dari orang yang tidak beradab akan mengganggu kita dalam lingkup moralitas manusia. Ia juga mencatat kenyataan bahwa umat manusia membawa tingkah laku moral ke dalam tingkatan yang unik.

 

Kejayaan Darwin

Darwinadalah seorang ilmuwan yanhg ideal. Ia dapat menjadikan teori evolusinya juga bergerak dalam ilmu sosial. Sehingga, pada tahun 1882, namanya menjadi terkenal di seluruh dunia. Lebih lagi, dia dimakamkan di dekat makam Isaac Newton di Westminster Abbey.

Lalu, bagaimana dengan Wallace?Darwintetap lebih tenar walaupun mereka berdua memublikasikan teori yang sama.Darwinmemiliki pandangan yang sama dengan Machavelli. Yaitu, memperoleh ilmu demi mendapatkan ketenaran.

Ambisi menjadi bagian dari diri Darwin. Ia pernah mengkhayal menjadi penulis yang lebih hebat daripada Jenyns dan namanya disimpan di Stephens jilid terakhir – tentunya setelah ia melakukan observasi ilmiah.

Namun, sebenarnya ia  adalah seorang yang inferior. Ia merasa bahwa menghormati pendapat prang lain dan mengolok diri sendiri adalah hal yang penting. Ia pernah meraskaan kebanggaan, namun ia mengolok dirinya sendiri.

Maka, peningkatan status membawa dampak positif bagi konstelasi diri sendiri. Orang-orang yang terkenal dan tidak mungkin saja akan bergeser karena hal tersebut. Contohnya pada kasus penghargaan profesional dan mendapat perhatian dari Geolog Adam Sedgwick. Namun, ia tidak lupa dengan kekurangan dirinya. Contohnya saat ia membalas surat dari Fox namun menurutnya surat tersebut tidak bermakna. Lalu, ia adalah pengagum Geolog Lyell. Sehingga, saat ia bertemu langsung dengannya maka ia merasa bahwa kesempatan itu terlalu berharga untuknya.


Tertundanya Teori Darwin

Darwinadalah orang yang bermental baja namun tetap berhati-hati. Ini terbukti saat ia ingin memublikasikan judul buku yang berisikan teori psikologi bernama The Origin Species. Namun, ia juga harus memerhatikan keselamatan diri dan keluarganya,. Karena, banyak juga yang mengecamnya.

Ada beberapa strategi yang dilakukan Darwin. Pertama adalah mengevaluasi diri sendiri melalui refleksi kritis – sesuai dengan pribadi dirinya. Kedua adalah menguatkan kepercayaannya melalui profesor dan Guru SMA. Terakhir adalah mendapatkan dukungan untuk mempertahankan status sosialnya dari orang-orang tertentu, seperti Lyell, Thomas Huxley, Asa Gray, serta teman-teman lainnya. Karena, yang mengecam ternyata tidak hanya dati kalangan biasa atau atas, tetapi juga kalangan bawah.

Masa kritis Darwin terjadi pada tanggal 18 Juni 1858. Saat itu ia sedang bermasalah dengan Wallace – teorinya sama. Yang membedakannya adalah jumlah halaman. Untuk menghilangkan frustasi ini, maka Lyell yang dibantu oleh Gray melakukan konsultasi dengan Hooker. Penyelesaian masalahnya adalah dengan berdiskusi dan melihat ketepatan serta kecepatan pembuatan teorinya. Alhasil, Dawrin menang dan justru Wallace tidak kecewa terhadap hasilnya.

Bagaimanapun juga Darwin adalah sosok manusia biasa. Ia juga memiliki hati nurani, Sehingga, teori seleksi alam yang memaksa dia untuk tetap menjaga nama baik dirinya serta Wallace bekerja dengan baik. Lalu, ia telah memilih hubungan persaudaraan dan pertemanan yang tepat – bagaimana memilih teman yang selalu mendukungnya di kala senang maupun sulit.

 

Pernikahan Darwin dan Reproduksi dalam Pernikahan

Masa pernikahan di Inggris pada tahun 1830an adalah masa pernikahan yang buruk. Terbukti bahwa ada data yang menyebutkan rata-rata empat pasangan bercerai dalam setahun. Namun, hal ini tidak terjadi dalam diri Darwin. Ia memiliki keluarga yang luar biasa. Bahkan, anak-anaknya berpendapat bahwa keluarga mereka adalah keluarga yang luar biasa.

Ada tiga pilihan yang menjadi calon tunangan Darwin. Saat itu mereka semua adalah saudara sepupu Darwin. Mereka adalah Charloutte, Fanny, dan Emma. Charloutte tersingkir karena saat Januari 1832 ia sudah menikah. Fanny meninggal muda, bahkan Darwinpun tidak menyadarinya. Lalu, sebelum ia melamar Emma, ia lebih dahulu meningkatkan status sosial dengan perjalanan ilmiahnya yang dilakukan di Inggris Raya.

Darwin sempat galau saat ia ingin menikah. Hanya terdapat dua pertanyaan : ya atau tidak. Lali, ia akhirnya memutuskan untuk menikah karena tidak mungkin ia bekerja terus-menerus. Walaupun ia sudah biasa menyendiri – terutama untuk menyelesaikan masalah ilmiahnya – namun ia juga butuh sosol pengkhayal yang tidak hanya bisa menghasilkan keturunan, tetapi juga faktor-faktor lainnya seperti cerdas, baik, dan sebagainya. Akhirnya, pada tanggal 11 November 1838 ia memilih Emma.

Lalu, mendapatkan wanita pujaan belum menyelesaikan penelitiannya. Masih ada satu masalah lagi, yaitu memaknai cinta. Apakah cinta itu hanya pelampiasan nafsu seksual? Atau adakah hal lain selain itu? Lalu bagaimanaa dengan fungsi manifes maupun laten dari lembaga keluarga? Teori evolusi menjawab ini dengan seleksi alam : ketika pertumbuhan manusia dengan gennya bergerak secara biologis  – hormon apa yang mendorongnya untuk bergairah ketika menemukan lawan jenisnya yang disukai. Maka, memang benar – cinta tidak hanya sebuah ajang pertarungan ketika suami dan istri melakukan hubungan sakralnya di atas tempat tidur.

 

Bagian 2

Kekerabatan dalam Perspektif Darwinian

Kekerabatan adalah hal yang penting. Lalu, sudah satu komponennya adalah gen. Penelitian yang dilakukannya oleh W.D. Hamilton tentang seekor tupai yang memberi peringatan kepada keluarganya sebagai tanda bahwa bukan merupakan bunuh diri. Hal ini dinamakan dengan kin selection atau seleksi keluarga. Maksudnya, untuk bertahan hidup setiap makhluk akan mengorbankan beberapa darinya untuk mempertahankan keturunan atau kerabatnya yang akan selamata. Begitu juga dengan manusia. Bahkan, Haldore pada tahun 1955 meneliti bahwa orang berbuat baik karena adanya dorongan gennya. Lalu, sinyal tolong menolong yang notabene merupakan amal tanpa pamrih itu bernama fenomon.

Ada hitungan matematika batu dalam hubungan kekerabatan. Model matematika ini ditemukan oleh Hamilton. Model matematika ini disusun untuk mengetahui seberapa besar pengorbanan diri atau altruisme terhadap orang-orang di sekitarnya. Rumus yang dipakai adalah rB-C<0 ; di mana C adalah koefisien hubungan, B adalah keumtungan dominan, dan C adalah kerugian pada penundukkan. Misalnya, hasil pada manusia menunjukkan bahwa nilai terhadap orang tuanya adalah ½, kepada sudara sepupu 1/8, dan sebagainya. Bahkan, seekor semut memiliki nilai ¾ dalam hubungannya dengan semut lainnya.

Pengorbanan setiap manusia juga memiliki kelemahan yaitu terbatas. Misalnya, ketika mengajarkan anak tentang berbagi bersama. Mungkin hal ini menjadi sulit karena di saat bersamaan anak-anak justru berebut perhatian orang tuanya. Namun, apabila ada kejadian yang berbeda – misalnya adik jatuh dan mengangis, maka kakak akan melindunginya. Menurut Darwin, kepribadian ini terbentuk oleh ada ada atau tidaknya konflik di sebuah arena.

Ada beberapa konsekuensi dalam rumus ini. Salah satunya adalah potensi reproduksi. Potensi reprosuksi pada seseorang yang subur menjadi pegangan kuat untuk mempertahankan atau memperkuat status sosialnya. Lalu, ada pula konsekuensi tentang kesetaraan jender. Trivers dan Willard berkata bahwa anak laki-laki harus lebih mementingkan anak perempuan.

Potensi reproduksi menjadi hal penting dalam beberapa kasus. Apabila potensi reproduksi hilang Karena-Nya, maka kita akan berduka lebih dalam. Misalnya, mungkin kita akan lebih sedih mendengar anak kita yang berusia tujuh belas tahun ketimbang mendengar kakek kita yang wafat. Karena, saat berusia tujuh belas si anak telah memiliki potensi reproduksi terbaik dan masih banyak kehidupan yang harus dilaluinya.

 

Altruisme

Ada pertanyaan-pertanyaan tentang altruisme. Salah satunya adalah simpati terhadap penderitaan orang lain. Darwin mengatakan bahwa simpati merupakan bawaan gen yang bersifat turun-temurun. Lalu, Darwininan lain bernama William (1966) memaksa agar penganut teori ini untuk merefleksikan kembali pemikiran ini. Akhirnya, kesimpulannya adalah simpati dapat dipelajari dan bukan merupakan warisan gen.

Ada teori permainan – yaitu teori strategis untuk membantu manusia dalam politik dan ekonomi. Teori ini juga dipertimbangkan melalui dilema napi – yaitu dilema yang menyatakan tentang pengorbanan diri atau rekan untuk bertahan hidup. Darwin berkata bahwa hal ini harus dilakukan dengan meminimalisasi kerugian dan memaksimalkan kemungkinan terbaik. Namun, manusia adalah makhluk yang setiap saat bisa berkhianat dan melupakan altruismenya.

Ada pula teori non-zero sumness. Teori ini membicarakan tentang pembalasan yang tidak seimbang. Dalam dilema napi, hal ini memiliki arti berbeda dan membutuhkan pembagian kerja. Dilema napi juga tidak menjelaskan tentang eksistensi dari teori altruisme resiprokal atau saling berbalas pengorbanan.

Lain lagi dengan teori Tit For Tat. Tit For Tat berasal dari kata satu pukulan dibalas satu pukulan. Rapoport dan Axelrod menemukan teori ini. Teori ini bertujuan untuk menyeimbangkan hasil dari altruisme resiprokal. Tetapi, ketika musuh berkhianatm Andapun bisa mengkhianati balik. Sehingga ada sifat pewarisan antar gen dalam hal ini (karena hal ini diwariskan dan disosialisasikan) serta adanya sistem altruisme resiprokal.

Altruisme resiprokal tetap diperlukan manusia. Karena, tanpa adanya hal itu manusia akan punah. Perbedaan altruisme antara manusia dengan binatang adalah insting dan unsur simpati. Bahasa menjadi kunci utama dalam hal ini. Serta, altruisme ini tidak hanya terjadi dalam  kekerabatan tapi dalam hal lainnya yang disebut kompleksitas kognitif.

 

Seleksi Seksual dan Logika Seleksi Kelompok

Teori seleksi alam juga berisikan tentang bagaimana manusia dapat bertahan hidup karena saling tolong-menolong atau melakukan altruisme resiprokal. Sifat egois dapat menyebabkan suatu kelompok binasa. Namun, hal-hal seperti kebingungan dalam konteks peengorbanan diri terhadap kelompok atau bagaimana kelompok dapat terseleksi belum terpecahkan.

Semakin banyak anak maka semakin banyak rezeki. Ini adalah ungkapan yang sering kita dengar. Hal ini tentu salah karena tidak mengacu kepada kualitas anak sama sekali. Ungkapan ini menjadi modal dalam teori evolusi, yaitu pertarungan lintas kelamin.

Ada beberapa teori penunjang, yaitu hipotesis seleksi sesksual yang merupakan  bagian dari mekanisme alam sesuai dengan perhitungan Malthus. Lalu, ada paradigma evolusi berisikan teori gen egios – ketika aktor (agen) dari evolusi adalah spesies, maka ada pula yang mengatakan bahwa aktor (agen) evolusi adalah gen (dengan analisis gen egois).

Setiap gen adalah bebas dan bersifat egois – yang merupakan hasil dari replikasi diri. Karakter egois dapat memunculkan kerja sama sosial yang menjadi fakta biokimiawi. Namun, kerja sama bisa menjadi pemicu konflik karena perbedaan konflik dan penguasaan sumber daya baru.

Reproduksi seksual adalah evolusi dan replikasi organisme, yaitu mutasi dan parasit. Mutasi lebih bermakna dari pada oarasit – mengacu pada perspektif evolusi. Ini juga mengacu pada normalisasi resesif. Lalu, laki-laki cenderung berkompetisi lebih besar. Karena, perempuan hanya berperan sebagai ‘penerima’ – walaupun begitu, kehadirannya penting untuk kualitas kelahiran anak. Laki-laki juga diciptakan untuk mendapatkan perrempuan yang subur.

Lalu, ada persaingan antara perkawinan dengan parental investmen. Ketika laki-laki lnih membutuhkan perkawinan untuk alat pemuas kebutuhan seks, maka perempuan lebih mementingkan investasi orang tua. Namun, faktanya gen mengatur proporsi mengenai hal ini.

Ada dua dalam seleksi seksual. Pertama, seleksi intraseksual. Ini adalah kemampuan salah satu jenis kelamin yang umumnya jantan untuk berkompetisi dengan sesamanya demi pembuahan. Kedua, seleksi interseksual, yaitu sifat salah satu jenis kelamin yang menjadi faktor penarik perhatian bagi lawan jenis (Wijayanto, 2010 : 61).

 

Sosiobiologi, Determinisme dan Moral

Bab ini mengulas tentang karangan Sociobiology yang dikarang oleh Edward O. Wilson. Ini bersisi tentang pertanyaaan-pertanyaan kontroversial seperti, “Apakah selingkuh merupakan hal yang wajar?” ; “Apakah seseorang yang kuat selalu menindas yang lemah?” . Fokus dua hal dalam konteks ini terdapat pada determinasi genetik dengan determinisme biologi.

Hal ini terkandung dalam relasi rasa benci dan kasih sayang. Kita pasti mempunyai rasa benci – namun benci yang seperti apa dulu? Benci berkepanjangan (dendam) atau tidak (kesal)? Lalu, kasih sayang tak bersyarat menurut Mill adalah cinta ikhlas.

Determinisme genetik dan determinisme biologis. Determinisme adalah penundukan terhadap seseorang atau sekelompok orang. Hal ini sebenarnya baik karena dapat mengarahkan individu menuju jalan yang lurus namun dapat berarti terlalu mengekang.

Lalu, ada kasus mengenai moral dan hukum. Moral memiliki implikasi yang lebih kuat ketimbang hukum. Misalnya, apabila ada orang yang diperlakukan seperti binatang, maka ia akan meluapkan emosinya sebesar-besarnya hingga akhirnya moralitas tidak dapat mengekang dia. Lalu, seseorang yang membiarkan temannya berlaku menyimpang juga merupakan hal yang dama buruknya – yaitu, moral buruk. Namun, menurut Mill penyimpangan primer tidak menjadi hal yang signifikan dalam konteks ini.

Ada konsep baru yang diperkenalkan oleh Mill, yaitu tirani mayoritas. Ini mencakup masyarakat yang memiliki kekuatan tidak terpilih dan dapat melakukan hal-hal mengerikan tanpa adanya kontrol etika dan moralitas. Liberalisme menjadi salah satu kasus utama. Lalu, ada lagi konsep schadenfreude atau utiliarinisme. Intinya, masyarakat sepenuhnya diizinkan untuk menekan tindakannya dan tidak berkewajiban untuk memanjakan dirinya. Apabila ada suami istri yang ingin bercerai – maka diharuskan agar kedua belah pihak berbahagia setelah perceraian.

 

Hati Nurani Darwin

Darwin adalah seorang pemerhati moral. Moral yang dibentuk olehnya terjadi karena hati nuraninya. Ia bahkan memiliki kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri – walaupun hal yang sekecil apapun. Bowbly sendiri yang berpendapat mengenai hal ini.

Kohlberg sendiri meneliti tentang perkembangan moral manusia. Penelitiannya menghasilkan tentang data tentang hal yang biasa ke etika. Ini juga menandakan bahwa hati nurani bergantung kepada diri sendiri, sosialisasi orang tua, dan sosialisasi lingkungan. Bahkan, Darwin sendiri menambahkan bahwa moral dan individu terdapat pada sifat penurunan gen.

Lalu, bagaimana dengan moral kognitif? Moral negatif adalah sesuatu yang sebenarnya menyimpang – dalam konteks tidak diharapkan orang banyak. Moral ini juga dapat diwariskan bukan hanya karena teori gen dari Darwin, melainkan dari pola pengasuhan anak dan sosialisasi anak. Misalnya, apabila orang tuanya pembohong maka anaknya juga akan menjadi pembohong.

Ada lagi hal yang paling terkait dengan Victoria. Menurut Samuel Smiles, esensi dan karakter Victoria adalah kebenaran, integritas, dan kebaikan (Wijayanto, 2010 : 75). Integritas berada dalam karakter dan merupakan konsepsi self-help. Ada dua alasan mengapa hal ini penting. Pertama, karena pengalaman yang tidak bisa dilepaskan. Kedua, karena hal itu dapat membuat orang lain senang terhadap kita. Karena konsepsi tadi, maka Daly dan Wilson menemukan konsep waktu singkat cakrawala untuk beradaptasi dalam informasi prediktif sehingga dapat sukses di masa depan nanti. Intinya, alat ukur utama dalam Victoria ini adalah hati nurani. Individu bisa diukur melalui hati nuraninya untuk melakukan moralitas.

 

Pasar Perkawinan

Bab ini menjelaskan lebih banyak tentang perkawinan. Hal pertama yang dibahas adalah poligami. Ada dua jenis kebudayaan. Pertama adalah ecological imposed yaitu monogami dari unstratified yang melihat kebudayaaan memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kedua adalah socially imposed, yaitu kebudayaan yang telah kaya. Pada sejumlah kasus ditemukan bahwa laki-laki adalah produk poligami. Karena, ketika ada banyak istri, di situlah ladang uang berada.

Monogami dan poligami merupakan hal yang berlawanan namun juga berhubungan. Ketika sejarah monogami ada sejak kaum miskin dan tertindas dan proses kristenisasi, maka perspektif ini menjelaskan dengan contoh kasus. Misalnya, ada seribu orang yang tinggal, ketika masyarakat tersebut terbagi menjadi dua, yaitu lima ratus pria dan lima ratus wanita. Kemungkinan terbesar adalah monogami. Namun, apabila ada pria kurang beruntung – maka pria yang beruntung berpeluang berpoligami.

Monogami juga sebenarnya bermanfaat untuk mencegah moral buruk. Karena, ada penelitian yang mengatakan bahwa kemungkinan membunuh pada pria yang belum menikah sebanyak tiga kali dari pada pria yang telah menikah. Contohnya, mungkin saja karena praktek poligami yang berlebihan dan banyak menyebabkan pria yang kurang beruntung melakukan moral buruk seperti pencurian dan perkosaan – sebuah contoh relevan yang menyangkut kepada seksualitas juga. Namun, di Amerika ada kasus yang berbeda, yaitu monogami berkelanjutan.

Ada sebuah dilema yang tidak dapat ditinggalkan. Yaitu, bagaimana moral ideal Dawrin dapat diterapkan dalam hal ini. Sebenarnya, ini telah menjadi perdebatan sejak dulu  – sejak zaman konservatif versus liberal. Hal ini juga memiliki solusi seperti melihat melalui perspektif makrososiologi atau institusi sosial, misalnya. Namun, hal ini tidak terlalu banyak membantu. Ada pula sejumlah kasus yang menyatakan bahwa anak yang tidak diasuh langsung dengan orang tuanya akan memiliki dampak yang lebih kuat. Hali ini mennunjukkan peluang untuk melakukan moral buruk.

Aturan yang mengikat atau sekumpulan nilai-nilai yang dibabukan dapat membantu individu-individu melakukan moral yang baik. Lalu, timbul berbagai pertanyaan pada akhir bab ini. Contohnhya adalah, “Apakah perilaku individu dipahami sebagai produk dari pikiran yang terdiri atas seikat adaptasi?” – terkait dengan teori Darwin serta Tooby dan Cosmides.

 

Status Sosial

Bab ini menjelaskan tentang setidaknya asal-usul status dan hierarki sosial. Pada suku Ache di Amerika Selatan, berburu dan meramu menjadi pekerjaan utama (tentu saja saat mereka masih memakai sistem determinisme cultural). Namun, mereka terbagi menjadi dua, yaitu pemburu terbaik dan pemburu terburuk. Hal ini menyebabkan perbedaan sumber daya dan adanya – setidaknya sedikit konsep prestige pada masyarakat tersebut. Kasus ini juga kerap ditemukan pada suku Pygme di Afrika Tengah – Ketika kaum Kombeti, yaitu orang-orang yang cukup kuat dan terhormat juga dianugerahi prestige pada masyarakat tersebut.

Hierarki akan terus ada dan terus menjadi fenomena. Pada manusia, mungkin orang yang mengatur hierarki adalah raja. Lalu, Williams memasukkan konsep hierarki dengan adaptasi dan evolusi alam. Ia berkata bahwa binatang yang hidup – karnivora maupun arthropoda apabila ingin berjaya (dalam perebutan berbagai sumber daya) harus mengalahkan pejantan lain yang disebut Alfa – Sparrows. Ia juga menambahkan bahwa burung yang berwarna gelap lebih dominan daripada burung berwarna terang yang lebih pasif.

Makhluk hidup yang dominan memiliki neurotransmitter serofonin yang lebih kuat. Ini tidak hanya ditemukan pada spesies-spesies seperti primata, namun juga pada manusia. Manusia yang memiliki serotonin yang tinggi cenderung supel, easy going, cerdas, dan seterusnya. Sedangkan manusa yang memiliki serotonin rendah cenderung kebalikannya.

Manusia terdiri dari pria dan wanita. Pria, bagi pria lain merupakan rival – untuk mendapatkan berbagai sumber daya yang terbaik dan dapat menunjang kehidupan. Lalu, wanita sebagai pengurus sumber daya juga mempunyai andil-andil tertentu, yanitu berhak untuk dinafkahi, misalnya.

Lalu, bagaimana dengan primata? Ada penelitian yang mengungkapkan bahwa dalam primata juga ada konsep hierarki ketika terdapat respect yang membedakannya. Jane Goodal meneliti seekor primata yang dinamakan Mike. Dia telah mendapat respect dari teman-temannya karena telah menjatuhkan kaleng minyak secara mandiri. Lalu, De Waal juga meneliti tentang drama pada primata. Intinya, penelitiannya menyebutkan bahwa ada kesetaraan jender pada primata-primata dengan catatan perbedaan hierarki berdasarkan respect.

 

Penipuan dan Menipu Diri sebagai Dasar Sosial

Manusia adalah makhluk yang selalu menuntut imbalan – walaupun hati nuraninya sendiri bahkan berkata agar selalu ikhlas dalam bertindak. Biasanya, individu melakukan hal ini karena ia ingin dipercaya oleh individu-individu lainnya. Namun, hal ini harus berbuah menjadi suatu altruisme resiprokal. Goffmanlah yang menyatakan teori ini. Hal ini juga menjadi bukti bahwa kebaikan tetap ada persaingan.

Persaingan menghasilkan dua jenis kaum. Pertama adalah kaum elit, yaitu kaum pemenang yang berkuasa dan berada di atas. Kedua adalah kaum miskin yang selalu kalah. Kaum miskin ini secara faktual mengalami frustasi berat atau penurunan nilai diri (self deflation). Sehingga, banyak di antara mereka yang tidak mau berjuang lagi karena putus asa. Hal ini dapat menyebabkan mereka punah.

Penipuan diri menjadi penting walaupun hal itu menunjukkan bahwa manusia itu egois. Namun, itu menjadi pendorong manusia untuk berbuat baik. Lalu, penipuan diri terjadi karena dua faktor. Pertama adalah inflasi moral. Maksudnya, kenaikan moral menyebabkab rasa iba untuk menolong orang lain. Kedua adalah kesadaran berpikir dengan komponen otak kanan sebagai reseptor dan otak kiri sebagap pemberi alasan.

Efek altruisme menjadi perdebatan yang sengit. Perdebatan itu bahkan menghasilkan empat jawaban. Yaitu, dua pro dan dua kontra. Dan dalam empat hal tersebut juga tercipta dua hal, yaitu argumen bagus dan argumen absurd. Intinya, perdebatan ini memperdebatkan tentang penipuan diri yang mengacu (dan selalu mengacu) kepada egoisme.

Teori kebermanfaatan menjadi hal utama dalam hal ini. Teori ini menyebutkan bahwa apapun hal yang kita lakukan harus bermanfaat. Hal ini merupakan contoh dalam persahabatan dan sikap kolektivitas dalam sekelompok manusia. Apabila suatu kelompok melakukan hal yang tidak baij, dan apabila individu di dalamnya kontra dengan apa yang dilakukan oleh kelompoknya, maka hal ini menjadi ketidakjujuran kolektif.

Ikatan persahabatan terjadi karena dua faktor, yaitu aspek kehidupan dan musuh. Persahabatan yang baik terjadi karena persahabatan yang positif. Misalnya, Ardi dari dulu berteman dengan Abi. Lalu, persahabatan karena musuh terjadi karena konteks negatif. MIsalnya, Ardi dan Riandi. Walaupun mereka berdua baru saling kenal di Stadion Lebak Bulus – mereka sebagai laskar Cisadane (pendukung Persita) akan marah dan muak apabila menerima hasil kalah 2-1 dari Persikota. Bahkan, mereka berdua bisa terikut dalam kelompok tawuran.

 

Sinisme Darwin dan Peranannya bagi Ilmu Pengetahuan

Manusia adalah makhluk yang gemar mencari status. Karena status itulah yang menjadi pedoman manusia untuk dihormati atau menghormati. Ketika ada seseorang yang turun status, maka rasa hormat kita mungkin akan berkurang. Hal ini disebut sinisme. Freud menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai kelicikan.

Darwin adalah orang yang ‘senang’ mengkritik dirinya. Tetapi, itu memang menjadi kepribadiannya – arogansi yang memunculkan ketidakraguan. Menurutnya, intelektualitas dan keraguan diri berasal dari frustasi sosial dan dapat menjalankan fungsi kontrol. Kedua hal tersebut seperti dua sisi berbeda dalam satu koin.

Asumsi bahwa anak tidak aman jika dibiarkan keluar sendirian. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa hal ini adalah kekhawatiran orang tuanya. Psikolog dalam hal ini telah menguji apakah hal ini berpengaruh dalam teori perkembangannya. Hal ini juga menunjukkan bahwa adanya eksistensi evolusi – sehingga terciptalah psikologi evolusioner.

Intinya, hal ini menyebutkan kepada kita terhadap tiga hal. Yaitu, melupakan fakta tidak nyaman dapat memberi kita kekuatan. Kedua, argumen genetik menjadi sumber pengetahuan. Ketiga, menurut Fredus model pikiran manusia seperti labirin.

Freud berpendapat bahwa paradoks manusia adalah binatang yang bersifat sosial. Ketika ia memiliki sifat egois, maka itu bisa menjadi tempat untuk berprimordial, hal-hal yang baik, bahkan konflik. Maclean sendiri emnyebut dengan perspektif biologi – otak manusia adalah triune. Yaitu, a reptilian core (dasar), paleomammalian (leluhur dan kasih sayang),  dan neomammalian (abstrak, bahasa, dan kasih sayang di luar keluarga). Freud juga menambahkan bahwa Id merupakan binatang buas dalam bawah tanah berasal dari reptillian superego atau hati nurani menjadi pengendali untuk melakukan sesuatu. Ego adalah bagian pokok atau tengah. Paradigma ini bertujuan untuk mengatur integrasi sosial dan memanajemen konflik (karena kita tahu bahwa konflik tidak akan pernah hilang selama hidup – hanya bisa diatur).

Banyak orang yang berasumsi bahwa Dawrin adalah pemikir yang lebih progresif dibanding dengan Freud. Jika Freud menekankan kesulitan tentang keberadaan diri sendiri terhadap lingkungannya, namun Darwin memunculkan kesulitan dalam melihat kebenaran, yaitu periode. Terjadi dua hal, yaitu sinisme modern yang berputus asa dan postmodern yang selalu memunculkan pemikiran baru dan optimis.

Darwinisme selalu memunculkan deskriptif dalam postmodern. Pemikiran ini juga berbingkai normatif. Sehingga, hal ini dapat menyelesaikan berbagai masalah. Misalnya, rasisme yang ada di Afrika Selatan. Tidak hanya itu. Darwinisme adalah paham yang hebat. Walaupun ia memunculkan teori ini itu, namun ia berusaha menjalankan otokritik – suatu hal yang amat sangat jarang ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan lain, bukan? Hal ini juga seharusnya menjadi panutan bagi orang-orang di bidang lainnya.

 

Darwinisme Universal

Bab ini cukup singkat. Isinya tentang Darwinisme universal. Pertama, berangkat dari ide Darwin yang terdiri dari tiga hal, yaitu hereditas, variasi, dan evolusi sebagai algoritma. Setidaknya mempelajari tentang tiga hal, yaitu psikologi, algoritma evolusi, dan algoritma genetik. Algoritma genetik dan algoritma evolusi dapat disimulasikan. Lalu, ada pula isi tentang substrat netral, prosedur ,mindless, dan logika prosedur yang ketiganya merupakan hal yang sangat berhubungan erat dengan ide Darwin.

Lalu, Dawkins yang merupakan penemu dua konsep. Yaitu, sebagai gen sebagai agen evolusi dan hipotesis seleksi alam universal. Terakhir Susan Blackmore mengucapkan dengan takjub “It (Darwin”s theory of evolution) is beautiful because it is so simple and yet its result are so complex”. Intinya, bab ini membicarakan tentang ilmuwan-ilmuwan yang terpengaruh secara universal oleh Darwin.

 

From → Review

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: