Skip to content

MANFAAT LOGIKA BAGI ANTROPOLOGI

Desember 31, 2011
  1. Logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah (Mundiri, 2008: 2).
  2. Antropologi menurut Prof. Dr. Meutia F. H. Swasono adalah studi tentang manusia dan kebudayaannya (arti luas), mengenai:
  • Kapan saatnya manusia muncul di bumi
  • Evolusi manusia dan perkembangan manusia (evolusi fisik, terbentuknya ras-ras)
  • Perkembangan dan perubahan kebudayaan (perkembangan cara hidup & adat-istiadat)
  • Rasional dari perilaku manusia, pola  pikir, simbol dan makna yang diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar
  • Reponsnya terhadap YMK dan alam semesta serta isinya, termasuk sesama manusia
  • Cara-cara manusia berespons terhadap alam atau pun menguasai alam, intinya: mempelajari tentang perilaku manusia dalam merusak maupun memelihara alam dan isinya.

 

Dua pengertian diatas dicatat sebagai awal pembahasan paper “Manfaat Logika Bagi Antropologi” agar pembaca mempunyai gambaran awal apa itu “logika”, apa itu “antropologi”, dan mengapa menggunakan logika itu penting dalam ilmu antropologi.

Banyak manfaat yang diperoleh dengan mempelajari logika. Apalagi bagi orang yang bergelut di bidang keilmuan seperti dosen dan mahasiswa. Apapun disiplin ilmu yang digeluti tidak akan lepas dari logika karena keseluruhan informasi keilmuan merupakan suatu sistem yang bersifat logis (Mundiri, 2008: 17).

Banyak sekali manfaat dari logika bila dikaitkan dengan antropologi, terutama dalam metode ilmiah dari antropologi. Sebagaimana diketahui bahwa metode ilmiah dari ilmu pengetahuan adalah cara yang digunakan ilmu tersebut, untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan (Koentjaraningrat, 2009: 35). Tanpa metode ilmiah, suatu ilmu pengetahuan tidak bisa disebut sebagai ilmu, tapi hanya suatu himpunan pengetahuan saja, baik itu tentang gejala yang ada di masyarakat maupun di alam. Menurut A. Wolff suatu kesatuan pengetahuan itu dapat dicapai oleh para sarjana ilmu yang bersangkutan melalui tiga tingkat, yaitu 1) pengumpulan data, 2) penentuan ciri-ciri umum, dan 3) verifikasi (Koentjaraningrat, 2009: 35).

 

1. Pengumpulan Data

Dalam ilmu antropologi, tahap pengumpulan data/fakta merupakan basic dari disiplin ilmu ini. Fakta yang dikumpulkan pada tahap ini adalah gejala/kejadian masyarakat dan kebudayaan, sesuai dengan objek dalam antropologi yang telah disebutkan di awal paper. Fakta ini kemudian diolah secara ilmiah. Aktivitas pengumpulan fakta ini terdiri dari berbagai metode, seperti mengobsevasi, mencatat, mengolah, dan mendeskripsikan fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Metode pengumpulan fakta dalam ilmu pengetahuan juga dapat digolongkan ke dalam tiga golongan, yaitu: penelitian di lapangan, penelitian di laboratorium, dan penelitian dalam perpustakaan (Koentjaraningrat, 2009: 35). Untuk ilmu antropologi, penelitian lapangan merupakan cara yang paling penting dalam mengumpulkan data/fakta. Selain itu penelitian di perpustakaan juga penting untuk penelitian antropologi. Sedangkan penelitian di laboratorium yang merupakan metode penelitian yang utama dalam ilmu-ilmu alam dan teknologi, tidak terlalu penting bagi antropologi.

Dalam penelitian lapangan, maka seorang peneliti akan langsung menceburkan diri dalam suatu masyarakat untuk mendapatkan keterangan tentang fakta-fakta yang ada dalam kehidupan manusia dalam masyarakat itu. Dalam antropologi metode penelitiannya lebih diutamakan yang bersifat kualitatif dengan sumber utama pengumpulan datanya adalah dari wawancara langsung dengan warga masyarakat dan data catatan hasil dari observasi lapangan.

Dalam pengumpulan data dari masyarakat sangat diperlukan logika. Peneliti secara langsung berinteraksi dengan masyarakat yang tidak ia kenal sama sekali, maka untuk menghindari konflik, peneliti harus menggunakan logikanya secara baik agar tidak salah paham dalam menilai pendapat masyarakat. Dengan logika juga peneliti dapat berpikir secara jernih dan netral, sehingga dapat melihat setiap kejadian dalam masyarakat secara objektif tanpa dipengaruhi oleh perasaan maupun keyakinan/agama yang dianut. Karena bila terpengaruh oleh perasaan dan keyakinan, maka seorang peneliti tidak akan dapat melihat suatu peristiwa secara gamlang, ia hanya melihat permasalahan dari perspektif yang ia miliki tanpa mempedulikan faktor-faktor lain yang menyebabkan suatu peristiwa itu terjadi. Logika penting untuk menghilangkan itu semua.

 

2. Penentuan Ciri-ciri Umum dan Sistem

Hal ini adalah tingkat dalam cara berpikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri umum dan sistem dalam fakta yang dikumpulkan dalam suatu penelitian. Proses berpikir disini berjalan secara induktif (Koentjaraningrat, 2009: 37). Pada tahap ini peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat ditarik ke arah konsep tentang ciri-ciri yang lebih umum yang ada pada masyarakat luas. Konsep tersebut adalah teori-teori yang di yang dikemukakan oleh para ahli antropologi yang telah diakui keilmiahannya.

Ilmu antropologi yang bekerja dengan bahan berupa fakta-fakta berasal dari sebanyak mungkin macam masyarakat dan kebudayaan dari seluruh dunia, untuk mencari ciri-ciri umum diantara beragam fakta masyarakat tersebut digunakan berbagai metode perbandingan/komparatif (Koentjaraningrat, 2009: 38). Metode kompraratif biasa dimulai dengan langkah klasifikasi. Dalam menangani objek dan data penelitian yang begitu beraneka ragam, peneliti harus bisa mengklasifikasikan jumlah keragaman tersebut sehingga hanya ada beberapa perbedaaan pokok saja. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemahaman bagi masyarakat luas yang melihat hasil karya ilmiah dari peneliti tersebut, apalagi jika jika karya ilmiah tersebut ingin dipublikasikan.

Dalam tahap mengklasifikasikan ini penting sekali bagi peneliti menggunakan logika. Sebagaimana fungsi logika yang membantu manusia berfikiragar lurus, efisien, tepat, dan teratur. Penggunaan logika disini agar tidak terjadi kesesatan berpikir yang justru mengarah pada pengklasifikasian yang tidak tepat. Dalam logika akan dipelajari cara mengklasifikasikan konsep atau pengertian secara tepat, mulai dari klasifikasi yang sederhana sampai klasifikasi yang kompleks sekalipun.

Sangat penting sekali bagi peneliti antropologi memperhatikan lima hukum klasifikasi dalam logika, yaitu:

  1. 1.   Klasifikasi harus lengkap
  2. 2.   Klasifikasi harus sungguh-sungguh memisahkan
  3. 3.   Klasifikasi harus menggunakan satu dasar yang sama
  4. 4.   Klasifikasi harus sesuai dengan tujuan yang dikehendaki
  5. 5.   Klasifikasi harus dilakukan secara rapi (Hayon, 2005: 40-46).

Dengan menggunakan hukum klasifikasi tersebut maka seorang peneliti tidak akan salah dalam mengklasifikasikan data/fakta yang diperoleh dalam penelitiannya.

 

3.   Verifikasi

Seperti pada ilmu-ilmu sosial lainnya, ilmu antropologi sebagian besar dari pengetahuannya bersifat “pengertian” mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan (Koentjaraningrat, 2009: 40). Verifikasi/pengujian ini dibutuhkan untuk memperkuat “pengertian” yang telah didapat dari kehidupan masyarakat.

Disini proses berpikir peneliti kembali berjalan secara deduktif. Rumusan-rumusan masalah yang telah ditarik  secara umum pada tahap kedua (penentuan cirri-ciri umum dan sistem) kembali diuraikan ke arah fakta-fakta yang khusus. Pengertian yang didapat coba diterapkan pada kenyataan yang ada pada beberapa masyarakat tertentu secara khusus dan mendalam.

Dalam tahap verifikasi ini diperlukan logika agar peneliti dapat berpikir rasional sehingga dapat menganalisis apakah “pengertian” yang didapat sudah sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam logika juga dipelajari kausalitas. Dengan mempelajari kausalitas dalam logika tersebut peneliti dapat mencari hubungan sebab akibat kenapa sebuah “pengertian” sudah atau belum sesuai dengan kenyataan yang ada. Dengan mempelajari kausalitas juga seorang peneliti dapat mencari solusi dari permasalahan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Demikianlah betapa pentingnya bagi peneliti menggunakan logika dalam penelitian antropologi. Jadi seorang antropolog harus secara sungguh-sungguh memahami kaidah-kaidah dalam logika yang akan dijadikan dasar cara berpikirnya agar karya ilmiah yang dihasilkan mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas.

 

Daftar Pustaka:

Hayon, Yohanes Pande. 2005. Logika. Jakarta: ISTN

Kuntjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. (Ed. Rev). Jakarta: PT. Rineka Cipta Mundiri. 2008. Logika. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

From → Antropologi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: