Skip to content

PEMBANGUNAN BERKESINAMBUNGAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

Desember 30, 2011

Pembangunan yang baik merupakan pembangunan yang berkesinambungan. Mengapa demikian? Itu karena konsep pembangunan berkesinambungan menempatkan pembangunan dalam perspektif jangka panjang. Konsep tersebut menuntut adanya solidaritas antargenerasi. Ini sesuai dengan pengertian pembangunan berkelanjutan/berkesinambungan menurut World Commision Environmental and Development (WCED) yang merupakan pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri (Soemiarno,2010:105).

Untuk mencapai pembangunan berkesinambungan tersebut, tentu saja dengan menerapkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembangunan yang berwawasan lingkungan diartikan sebagai upaya manusia dalam memenuhi kebutuhannya dengan cara memanfaatkan sumber daya alam yang ada sekaligus menjaga kelestariannya. Ada tiga faktor lingkungan yang penting untuk mendukung pembangunan yang berkesinambungan ini.

Pertama, terpeliharanya proses ekologi yang esensial (Soemiarno, 2010: 105). Contohnya, proses fotosintesis yang penting untuk menjaga kelangsungan hidup karena menghasilkan udara segar berupa oksigen. selain itu juga perlu adanya pengendalian populasi untuk menjaga keseimbangan antara jumlah manusia dengan sumber daya alam yang tersedia. Itu karena pada dasarnya sumber daya alam yang ada bersifat terbatas, bahkan kemampuan memperbaharui diri dari sumber daya alam yang bersifat dapat diperbaharui ada batasnya. Jadi, perlu kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam.

Kedua, tersedianya sumber daya alam yang cukup. Untuk menjaga agar sumber daya alam tetap mencukupi kebutuhan manusia, maka diperlukan peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya alam. Hal ini sangat penting dalam penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui. Bagi sumber daya alam yang dapat diperbaharui, peningkatan eksploitasi secara otomatis akan meningkatkan resiko kerusakan dan pencemaran sumber daya alam tersebut. Jika kerusakan tersebut sudah semakin parah dapat menyebabkan sumber daya alam tersebut tidak dapat diperbaharui lagi. Sedangkan untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, peningkatan eksploitasi akan mempercepat penyusutan sumber daya alam tersebut. Efisiensi yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko pencemaran dan penyusutan sumber daya alam tersebut, antrara lain adalah usaha daur ulang barang-barang bekas. Selain itu, perlu juga upaya mencari sumber daya alam alternatif untuk menjamin persediaan sumber daya alam dalam jangka waktu panjang, contohnya penggunaan biogas.

Ketiga, lingkungan sosial, budaya dan ekonomi yang cukup memadai. Faktor ini sangat penting karena setiap pembangunan dilakukan oleh dan untuk manusia yang hidup dalam kondisi sosial, budaya dan ekonomi tertentu., maka perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pembangunan yang berkesinambungan. Selain itu, perlu adanya adanya pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia agar tidak terfadi efek negatif yang domino, seperti ketimpangan ekonomi, tingkat pendidikan yang tidak merata, perbedaan status sosial yang akhirnya menyebabkan diskriminasi, tindak kriminal dan lain sebagainya.

 

 

Daftar Pustaka:

Soemiarno, Slamet, Hari Kartono, dan Susiani Purbaningsih. 2010. Bangsa, Budaya, dan  Lingkungan Hidup di Indonesia. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran   UniversitasIndonesia.

From → MPKT

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: